
Kujadikan sepatu untuk membersamaimu kemana langkahmu pergi. .. menguatkan pijakan mu, menemanimu berjalan dan berlari meraih tujuanmu"
(Uwais)
"Kujadikan gantungan kunci untuk membersamaimu kemanapun kau pergi. Aku menggantungkan harapanku padamu, jagalah kepercayaanku."
(Arrida)
Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, akan tetapi perpisahan merupakan awal dari sebuah kehidupan yang baru
๐ผ๐ฆ๏ธ๐ผ
Uwais : "Jangan sedih... jaga diri, jaga hati, jaga kesehatan ya"
Arrida: "Kakak juga"
Itu percakapan singkat di aplikasi hijau, sesaat ketika kereta benar-benar sudah menjauh meninggalkan stasiun. Saat ini, Arrida melangkah keluar dari stasiun untuk menaiki taksi yang telah dipesannya.
Ada perasaan bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Sesaat, ia tersenyum sambil melihat kotak sepatu. Betapa terharunya dia dengan semua sikap Uwais kepadanya. Bolehkah sekarang dia menganggap kalo dirinya dan Uwais berkencan atau berpacaran? Namun, biarlah hubungan ini berjalan seadanya... dan terlepas dari rasa sedihnya karena berpisah dengan Uwais, sejujurnya saat ini dia sungguh sangat - sangat bahagia.
๐ผ
Uwais :"Aku sudah sampai... makasih doanya ya"
Arrida bergetar sambil mengeluarkan air matanya. Ia bahagia dan tak percaya mendapat chat dari Uwais saat subuh, setelah semalaman dia menunggunya hingga tidak bisa tidur. Ya, Arrida memang lebih memilih untuk menunggu Uwais yang mengirimkan chat kepadanya karena dia sendiri masih ragu kalau harus mengirimkan chat terlebih dahulu. Masih ada perasaan canggung di benaknya. Walaupun, sebenarnya dia sudah mendapatkan ijin dari Uwais, namun tetap saja, Arrida lebih memilih menunggu.
Arrida:" Alhamdulillah... Udah nyampe tempat kak?"
Arrida tersenyum dengan hati yang berdebar-debar.
Baru kali ini dia membalas chat dari seorang 'cowok', saat pagi hari.
Uwais: " Masih di stasiun, habis sholat subuh dulu, kamu lagi apa?"
Arrida tidak berhenti tersenyum. Apalagi ketika Uwais langsung membalas chatnya.
Arrida:" baru selesai sholat, ini mau bantuin bunda kegiatan pagi hari"
.
Uwais:"Apa?"
Arrida:" Beres-beres"
Uwais: " Ya sudah ... bantuin bunda gih, hari ini terima raport ya"
Arrida:"Iya kak...doain nilainya bagus"
Uwais:"Iya, sukses selalu buat kamu ya"
Arrida: "Makasih"
__ADS_1
Uwais: "Ya sudah aku mau ke kos dulu ya, jangan lupa sarapan,jaga kesehatan"
Arrida:"Kakak juga, jaga kesehatan, jangan lupa sarapan sebelum istirahat nanti๐โบ๏ธ"
Uwais :"Siap ๐๐"
Keduanya masih tersenyum saat mengakhiri percakapan mereka melalui chat. Ada rasa tak biasa yang sedang mereka rasakan. Aneh tapi indah. Sebenarnya cukup menggelikan, karena ternyata seperti inikah rasanya diperhatikan? Sebelumnya, tidak pernah ada orang lain selain keluarga yang mengingatkan, terlebih hal kecil. Kini hanya sekedar sarapan saja ada seseorang yang spesial yang mengingatkannya. Bukankah itu suatu kebahagiaan tersendiri?
๐ผ
Chat sudah lama berkahir. Namun bibir yang melengkung ke atas itu masih saja terbit di wajah mereka. Bahkan Arrida masih saja tersenyum saat menyapu dan mengepel rumah. Adnan yang biasanya menggodanya pun kini terheran
"Tumben banget ni anak... lantainya masih basah... diinjak... nggak ngamuk" gumam Adnan pelan namun masih bisa terdengar oleh Arrida.
"Apa Bang? Ga usah ngeledek pagi-pagi....gak jelas, Rida males debat, hati Rida lagi dalam keadaan sangat-sangat baik.... jangan dirusak"
"Ciyeee, yang kemarin dapet sepatu dari Uwais" Goda Adnan
"Diem gak bang... kalo gak, lap pel ni melayang lho, itu lantai atas udah Abang pel kan?"
"Udah dek..."
"Kamar Rida gak kelewat kan?"
"Enggak adekku sayang... Duh Abang
jadi susah ni buat ngeledekin kamu, soalnya adekku yang cute ini sekarang udah punya pacar"
"Terus apa namanya kalau tiba-tiba ada cowok ngasih hadiah begitu saja sama cewek.... kalo dia ga punya perasaan, gak mungkin lah ngasih-ngasih kayak gitu"
"Tau ah, udah Abang sana, hus hus....tuh mba Novita urusin, gak usah ngurusin Rida"
"Ya elah dek, Novita lagi... kan udah dibilang Abang udah putus"
"Uluuuuh... kaciyaaan.. abangku jomblo"
"Biarin... lagi mau konsen sidang skripsi ini"
"Yah... gak punya PS dan PW nih" Goda Arrida pada Adnan sambil menyelesaikan mengepelnya. Dia sudah ada di bagian dapur. Adnan mengikutinya. Terlihat bu Sofia sedang mempersiapkan sarapan. Lebih tepatnya selesai menggoreng pisang. Sementara pak Arthur terlihat telah menyelesaikan menyiram tanaman yang ada di belakang rumah.
