
"SAH"
Seruan dari orang-orang yang ada di rumah sakit, yang menyatakan 'sah', menandakan bahwa Arrida dan Uwais telah sah menjadi sepasang suami istri.
Uwais langsung sujud syukur kemudian menyalami kedua orang tuanya dan kedua orang tua Arrida, tak lupa semua yang ada di dalam ruangan rawat VVIP itu.
Pak Ridwan sangat bahagia. Tidak hanya itu saja, semua tampak gembira terlebih ketika melihat keadaan pak Ridwan yang semakin membaik.
πΌ
"Akhirnya kamu jadi istriku, kamu cantik banget!" kata Uwais pada Arrida. Mereka melakukan panggilan video, setelah acara akad selesai.
"Apa kakak suka dengan penampilanku?β tanya Arrida tersipu.
"Sangat suka, Alhamdulillah, istriku makin sholihah," puji Uwais tulus, dia sungguh terpana saat melihat penampilan Arrida yang mengenakan jilbab putih berbusana muslimah, sangat cantik dan menawan.
"InsyaaAlloh, doain istiqomah ya, Kak, mulai saat ini Rida mau mengenakan jilbab, kakak gak keberatan, kan?"
"Nggak, Cinta, aku malah bersyukur, ini adalah hadiah pernikahan yang luar biasa istimewa buat aku, terimakasih ya,"
Arrida mengangguk. Ia menampilkan senyumnya yang sangat apik.
"Oiya Cinta, aku juga mau ngasih hadiah pernikahan," kata Uwais kemudian.
"Apa?"
"Mulai hari ini, resto cinta pluto resmi jadi milik kamu,"
"Hah? seriusan kak?"
"Iya," kata Uwais sangat yakin.
"Eh, jadi yang waktu itu kata kakak, resto mau dikasihkan ke orang itu, aku?"
"Iya, sebagai rasa terimakasih ku, karna kamu sudah mau membersamaiku dengan penuh cinta, dan membuat hidup aku lebih berwarna, makasih ya, istriku,"
Lagi-lagi Arrida tersenyum. Wajahnya merona.
πΌ
"Papah udah stabil, hari ni pulang, ni kita lagi siap-siap mau ke rumah," kata Uwais memberi kabar pada Arrida melalui panggilan telepon.
"Alhamdulillah, aku jadi pingin ketemu papah dan semuanya," kata Arrida.
"Gimana praktek lapangan kamu?"
"Baik, kak,"
"Kalo papah udah di rumah, InsyaaAlloh, aku segera pulang," kata Uwais.
"Iya, Kak, hati-hati,"
"Besok, kalo aku udah pulang, kamu pindahan ya, nanti aku pamitkan ke asrama,"
"Iya, Kak," jawab Arrida tersipu.
"Besok, kita tinggal di rumah kita,"
"Ih, rasanya kok aneh ya,"
"Kenapa?"
"Mau tinggal sama cowok, berdua lagi,"
"Kenapa? Kan kita udah halal, udah boleh hidup bareng,"
"Emang kakak gak merasa aneh?"
"Nggak terlalu sih, lama-lama kan nanti terbiasa,"
"Besok, kalau aku belum pandai melayani kakak, jangan marah ya, Kak ... Eh, tapi aku janji akan belajar jadi seorang istri yang baik," kata Arrida.
__ADS_1
"Ar ... Kita sama-sama belajar ya, aku juga sedang belajar jadi suami yang baik, kita kan emang belum pernah jadi seorang suami dan istri sebelumnya,"
"Iya, siap, Kak,"
πΌ
"Ar, papah baru aja meninggal dunia," Uwais menelepon Arrida, pukul empat menjelang subuh.
"Allahu akbar, innalillahi wa inna ilaihi rojiun, kapan Kak?"
"Sekitar lima menit yang lalu," jawab Uwais.
"Ya Allah, nanti aku pulang, ntar aku ijin gak ikut praktik lapangan ke dosen pembimbing,"
"Iya, ini juga aku udah menghubungi mbak Fika,"
"Iya, Kak, nanti aku ma mbak Fika pulang!"
