
"Kak Uwais" Arrida terlihat bahagia. Menatap wajah yang selalu membuat hatinya sejuk. Keduanya bertemu di pintu masuk rumah makan. Saat ini pak Arthur, Bu Sofia, dan Bu Tania sedang menunggu di mobil.
"Kenapa lama, hm?" Sapa Uwais, wajahnya terlihat khawatir
"Kakak cemas ya..." kata Arrida sambil menoleh ke belakang. Memastikan orang yang tadi bertemu dengannya tidak ada.
"Hmm.... ! Gak cuma aku... mamah, ayah dan bunda juga cemas"
"Iya maaf... Ayo, cepetan kita pergi!" ajak Arrida sambil menarik lengan Uwais.
"Tunggu! Ada apa, hm?" Uwais mulai curiga. Ia tau gadis kesayangannya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Nanti aja ceritanya yaaa..." Arrida menatapnya dengan penuh rasa 'memohon'
" Ya udah" Uwais mengalah, ia pun melangkahkan kakinya bersama gadis itu menuju area parkir.
πΌ
"Jadi ada apa Ar? Katanya kamu mau cerita?" tanya Uwais pada Arrida. Mereka sengaja duduk di tempat favorit sambil menatap bintang. Bu Tania, Bu Sofia, dan pak Arthur memilih berbincang santai di bagian luar Resto sambil menikmati minuman hangat berupa kopi dan coklat hangat.
Semenjak setengah jam yang lalu resto memang sudah tutup. Namun, di bagian dapur, masih ada Arman dan Andika sedang menyiapkan keperluan untuk besok. Sementara Kirno sedang membersihkan ruangan, yang sebenarnya sudah tampak bersih.
" Tadi keluar dari toilet aku nabrak orang kak, dan hape orang tersebut jatuh, katanya retak"
"Katanya?"
"Iya, katanya... soalnya, pertama dia bilang gak kenapa-kenapa, eh pas aku mau pergi dia bilang retak, bisa aja dia bohong kan sebagai alasan"
" Alasan untuk?" Uwais mulai penasaran, muncul rasa khawatirnya.
"Agar bisa kenalan ma aku"
"Dia laki-laki?"
"Hmm" Arrida mengangguk
"Lalu?" Uwais masih menyelidiki
"Ya udah karna dia maksa terus, aku bilang aja namaku Ida"
"Lalu dia siapa?"
Arrida mengernyitkan keningnya, mengingat-ingat.
"Ah iya, namanya Bryan pake 'y' katanya"
Uwais langsung menatap serius ke arah gadis tersebut.
"Trus?" tanyanya kemudian
"Dia juga maksa minta nomer telepon"
"Kamu kasih?"
"Iya, kalo gak, dia gak mau biarin aku pergi"
Hati Uwais mulai tak enak. Ada perasaan marah dari dalam yang tidak bisa diungkapkan, namun dia sendiri tidak tau harus marah pada apa atau siapa.
"Maaf ya kak"
"Kalau kamu dihubungi dia, jangan kamu angkat atau balas apapun!!!" Uwais memberi ultimatum.
"Tenang aja, dia gak bakal ngehubungi aku"
"Kenapa? kamu kasih nomer yang salah?"
__ADS_1
"Aku kasih nomer kakak"
"Hah!" Uwais merasa aneh. "Kok bisa?"
"Karena yang aku hafal hanya nomer kakak, aku gak hafal nomerku sendiri... Tadi udah aku bilang ma orangnya kalau aku gak hafal nomerku, dia nya gak percaya, ya udah".
Uwais tersenyum geli mendengar alasan polos gadis kesayangannya itu. Dan ternyata gadisnya itu hanya hafal nomer teleponnya? bukankah itu luar biasa...? Betapa dirinya merasa teristimewa untuk gadis yang selama ini selalu membuat cerita indah dalam hidupnya.
" Kok kakak ketawa?"
"Gak papa, lucu aja"
" Lucu apanya?"
"Kalo nanti orangnya ngehubungin aku gimana?"
"Ya udah kakak urus aja, itu kan gunanya aku kasih nomer kakak, aku males ngadepinnya" kata Arrida tak peduli. Cuek.
Uwais semakin tersenyum. Aman. Pikirnya. Dengan begitu, gadis kesayangannya itu tidak akan berhadapan dengan orang yang bernama Bryan.
"Okke, nanti aku akan menjadi kamu"
"Ah, sebaiknya gak usah diurusin lah kak, gak usah meng- ada-ada kan masalah, biarin ajalah" Arrida mulai malas membahasnya.
" Okke kita lihat aja nanti ya"
"Kalian butuh sesuatu ga? susu hangat atau coklat hangat?" tanya Kirno sambil menggosok-gosokkan lap pelnya ke lantai di bawah meja dekat tempat duduk Uwais dan Arrida.