"Apa itu dek PS PW?" Adnan bingung dengan singkatan yang diberikan oleh adiknya itu. Ia mengambil pisang goreng yang ada di piring dan baru saja diletakkan oleh Bu Sofia di meja makan. Disusul kemudian kedatangan Pak Arthur dari belakang rumah, dia langsung duduk di kursi meja makan, tempat biasanya. Dihadapannya sudah ada segelas kopi panas dan sepiring kecil pisang goreng.
"Pendamping Sidang dan Pendamping Wisuda Abang....." kata Arrida sambil mencuci tangannya di wastafel.
"Lho bukannya ada Novita?" sela Bu Sofia
"Udah putus bunda" Arrida yang menjawab. Ia ikutan duduk di kursi meja makan. Lalu mencomot pisang goreng yang ada dihadapannya.
"Iyakah, kalian bertengkar?" Bunda akhirnya bertanya pada Adnan.
"Nggak bun" jawab Adnan singkat, sebenarnya dia malas untuk membahas kandasnya hubungannya dengan Novita.
__ADS_1
Namun Bu Sofia sepertinya tidak puas dengan jawaban yang singkat itu. Wajahnya masih menyiratkan tanda tanya.
"Mba Novita dijodohin Bun, Abang yang belum mapan, gak bisa mempertahankannya, Abang malah milih mundur daripada memperjuangkan"
"Emang Novitanya mau dijodohin?" tanya bu Sofia sambil ikutan duduk dan makan pisang goreng.
"Nggak lah Bun, malah dia tetap pengen mempertahankan, tapi... akunya yang sama sekali belum siap, apalagi kalau harus berhadapan dengan bapaknya... waduh gak deh... Adnan punya apa coba untuk memperjuangkannya dihadapan orang tua Novita... kuliah belum lulus, pekerjaan belum punya ... lah yang dijodohin sama Novita... beuh... anak orang kaya, udah mapan, punya perusahaan garmen pula... Akuh mah apah atuh... hanya butiran debuh" Kata Adnan dengan wajah memelas.
"Haish gak usah di imut-imutin juga tuh wajah.... gak bakal bikin punya perusahaan garmen juga kan?" Arrida meledek.
"Lah emang kamu belum pernah ketemu bapaknya?" Tanya Bu Sofia heran, karena sepengetahuannya Adnan dan Novita sudah lama menjalin hubungan.
"Pernah, waktu lebaran dua kali, sama jengukin ibunya pas di rumah sakit"
"Wah kamu kalah sama calon adik ipar kamu... kamu gak gentle, harusnya sebelum pacaran, minta ijin dulu sama orang tuanya" Celetuk Pak Arthur tiba-tiba. Dia baru saja menyeruput kopi hitam kesukaannya.
Arrida dan Adnan saling melempar pandang. Lalu mengalihkan pandangannya cepat ke arah pak Arthur.
"Siapa Yah?" Tanya Arrida dan Adnan hampir bersamaan.
Namun pak Arthur tidak memberikan jawaban, dia hanya menaikkan kedua alisnya sambil mengedikkan bahunya dan melirik Bu Sofia yang sepertinya sedang memberi isyarat agar pak Arthur tidak mengatakan yang lain-lain.
"Yah, maksud ayah siapa?" Tanya Arrida hati-hati.
"Jangan bilang adek dijodohin Yah" celetuk Adnan. Ia ingat pernah mengantar ayahnya untuk bertemu dengan temannya, dan ternyata ada obrolan tentang perjodohan.
Arrida menajamkan tatapannya pada Adnan. Seperti meminta penjelasan padanya.
"Iya dek, si ayah pernah ketemu temennya, dan ternyata temennya itu punya anak segede Abang, mungkin tua dia dua tahun. Dia udah mapan... Terus ayah ngobrolin tentang jodoh-jodoh gitu sama anaknya... eh si anak nya malah bilang kalau bapak mengijinkan saya akan mencoba untuk menemuinya dan mengenalnya lebih jauh lagi"
"Serius yah?!!" Arrida tak percaya. Ada sedikit kekecewaan yang tampak di wajah cantiknya.
Pak Arthur terdiam, ia sedang mengingat-ingat kejadian yang diceritakan oleh Adnan.
"Itu kapan bang?"tanya Arrida penasaran
"Dua minggu yang lalu"
"Namanya Ricky ... ganteng anaknya, udah kerja juga, cukup gentle kan, ketemu bapaknya dulu dan minta ijin" pak Arthur akhirnya bersuara. Ia sebenarnya hanya ingin menggoda Arrida.
"Ayah gak serius kan?" Tanya Arrida masih penasaran, hatinya sedang bergejolak kecewa dan marah.
"Terserah kamu" kata pak Arthur terkekeh.
"Yah serius ni... Rida gak mau dijodohkan..."
"Eh itu kan abang mu yang bilang, bukan ayah" pak Arthur membela diri.
Arrida cemberut. Entahlah, saat ini dia benar-benar tidak merasa nyaman dengan situasi seperti ini.
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
__ADS_1