
Arrida tertawa sambil memegang dadanya. Dia masih mengatur nafasnya setelah tadi bermain flying fox. Rasanya begitu seru dan menyenangkan. Kemudian ia duduk di rerumputan sambil memperhatikan Fika dan yang lainnya bergiliran bermain flying fox.
Uwais datang menghampiri. Ia membawakan sebotol air mineral untuk Arrida.
"Minum dulu nih!" perintah Uwais pada Arrida
"Makasih, Kak," kata Arrida sambil menerima botol air mineral tersebut. Lalu membuka tutupnya dan meminumnya.
"Gimana? Seru, kan?"tanya Uwais.
"Banget!"
Tadi Arrida mendapat giliran bermain flying fox setelah Uwais. Jadi sekarang keduanya bisa istirahat sejenak.
"Pas naik jembatan kayu tadi, huh... itu berasa banget goyang-goyangnya, kerasa gak imbang, jadi lama banget jalannya, belum lagi yang ngelewatin two line bridge ... emh, ngeri-ngeri sedap!" kekeh Arrida. Uwais hanya tersenyum menatap wajah Arrida. Ia tahu, gadisnya itu memang menyukai hal-hal yang seru.
"Eh, Kak, lihat, ada pemandangan seru tuh!" tunjuk Arrida pada Arman yang sedang mendampingi Fika berjalan di two line bridge. Saat itu mereka terlihat kompak, bahkan Fika bisa tertawa lepas.
"Ah, sudah lama rasanya gak lihat mbak Fika tertawa seperti itu,"kata Uwais dengan sedikit raut muka yang tampak sedih.
Arrida menoleh, memastikan kalau cowok pujaannya itu tidak apa-apa.
"Tiga tahun yang lalu, Mbak Fika menangis di depan mamah dan papah, mempertahankan hubungannya dengan cowok yang baru dia kenal tiga bulan melalui medsos ... Saat itulah, tidak ada lagi tawa yang selalu menghiasi wajahnya ... yang ada hanya kesedihan ... hingga akhirnya Mbak Fika memilih untuk kabur dari rumah" cerita Uwais mengenang masa lalu.
"Kejadian itu, ketika Mbak Fika baru saja kuliah semester empat, andai kata dia meneruskan kuliahnya, seharusnya sekarang dia sudah lulus! Dia seangkatan dengan bang Dika." lanjutnya
"Emm" Arrida mengangguk.
" Oh ya, kalau bang Arman angkatan siapa, Kak? bareng bang Dika juga kah?"
"Dia lebih tua, lulusnya udah dua tahun yang lalu, di semester empat belas,"
"Hah? lamanya?"
"Iya, hampir saja jadi mahasiswa abadi, soalnya bang Arman pernah kecelakaan parah, hampir satu setengah tahun masa penyembuhan, ketika aku masuk kuliah, dia baru saja wisuda,"
"Hmm ... berarti bang Dika ngikutin jejak bang Arman, nyampe empat belas semester," Arrida terkekeh lagi. Diikuti senyuman di wajah tampan Uwais.
"Semoga, aja bang Dika segera lulus tahun ini! Dan aku harap mbak Fika juga mau kuliah lagi, dan kembali ke rumah, juga menemukan seseorang yang lebih baik," kata Uwais penuh harap.
"Kalo menurut kakak, bang Arman gimana?"
"Maksudnya, kamu mau nyomblangin mereka?"
"Ihh... Maksud aku ... kalo bang Arman, baik nggak?"
"Baik, dia sangat baik!" jawab Uwais tegas.
Arrida mengangguk-angguk.
"Kakak setuju kalo bang Arman dan mbak Fika?"
"Setuju aja, aku yakin bang Arman sangat bertanggung jawab dan tidak punya kelainan! Hanya saja, apa bang Armannya mau sama mbak Fika? Status dia aja masih istri orang, kalaupun akhirnya bercerai, dia itu janda,"
Arrida menarik nafas panjang. Ia membenarkan apa yang dikatakan Uwais.
"Hei, lihatlah Ar, tuh" Uwais mengalihkan pembicaraan. Kini giliran Uwais yang menunjuk kearah Kirno dan Lani. Saat itu, Lani sedang menerima uluran tangannya Kirno lalu menggenggamnya erat sambil tersenyum dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Dia baru saja turun setelah bermain flying fox.
"Wah, rupanya wahana outbound disini bisa menjadi comblang buat yang masih single," komentar Arrida sambil terkekeh.
"Hmm ... Sayang kamu gadis tangguh, coba aja kayak mbak Fika dan Lani, pasti udah aku tolongin dan dampingi."
Arrida melirik, matanya menyipit mencoba memahami maksud perkataan Uwais.
"Kenapa ngelihat kayak gitu? Kamu pengen didampingi dan dipegangi tangannya juga saat permainan tadi?"
"Haishh ... Kenapa aku? Kenapa nggak kakak aja yang ngaku, kalo kakak lah yang pengen pegang tanganku?"
Uwais terbahak. Tangannya seketika itu juga menggenggam tangan Arrida, membuat gadis itu terkejut.
"Eh,"
__ADS_1
"Sudah kupegang, jangan dilepas" kata Uwais penuh ketegasan.
"Aih, yang bener aja," Arrida berusaha melepaskannya, namun Uwais malah semakin mengeratkan genggamannya.
"Ini untuk semua wahana yang kita mainkan tadi ... Maaf, tidak mendampingi dan memegang tanganmu!"
"Plis deh kak, gak usah lebay, permainan tadi emang buat ketangkasan kita, memacu adrenalin kita, kalo kita memainkannya sambil pegangan tangan mana bisa?" protes Arrida.
