Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
8. You are my hero


__ADS_3

"Ar ... Sudah mendingan?" tanya Uwais kini.


Arrida mengangguk. Walaupun sebenarnya ia masih merasakan sakit di kepalanya.


Uwais melihat ke rekan-rekan yang sedang berdiri mengelilingi. Tak ada satupun yang ingat membawa tandu. Padahal di pos kelima ada tandu untuk simulasi penyelamatan di air.


"Ayo kita ke pos, biar aku gendong." usul Uwais.


"Gak usah Kak, aku coba sendiri aja," kata Arrida lemah.


"Gak usah nolak!!" Nada Uwais sedikit meninggi namun berat terdengar. Dari suaranya ada kekhawatiran yang mendalam.


Ia langsung menggendong Arrida menuju pos, diikuti oleh yang lainnya. Sesampainya di pos sudah ada pembina yang baru saja datang.


Akhirnya Arrida dibawa dengan tandu ke area perkemahan. Sesampainya disana, dia mendapatkan perawatan, keningnya yang memar dikasih obat luar dan mendapatkan perban kecil. Nana dan Hani memilih menemani Arrida. Mereka tidak mengikuti kegiatan selanjutnya. Namun jika regunya membutuhkan, mereka siap untuk membantu. Di tenda rawat itu hanya ada mereka bertiga, karena para pembina dan dewan sedang mendampingi kegiatan berikutnya.


"Kamu pulang aja ya, Da,"


Saran Nana pada Arrida sambil menyerahkan teh hangat yang baru saja dibuatnya.


"Aku baik-baik aja Na, ga usah khawatir, lihat ... I'm fine," Arrida menolak saran Nana. Dia sudah mulai stabil dan membaik.


"Ntar malam aku juga bisa ikut pentas seni dan pengambilan logo," lanjut Arrida sambil menyeruput teh hangatnya.


"Jangan maksain diri Da," Hani menyela.


Nana dan Arrida hanya tersenyum.


"Baneran, Han, aku udah gak papa!" ujar Arrida meyakinkan.


"Ya udah, kita lihat aja ntar malam, ya," kata Hani sambil mengelus lengan Arrida.


"Maafin aku ya, Da, kalo bukan karena nungguin aku, kamu pasti gak celaka," Nana meminta maaf penuh penyesalan.


"Nana, ini tuh bukan salah kamu, ini murni kecelakaan malah mungkin kesalahan aku sendiri yang kurang hati-hati," Arrida menenangkan sahabatnya.


"Aku malah yang harusnya banyak-banyak terimakasih ma kalian, dan maafin aku banget ya, udah bikin kalian cemas, malah bikin semuanya panik," lanjutnya.

__ADS_1


Nana mengangguk, namun tetap saja wajahnya menunjukkan rasa penyesalan.


"Iya, Da, tadi emang kita panik banget ...Nyari kamu gak ketemu juga, untung kak Uwais awas penglihatannya, dia nemuin kamu tersangkut antara batu dan pohon bambu yang melintang, dia langsung nyebur ke sungai lalu nolong kamu." Hani mulai bercerita


"Dia pahlawan kita hari ini, terutama kamu, Da ... He's your hero ...." kata Nana mulai menggoda Arrida.


"Waktu kamu sudah dibawa ke tepi sungai, dia langsung memeriksa kamu, kita panik banget ... aku, Nana, dan Uly hanya bisa nangis ... Kak Uwais ngecek nafas kamu, denyut nadi kamu, tapi gak respon, Da ...." Mata Hani berkaca-kaca.


"Dia manggil-manggil kamu, teriak-teriak, tapi kamu masih diem aja! Kita udah lemes lihat keadaan kamu! Kita gak mau bayangin hal buruk terjadi ma kamu, Da," cerita Hani. Akhirnya meluncurlah air mata Hani.


"Bahkan kita bingung banget mesti ngapain, sampai kak Uwais minta kita melakukan RJP buat kamu. Tapi kita bertiga gak ada yang bisa, kita gak berani. Tau sendiri kan, materi RJP baru aja kita pelajari kemarin, itu pun kita cuma ngedengerin gak terlalu memperhatikan, jadi nyesel kenapa saat materi RJP kita gak fokus ... Ternyata saat tadi dibutuhkan banget!" Nana melanjutkan cerita.


"Terus kak Uwais yang akhirnya melakukan RJP buat kamu, Da," kata Nana sambil menganggukkan kepalanya agar Arrida yakin dengan ceritanya.


Arrida bengong. Spontan dia memegang bibirnya.


"Gak usah ngeres, Da ... Itu bukan kiss tapi pertolongan ...." Kali ini Hani yang berbicara. Dia menepuk pipi Arrida menyadarkan dari bengongnya.


Nana terkekeh, disusul Arrida tertawa.


"Berasa first kiss Han ...." Arrida mengerjapkan matanya dihadapan Hani.


"Eh, seriusan kak Uwais yg melakukan RJP buat aku?" tanya Arrida menyelidik.


"Pake gak percaya ni anak ... Tadi itu keadaan luar biasa, Da, masa kita boong," Hani menoyor kening Arrida.


