
Pagi ini tidak seperti biasanya. Sejak Arrida berjalan di koridor menuju kelasnya, banyak mata yang menatapnya penuh ejekan yang merendahkan. Walaupun merasa aneh dan risih, dia mencoba untuk bersikap biasa.
Sesampainya di kelas, Nana dan Hani sudah menyambutnya dengan raut wajah yang berbeda.
"Kalian kenapa seh, Na, Han?" sapa Arrida sambil meletakkan tasnya di atas meja
"Kamu pasti belum lihat postingan grup sekolah hari ini kan, Da?" tanya Hani membalas sapaan Arrida.
Arrida menggelengkan kepalanya. Ia lalu menerima ponsel yang diberikan oleh Hani. Membuka postingan di grup komunitas sekolah pada aplikasi biru.
"Astaghfirullahal'adzim ... Apa-apaan ini, pantesan orang-orang ngelihatin aku kayak tadi," Arrida syok melihat postingan tersebut. Dia terduduk lemas dikursinya.
Postingan berisi slide foto Arrida yang sedang bersama dengan beberapa cowok di sekolahnya.
Foto yang bersama dengan Justin, memperlihatkan mereka berdua saling berkejaran di lapangan sekolah. Saat itu Justin memang sengaja ngerjain Arrida dengan mengambil topi pramukanya, sehingga Arrida mengejarnya untuk mengambil kembali topinya.
Foto yang kedua dengan Rian, ketika Arrida duduk di sebuah kursi didepan ruang PMR, sementara Rian berdiri di sampingnya sambil memegang pundak kursi yang diduduki Arrida, jadi seakan-akan Rian sedang memegangi pundak Arrida.
Foto selanjutnya dengan Wisnu ketika Arrida sedang duduk di bangku taman sekolah, di sampingnya ada Wisnu yang sedang memperhatikan wajah Arrida penuh perhatian.
Sementara foto yang berikutnya adalah foto dengan Uwais. Memperlihatkan ketika Uwais berjalan sambil tertawa bersama Arrida. Seperti sedang jalan berkencan, padahal yang sebenarnya saat itu mereka sedang jalan bersama Nana, Hani, Rian, Roni, Asep, Uly.
"PLAYER OF THE YEAR
HATI-HATI JAGA HATI"
Hanya saja ada yang membuatnya lebih terkejut, yaitu pada postingan berikutnya. Foto ketika Uwais melakukan RJP pada Arrida, walaupun sebagian gambar pada foto ini ada yang disamarkan, namun memperlihatkan dengan jelas seakan Uwais memberikan ciuman pada Arrida
"Aksi kiss kiss"
___
"Sabar, Da ...." Nana mengusap punggung Arrida
"Kita tau kok, Da, semua ini fitnah, yang ada dalam foto kamu itu kan ada kita-kita, kamu gak berduaan doang ma mereka," Hani menjelaskan agar Arrida tenang
"Ada yang gak suka ma kamu, Da!" Nana memberi kesimpulan
"Kamu akan tau akibatnya!" Kata-kata dari Erna kemarin masih terngiang-ngiang jelas di telinganya.
"Apa mungkin mbak Erna, Da? Dia kemarin kan ngancem kamu," kini Hani yang mengomentari.
Arrida ingin menjawab namun keburu ada langkah kaki menghampiri ketiganya.
"Arrida, dipanggil ke ruang BK!" kata Arfan si ketua kelas X IPA 1.
Arrida hanya mengangguk mengerti. Dia langsung bangkit "Aku ke ruang BK dulu, ya,"
Nana dan Hani terlihat begitu mengkhawatirkannya
"Aku gak papa Nana, Hani ... Aku gak salah, ini fitnah,"
__ADS_1
Nana dan Hani akhirnya mengangguk memberi semangat.
🌼
"Duduk Nak!" perintah Bu Sofia pada Arrida. Kini yang saling berhadapan itu bukan lagi sebagai ibu dan anak, akan tetapi sebagai guru BK dan anak didiknya di sekolah tersebut.
"Bunda percaya kan sama Rida? Semua itu fitnah bun," Arrida langsung berbicara tanpa harus bertanya untuk apa bu Sofia memanggilnya. Dia yakin, kalau pemanggilannya ke ruangan itu pasti berhubungan dengan postingan sekolah.
Bu Sofia mengangguk.
"Foto itu editan bukan nak?" Bu Sofia mencoba memastikan
"Itu asli, tapi, kondisinya waktu itu Rida lagi ma temen-temen kok, tidak lagi berduaan saja,"
"Termasuk yang lagi berciuman?"
"Itu bukan berciuman bun, itu kak Uwais yang lagi nolongin Rida ... Bunda masih inget kan cerita waktu Rida hanyut di sungai saat kemah PMR?"
Bu Sofia mengangguk.
"Kamu punya musuh, Nak?"
"Mungkin ...."
"Maksudnya?"