"Gak usah No, gak perlu" kata Uwais pada Kirno. "Kamu ingin sesuatu Ar?" kini tanya Uwais pada Arrida.
"Nggak kak, makasih" Arrida menolak tawaran Uwais
"Oh ya udah, kalo gitu aku beresin ini dulu ya" Kata Kirno masih menggosokkan lap pelnya ke lantai.
"Hmm, makasih ya No"
Β ------
"Kak, kenapa kakak manggil bang Kirno dengan nama aja? sementara ke bang Arman dan bang Andika, kakak panggil dengan sebutan 'bang'?"
"Karena Kirno temen seangkatan ku, kalo Arman udah wisuda dua tahun yang lalu, sementara Andika dia tahun ketujuh ini, skripsinya gak kelar-kelar"
"Wah berarti tahun terakhir?"
"Iya, doakan saja tahun ini dia bisa wisuda, kasihan"
"Kok, kakak bisa ketemu ma mereka?"
"Sama Kirno, kita kenal waktu PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru)"
"Oh, kayak aku kenal Nana ma Hani waktu MOS ya?"
"Hmm iya, nyampe sekarang kita deket, dia asli kota ini"
"Kalo sama bang Arman?"
"Dia kakaknya Kirno"
"Ouwh..." Arrida tak percaya.
"Kenapa? wajah mereka beda ya?"
"Iya!" kata Arrida singkat.
"Bang Arman lebih ke ayahnya, kulitnya agak gelap, sementara Kirno lebih ke ibunya, putih"
__ADS_1
Arrida mengangguk. "Trus kalo bang Dika?"
"Dia bukan asli sini, kita ketemu, waktu aku mulai usaha kecil-kecilan pas akhir semester satu, buka angkringan kalo malam hari depan kampus utama, dia jadi langganannya!"
"Waw, kakak pernah jualan angkringan juga?"
"Iya, bareng bang Arman dan Kirno... waktu bang Arman baru aja wisuda, tapi angkringannya cuma tiga bulan aja"
" Kenapa?"
"Karena akhirnya aku buka usaha warung Cinta Pluto"
"Warung bakso itu ya?"
"Iya, saat itu, aku punya tabungan untuk menyewa tempat, akhirnya kami putuskan membuka usaha bakso, atas bantuan bang Dika"
"Oh iya, ayahnya bang Dika, penjual bakso kan ya?"
"Iya, ayahnya penjual bakso keliling, sayang sempet kecelakaan, dan bang Dika hampir aja memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah, karena faktor biaya, saat itulah aku kasih ide buat jualan bakso, kebetulan pas banget ada warung yang dikontrakkan..." Kata Uwais menjelaskan.
" Trus, sekarang kakak buka resto ini?"
"Iya, setelah setahun berjalan warung baksonya, kita pindah kesini, baru tiga bulan ini kok, sebagian pinjem uang mas Fariz buat beli tempat ini"
"Luar biasa kak, ini kereeeen banget, kakak hebat bisa bantu temen-temen kakak"
Uwais hanya tersenyum.
"Lah bang Dika tinggal dimana sekarang?"
"Seringnya disini bareng aku"
"Berarti kamarnya dipake kita dong"
"Gak papa, biasanya dia tidur di ruangan sini sambil nonton TV, gelar kasur sendiri, atau di sofa itu, dia jarang mau di kamar" kata Uwais sambil menunjuk sofa untuk Uwais tidur sebelumnya.
"Lah, semalam dimana?"
"Di rumahnya bang Arman, mungkin malam ini, tidur lagi disini"
"Oh gitu ya" Arrida mengangguk-angguk.
"Hmm... Oh iya, Ar, coba lihat hape kamu" Pinta Uwais, telapak tangannya terulur menengadah meminta agar hapenya diletakkan di tangannya. Arrida hanya memandang Uwais, ia tidak merespon apa yang diminta olehnya.
"Kenapa kamu mandangin aku kayak gitu" Kata Uwais ketika menoleh menatap gadis kesayangannya itu yang hanya diam saja.
"Mimpi apa aku kak, empat puluh delapan jam ini aku bisa lihat kakak, saat fajar, pagi, siang, sore, petang, malam, bahkan tengah malam, aku bisa bersama kakak, menikmati semuanya bareng kakak, termasuk menikmati wajah kakak dengan leluasa tanpa ada batas tempat dan waktu" kata Arrida sambil menopang dagu dengan kedua tangannya
Uwais tersenyum sambil menggeleng. Betapa blak-blakannya gadis kesayangannya itu.
"Masih ingin menikmati wajah ku?"
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers udah mampir
Makasih udah baca
Makasih udah mendukung
Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa
Sehat selalu kakak readers
Semoga suka dan terhibur...
__ADS_1
βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»