"Nih, kalo gak percaya,"


Hani memperlihatkan video di ponselnya.


Arrida langsung memperhatikannya. Wajahnya melongo.


"Ya ampun, kacau banget keadaanku?" gumam Arrida saat menyaksikan video ketika Uwais melakukan RJP untuknya.


"Aku kok jadi malu ketemu kak Uwais, ya?" Arrida mengomentari.


"Kok malah malu, harusnya kamu tuh terimakasih ma dia," kata Hani yang mendapatkan anggukan dari Nana.

__ADS_1


"Eh, tau gak, Da, aku ngelihat kak Uwais sempet ngusap air matanya diem- diem saat abis nolong kamu!" kata Hani memberitahu kejadian sesaat setelah Arrida sadar.


Arrida terdiam. Lagi-lagi perasaan aneh datang tak diundang. Indah. Namun terasa menyesakkan relung hatinya.


"Eh, kalian uda punya ide untuk nanti malam acara pentas seni?" Tanya Arrida. Nana dan Hani menggelengkan kepalanya.


"Gimana kalo kita buat drama tentang simulasi RJP ... Nanti di akhir, biar aku sampaikan rasa terimakasih ku pada semuanya terkhusus kak Uwais," Arrida memberi ide. Nana dan Hani saling menatap. Menyetujui ide tersebut.


"Biar ntar aku yang bilang ma Uly dan yang lainnya, mudah-mudahan mereka setuju," Kata Hani menyanggupi.


Arrida dan Nana tersenyum.


"Eh, ngomong-ngomong kamu kok punya video ini Han? Bukannya saat wide game kita gak boleh bawa hape ya ... Emang kapan kamu rekam videonya?" Tanya Arrida mencari tahu


"Ini dari kak Roni, aku ngelihat dia merekamnya waktu kak Uwais nolongin kamu ... Terus, tadi aku minta deh ... Walaupun sebenarnya, kata kak Roni mau di edit, mau di share di grup, sebagai pembelajaran RJP ... Biar lebih real!" Hani menjelaskan.


"Haish ... Kalo bisa jangan deh, aku malu jadi korbannya,"


"Tenang aja, paling wajah kamu disamarkan," Nana cekikikan.


🌼


Malam itu kegiatan pentas seni. Masing-masing regu menampilkan aksinya. Ada yang bermain musik akustik, ada yang bernyanyi dengan diiringi alat musik seadanya, ada yang bernyanyi diiringi puisi, ada yang stand up comedy, ada yang berdance ala-ala K-pop, tari India, tari dan nyanyian daerah serta ada juga yang menampilkan drama.


Saat ini regu Arrida sedang menampilkan drama pantomim berisi simulasi RJP. Di akhir sesi, Arrida menyampaikan rasa terimakasih nya pada semuanya. Saat itu Arrida dan kelima teman seregunya berdiri berpegangan tangan.


"Atas ijin Allah dan doa serta perhatian kalian semua, saya masih bisa berdiri disini ... Berkumpul bahagia bersama semuanya ... Hanya rasa terimakasih yang tulus dari dalam hati, yang bisa saya ucapkan tanpa bisa membalas apapun ... Semoga Allah kelak membalasnya dengan limpahan kebaikan dan keberkahan untuk semuanya ... Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidak hati-hatian hari ini dan terima kasih banyak untuk para kakak dewan, para pembina, dan rekan rekan seperjuangan," Arrida mulai berkaca-kaca, dia mengingat saat-saat tadi siang berjuang agar bisa sadar.


"Sekali lagi ...." Arrida menghentikan ucapannya, memberi aba-aba pada rekan-rekannya yang masih saling menggenggam.


"KAMI UCAPKAN TERIMAKASIH, KAMI SAYANG KALIAN SEMUA," ucap keenamnya bersamaan.


Akhirnya suara tepuk tangan pun terdengar dari arah penonton. Uwais yang dari tadi menyaksikan ikut bertepuk tangan sambil memberikan senyumannya lembut. Itu yang ditangkap oleh netra Arrida, saat kedua netra mereka bertemu.


"Maaf, masih ada satu lagi yang ingin saya sampaikan ... Spesial untuk kak Uwais ... Saya ucapkan banyak terimakasih, karena melalui pertolongan dari kakak, Allah mengijinkan saya untuk merasakan kembali indahnya kehidupan di dunia ini bersama orang tua saya, guru-guru saya, sahabat- sahabat saya, dan orang-orang yang menyayangi saya. Terimakasih ... you are my hero," ucap Arrida agak tersipu sambil meletakkan telapak tangan di dadanya. Kedua pipinya memerah. Senyum manis terbit dari bibir mungilnya.


Suara tepuk tangan pun semakin riuh diselingi teriakan - teriakan yang mengelu-elukan Arrida. Dari kejauhan, Uwais memberikan senyuman limited editionnya. Ia mengangguk menerima ucapan terimakasih Arrida. Dia mengacungkan ibu jari dan telunjuknya yang membentuk huruf 'O' menandakan Ok πŸ‘Œ

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2