"Ada yang membenci Rida, Bun,"
"Bisa dijelaskan?"
Arrida dan Uwais sempat beradu pandang. Sesaat. Lalu mereka mengalihkan pandangannya pada kedua guru BK nya, ketika Uwais sudah duduk di sebelah Arrida.
"Okkey, kamu udah tau kan kenapa kamu dipanggil?" tanya Pak Lukman pada Uwais.
"Iya pak, tentang foto saya dengan Arrida,"
"Bisa dijelaskan?" tanya pak Lukman.
"Foto itu waktu saya nolongin Arrida hanyut Pak, saya melakukan RJP untuk dia, karena dia tidak sadarkan diri, denyut jantungnya sangat lemah, saat itu teman-temannya blm ada yang berani melakukan RJP, dan itu aslinya bukan foto tapi video yang diambil Roni, saat itu dia merekamnya dengan maksud untuk edukasi RJP secara real. Bapak bisa bertanya pada teman-teman yang menyaksikan,"
Pak Lukman mengangguk memahami ceritanya.
"Jadi bukan berciuman ya,"
"Sama sekali bukan, pak" kata Uwais malu-malu.
Pak Lukman dan Bu Sofia mengulum senyum kecil mereka, sambil menatap Uwais dan Arrida bergantian. Yang ditatap menjadi kikuk dan merasa malu.
"Kalau gitu yang harus kita selidiki sekarang siapa yang mem-posting nya," kata Pak Lukman.
Uwais dan Arrida mengangguk bersamaan.
__ADS_1
"Kalian mencurigai seseorang?" tanya pak Lukman pada keduanya.
Arrida dan Uwais saling menatap.
"Bukannya tadi kamu mau menjelaskan sesuatu Da?" tanya bu Sofia pada Arrida.
"Oh iya, Bu," kali ini Arrida mengubah panggilan pada bu Sofia, bukan lagi 'bunda' tapi dengan sebutan 'ibu'
Arrida pun menceritakan apa yang dialaminya.
'Hmmmh, anak muda anak muda ...." kata Pak Lukman menggelengkan kepalanya, sementara bu Sofia hanya menarik nafas panjang setelah mendengarkan cerita Arrida.
"Ya udah, selanjutnya biar bapak dan bu Sofia yang mengurusnya, kalian berdua kembalilah ke kelas," Perintah Pak Lukman pada Arrida dan Uwais
Namun Arrida hanya diam saja. Ada keraguan tersirat di wajahnya.
"Kenapa, Da?" tanya Bu Sofia menyelidik "Kamu gak mau ke kelasmu?"
Sebenarnya jauh dalam hati Arrida dia sedang ingin sendiri, dia tidak siap dengan tatapan-tatapan yang diberikan oleh siswa lain seperti tadi pagi, walaupun dalam hal ini dia difitnah namun masalah belum selesai, siswa lain banyak yang tidak tau kebenarannya, dan tidak mungkin juga harus menjelaskan satu satu.
"Oh nggak bu, saya akan masuk," Arrida berubah pikiran. Ia memilih untuk menghadapinya
" Yakin?" tanya bu Sofia lagi
Arrida mengangguk mantap.
Akhirnya dia dan Uwais keluar dari ruang BK. Berjalan bersama, saling membisu.
Uwais menjajari langkah Arrida menuju kelasnya
"Kak Uwais mau kemana? Gedung kelas dua belas kan sebelah sana?" tanya Arrida sambil menunjuk gedung kelas dua belas.
"Aku mau nganter kamu ke kelas,"
"Gak usah kak, ntar malah ada prasangka aneh-aneh lagi, masalah ini aja belum selesai,"
"Kamu gak papa kan?" tanya Uwais sambil menghentikan langkah kakinya. Arrida menoleh, hanya menatap tanpa menjawab pertanyaan dari Uwais
"Oh, okke, kamu gak perlu jawab, aku udah tau kalo kamu tidak baik-baik saja,"
Arrida tersenyum sedikit terkekeh
"Selalu seperti itu kak," seru Arrida.
"Apa?"
"Kakak selalu bertanya apa aku baik-baik saja, tapi tanpa aku jawab, kakak udah tau jawabannya,"
"Wajah kamu udah ngasih jawabannya Ar, kamu memang tidak baik-baik saja, namun kamu punya keyakinan bahwa kamu akan baik-baik saja," kata Uwais sambil menunjuk sekilas tepat di depan dada Arrida. "Kamu pasti bisa mengatasinya Ar, kita hadapi bareng ya,"
Arrida menatap Uwais penuh makna, hingga netranya tak mampu untuk berkedip. Ia seperti mendapatkan kekuatan dari semua yang Uwais ucapkan.
__ADS_1
"Kita hadapi bareng ya," gumam bathin Arrida mengulang kalimat terakhir yang Uwais sampaikan, yang membuat hatinya berdebar sangat kencang.
...🌸🌸🌸🌸🌸...