"Iya hati-hati ya!"
"Kak, kakak gak papa, kan?"
"Gak papa, Cinta,"
"Kakak pasti sedih banget ya, kuatkan hati Kakak, ya," ucap Arrida menyemangati.
"Iya, makasih,"
"Kakak juga jaga kesehatan, ya,"
"Iya, Cinta," jawab Uwais, "Jangan cemas ya,"
"Iya, Kak, gak tau ini, perasaanku, kenapa rasanya aneh semenjak nganter kakak pulang ke bandara!"
"InsyaaAlloh, gak terjadi apa-apa, mungkin karna kamu kangen kali,"
"Iya, mungkin ... Ya udah Kak, aku mau sholat Subuh dulu trus siap-siap,"
"Wa'alaikumsalam," jawab Arrida sambil menarik nafas panjang, menetralkan perasaannya, karena saat mendengar ucapan cinta dari Uwais tadi, hati Arrida malah merasakan aneh yang kian menjadi, entah kenapa, perasaannya tidak merasakan bahagia dan berbunga-bunga seperti biasanya, melainkan ia merasakan sebuah kesedihan.
πΌ
Setelah subuh ia menuju rumah Fika, lalu mereka bersiap untuk melakukan perjalanan pulang ke kotanya dengan menggunakan pesawat.
Kini, Arrida, Fika, dan Arman sudah ada di bandara, mereka datang tiga puluh menit sebelum jadwal keberangkatan pesawat pagi itu.
"Kenapa, Da?" tanya Fika pada Arrida, yang sejak tadi terlihat seperti mencemaskan sesuatu.
"Gak tau Mbak, perasaan kok gak enak ya,"
"Gak papa, tenang, ya,"
"Tapi perasaan ini udah ada sejak kak Uwais pulang kemarin, rasanya gak ilang-ilang, malah ini nambah kayak ada deg-degan yang gak jelas, kayak ada ngilu di hati,"
"Tadi udah ngehubungi Uwais, kan?"
"Udah, Mbak, tapi ni semenjak di bandara susah banget, di chat cuma ceklist satu, dan di telfon gak diangkat ... Telfon ayah, bunda, bang Adnan, Hani, mereka juga gak ada yang angkat, bahkan sekarang tidak ada nada sambung,"
Tiba-tiba terdengar pengumuman penundaan keberangkatan ke kota S sampai waktu yang belum bisa ditentukan, dikarenakan telah terjadi gempa bumi yang berkekuatan magnitudo 7,6 disusul tsunami yang melanda kota tersebut.
"Allohu Akbar!" pekik Arrida, tangisnya pun pecah, begitupun dengan Fika. Keduanya menangis histeris saling mendekap. Arman ikut shock, namun ia segera mengendalikan diri karena harus menenangkan kedua wanita yang bersamanya itu.
Fika sendiri akhirnya pingsan. Ia segera dilarikan ke klinik dekat bandara. Setelah diperiksa, ternyata Fika sedang hamil dengan usia kandungannya memasuki minggu keenam. Ah, ternyata dibalik berita duka ada berita gembira. Sementara Arrida, walaupun dia tetap menemami Fika, hati dan pikirannya sama sekali tidak fokus. Ia merasa sangat tidak tenang, mengingat semua orang-orang yang dicintainya sedang dilanda bencana.
"Ya Allah, selamatkanlah dan lindungilah orang-orang yang Rida cintai, kak Uwais, ayah, bunda, abang, keluarga Rida, guru-guru dan sahabat-sahabat Rida," doa yang terus dia ungkapkan dalam hatinya.
"Bang, gimana ini?" tanya Arrida pada Arman. Saat ini mereka sedang menemani Fika yang masih tak sadarkan diri.
"Nanti, kita cari cara agar bisa ke sana, ya," jawab Arman sangat pasti dan menenangkan.
Arrida mengangguk, kemudian ia melihat layar ponselnya karena terdengar suara nada panggil.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Ndri?" sapa Arrida pada si penelepon. Dia Andri.