Uwais terkekeh, dia pun melepaskan genggaman tangannya lalu mengacak-acak rambut Arrida dengan gemas.
"Dasar gadis tangguh," kata Uwais gemas.
Arrida tersenyum. Namun tangannya menarik telapak tangan Uwais, lalu menggenggamnya.
"Gak papa, gini aja dulu ya, Kak, nyaman" kata Arrida sambil bersandar di lengan Uwais.
"Hmm" Uwais mengiyakan dan tersenyum. Ia tak menolak ketika gadis kesayangannya itu bersandar di lengannya sambil menggenggam erat tangannya.
"Jangan tidur!" sindir Uwais mengingatkan Arrida saat mereka melihat sunrise di pinggir jalan dekat sawah. Ketika itu, Arrida bersandar di lengannya dan malah tertidur. Arrida terkekeh.
"Wah sayang banget, Kak, nih aku malah udah ngantuk" kata Arrida sambil menutup matanya dan menekan kepalanya ke lengan Uwais.
"Ish, anak ini" kata Uwais sambil menyentil pelan kening Arrida.
"Aww" Arrida melepaskan genggaman tangannya lalu mengusap pelan keningnya yang disentil Uwais walau sebenarnya tidak terasa sakit sama sekali.
Uwais pun hanya tersenyum. Ia tahu kalau gadisnya itu hanya berpura-pura.
πΌ
Setelah menikmati wahana outbound, kini mereka memilih bersantai naik perahu naga, untuk mengelilingi danau. Menikmati setiap pemandangan di sekitarnya. Hingga akhirnya, kesenangan di tempat wisata outbound hari itu pun berakhir, karena mereka harus pulang, terlebih Arrida dan Lani, mereka harus segera kembali ke asrama.
πΌ
"Ayo, aku antar pulang!" kata Uwais pada Arrida dan Lani, ketika mereka sudah tiba di resto.
Arrida mengangguk.
"Eh, aku juga ikut nganter ya." kata Kirno. Ia ingin ikut serta mengantarkan kedua gadis itu ke asrama.
"Heee, bentar aja bang," Kirno nyengir.
Arman menggelengkan kepalanya, ia tahu maksud dari adiknya itu, karena saat di tempat outbound, ia bisa melihat interaksi antar Kirno dan Lani.
"Mau pedekate? Kuliah dulu yang bener," kata Arman.
"Iya, iya bang ... buat penyemangat lah, siapa tau dia juga mau," Kirno masih cengengesan. Sementara Lani hanya tersipu. Diam-diam, dia juga mulai tertarik dengan Kirno, yang menurutnya tampan seperti oppa Korea.
"Ya udah, bang, kita anter dulu mereka, keburu jam malamnya abis" pamit Uwais pada Arman. Saat itu, Fika sedang ada di pantry membuat minuman hangat, sementara Andika, sedang menghisap tembakau di sudut teras resto.
πΌ
Arrida berjalan di depan bersama Uwais sementara Lani dan Kirno berjalan dibelakangnya.
"Makasih ya, Kak ... Hari ini bener-bener asik dan seru!" ucap Arrida.
"Hmm, iyya, syukurlah kamu seneng."
"Iya, apapun asal bareng kakak"
Uwais tersenyum bahagia.
"Abis ini, cepat tidur ya, besok kamu jadi ke resto kan?"
"Ah iya, besok aku udah mulai kerja di resto ya? Okke deh, siap Tuan, saya akan bekerja dengan baik"
"Hahaha gak lucu, Ar ... berasa seorang majikan dipanggil kayak gitu!"
"Hehehe, emang gak pengen jadi Tuan besar?"
"Biasa aja Ar, besok juga itu mau aku kasihkan ke orang."
__ADS_1
"Maksud kakak, restonya mau dikasihin ke orang?"
"Iya," jawab Uwais singkat
"Cuma-cuma?"
"Mungkin,"
"Kenapa mungkin?"
"Karena sebenarnya aku memberikan itu untuk membalas jasa orang itu, sebagai rasa terimakasih ku padanya,"
"Wah, beruntung sekali dia? Emang apa yang udah dia lakukan?"
"Banyak hal, sampai akhirnya aku seperti ini"
"Bang Arman kah?" tanya Arrida
"Bukan,"
"Bang Dika?"
"Juga bukan,"
"Mas Fariz ya, kan dia udah banyak ngasih ke kakak"
"Juga bukan,"
"Om Ridwan kah? atau tante Tania?"
"Hahaha, untuk apa mamah papah pengen usaha anaknya yang gak seberapa ini?"
"Wah, resto kakak itu udah gede lho, Kak, ke depannya bisa lebih prospek lagi" kata Arrida.
Uwais tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Jadi, siapa yang akan kakak kasih, resto yang udah kakak bangun dari nol hingga sekarang ini? Luar biasa sekali dia bisa mendapatkan resto dari kakak ... Istimewa banget ya orang ini?"
"Ya, sangat istimewa,"
"Apa aku kenal dia?"
"Nanti kalo uda saatnya aku kenalin ma kamu ya,"
Arrida mengangguk, walau ia masih sangat penasaran. "Siapa orang yang istimewa itu?"
Ada rasa yang tak nyaman di hati Arrida. Pikirannya berkecamuk, menduga-duga apakah orang itu pria ataukah wanita.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers
Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini
Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya
Sehat selalu ya kakak readers
Hatiku Padamu Kak readers pake banget...
Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa
π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ
...ππππππππππππππππππ...
...Oh iya kakak readers... mampir juga yuks ke novel temenku .... bagus banget lho .... karya: Febyanti ππ»π₯°π₯°π₯°...
__ADS_1
...Happy reading yaaaππ»π₯°...
...ππππππππππππππππππ...