"Wa'alaikumsalam, kamu dimana?" tanya Andri pada Arrida.
"Aku ada di klinik deket bandara!"
"Kamu udah tau kan beritanya,"
"Iya, ini juga tadinya mau pulang, karena papah mertua meninggal dunia, tapi penerbangan ke sana ditiadakan," ucap Arrida sambil terisak, ia kembali menangis.
"Kamu mau ke sana, gak?"
"Gimana caranya?" tanya Arrida dengan penuh pengharapan.
"Atas bantuan bang Arka dan Mas Diaz, aku ikut tim SAR dan para relawan, kamu mau ikut gak?"
"Iya, aku ikut!!" kata Arrida tanpa berpikir panjang.
"Ya udah, ditunggu, kamu segera ke pangkalan udara ya, kita naik hercules, kamu bisa cepet kesini, kan?"
"Iya!" jawab Arrida kemudian mengakhiri panggilannya.
Arrida pun segera berpamitan dengan Arman. Awalnya Arman mencegah kepergian Arrida, namun melihat kekukuhan tekad gadis itu, ia pun luluh dan mengijinkannya untuk pergi.
Arrida bergegas menuju pangkalan udara. Yang ada dalam pikirannya saat ini, hanyalah bisa segera sampai ke kota S, dimana semua orang-orang tercintanya ada di sana. Hatinya sama sekali tidak berhenti berharap dan selalu melafalkan doa untuk keselamatan mereka.
πΌ
"Allohu Akbar, Astaghfirullahal'adziim!!!" pekik Arrida, ia menutup mulutnya terkejut tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Pemandangan sungguh mengenaskan. Mayat bergelimpangan, bangunan yang roboh dan hancur, puing-puing berserakan, kendaraan yang saling bertumpuk dengan material lain, mobil yang tersangkut di pohon dan berserakan di pinggir jalan. Jalanan hitam berlumpur seperti rawa. Bau anyir di mana-mana. Semuanya terlihat sangat kacau dan porak poranda. Suasana terasa suram dan mencekam terlebih saat terdengar jerit dan tangis yang memilukan dari para korban yang selamat.
Arrida memejamkan matanya, ia benar-benar shock melihat yang terjadi dengan kota kelahirannya. Sangat parah. Air matanya mengalir deras. Nafasnya seakan tertahan.
"Ya Alloh, ampuni kami, dan jadikan korban yang meninggal husnul khotimah, serta berilah kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan bagi korban yang masih selamat, Aamiin," doanya dalam hati.
"Siap jadi relawan?" tanya Andri menepuk pundak Arrida. Gadis yang kini berjilbab itu menoleh dengan wajah yang sangat sedih. Ia menganggukkan kepalanya.
"Bagus, sekarang hapus air mata kamu, bangkitkan jiwa kemanusiaan kamu, kamu masih punya jiwa PMR, kan?" tanya Andri, ia ingat jika Arrida ketika SMA adalah seorang aktivis PMR.
"Iya,"
"Hmm," Andri mengangguk penuh semangat.
"Kamu gak sedih, Ndri?" tanya Arrida.
"Sudah, aku sudah menangis, tapi, saat ini aku harus simpan dulu perasaan itu, aku ingin menolong dan menemukan keluargaku, juga Nana,"
Arrida tersenyum tipis.
"Kamu juga, sekarang, niatkan menolong karena Alloh, sambil mencari keberadaan keluarga kamu dan bang Wais, yakin aja yang hilang pasti ketemu, insyaaAlloh pasti Alloh kasih kemudahan dan petunjuk," sambungnya.
Arrida mengangguk membenarkan apa yang disampaikan Andri.
"Walau apapun keadaan mereka saat ditemukan, kamu harus siap, Da," ujarnya agak hati-hati.
Arrida kembali menangis.
"Udah, kuatkan hati kamu, Bismillah!" kata Andri menguatkan hati Arrida. Ia mengangkat dan mengepalkan tangannya, menyemangati.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
__ADS_1
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...