Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
10. Topi.... dan perasaan apa ini?


__ADS_3

Pagi ini tampak cerah. Mentari pagi dengan suka hati melaksanakan tugasnya. Menyinari alam.


Para siswa bergegas ke lapangan untuk melaksanakan upacara bendera.


Arrida datang agak siang. Dia baru saja turun dari angkutan umum. Selama ini memang Arrida tidak pernah berangkat bersama ibunya. Dia lebih memilih menggunakan angkutan umum atau diantar kakaknya.


Pintu gerbang belum ditutup, karena masih sepuluh menit lagi upacara baru dimulai. Ruangan kelasnya sudah sepi. Di koridor sekolah pun hanya ada beberapa anak saja yang juga sedang bergegas ke lapangan. Biasanya memang lima belas menit sebelum upacara para siswa harus sudah di lapangan untuk mempersiapkan diri.


Arrida mengambil langkah besar. Sangat tergesa-gesa. Sampai ikatan tali sepatunya terlepas pun dia tidak peduli. Dia juga tidak terlalu memperhatikan kanan kiri, hingga dia terkejut ketika ada sebuah tangan mencengkeram lengannya. Refleks Arrida membalikkan tubuhnya melihat siapa yang tengah menghentikan langkahnya.


"Pake ini!" Uwais memasangkan topi sekolah di kepala Arrida. Arrida terpaku. Ia mengingat sesuatu. Kalau ternyata ia lupa membawa topinya. Padahal sebelum berangkat sekolah tadi sudah diingatkan oleh bu Sofia.


Rupanya orang yang menahan langkah Arrida adalah Uwais. Ia melihat Arrida yang sangat tergesa-gesa ke lapangan tanpa mengenakan topi.


Arrida masih dengan tatapan kosongnya. Tapi Uwais tidak peduli, dia malah berjongkok membenarkan tali sepatu Arrida. Gadis itu hanya terdiam. Otaknya serasa lambat berpikir. Ia seakan mengijinkan cowok itu membetulkan tali sepatunya.


"Udah cepetan sana, ntar kamu dihukum!" kata Uwais yang sudah berdiri di hadapan Arrida. Dia telah selesai mengikat tali sepatu gadis cantik yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Eh iya ... Makasih ya, Kak,"


Arrida tersadar ia langsung bergegas menuju lapangan. Tidak ingin memperlihatkan geroginya.


"Dia sungguh lucu dan menggemaskan," gumam Uwais dalam hati.


๐ŸŒผ


Arrida masuk ke dalam barisan kelasnya, ia mensejajari Nana dan Hani.


"Kesiangan Da?" tanya Hani setengah berbisik.


"Iya," jawab Arrida singkat. Mereka kemudian fokus untuk mengikuti upacara.


Sementara Uwais masuk ke dalam barisan siswa yang tidak disiplin dalam mentaati aturan sekolah terutama saat upacara bendera. Dia bergabung bersama tujuh orang lainnya.


Setelah selesai upacara, para siswa berhamburan, ada yang menuju ruang kelasnya, ada yang ke kantin, ke ruang osis, ke toilet, dan ada juga yang masih duduk-duduk di lapangan.


Arrida sendiri bermaksud mengembalikan topi ke kelas Uwais. Namun langkahnya terhenti ketika banyak anak-anak terutama putri masih setia di pinggir lapangan. Nana dan Hani juga ternyata berada diantara mereka. Karena penasaran, Arrida pun menerobos masuk diantara kerumunan, mendekati Nana dan Hani.

__ADS_1


"Ada apa sih Han, Na?" tanya Arrida, "Katanya kalian ke toilet, lah kok malah nyangkut disini?"


"Lihat tu, Da, ada pemandangan luar biasa!" kata Nana heboh sambil menunjuk objek yang dia maksud.


Tampak Uwais sedang berlari berkeliling bersama tujuh anak yang lain yang tidak disiplin. Mereka melepas seragam putih dan kaus dalamnya. Mereka berlari memamerkan bagian atas tubuhnya.


"Lihat body Kak Uwais, bikin hati makin meleleh ini mah!" celetuk Nana.


"Belum pernah kan, lihat kakak tampan berlari di lapangan?" Nana menambahi. Bahkan kini terlihat beberapa siswi mengabadikan momen itu di ponselnya.


"Iya neh, tumben banget orang kayak kak Uwais bisa dihukum," Hani menimpali.


Arrida mematung. Ia baru menyadari jika Uwais dihukum karena saat upacara tidak mengenakan topinya.


"Han, Na, semua karna salahku!" ujar Arrida tanpa mengalihkan pandangan nya dari Uwais. Hani dan Nana langsung menoleh, mencari tahu apa yang dimaksud oleh Arrida


"Topi kak Uwais aku yang pake," kata Arrida datar sambil memperlihatkan topi yang dipegangnya.


"What?? Kok bisa? Kok bisa?" Nana tidak sabar ingin ada sebuah penjelasan dari Arrida.


"Tadi dia kasihin ke aku, dan aku sendiri lupa bawa topi,"


"Dia sendiri yang ngasihin ke aku, dan tadi aku langsung aja ke lapangan, ga sadar kalo kak Uwais gak pake topinya,"


"Tapi gak papa lah, dengan gini kan, kita jadi bisa lihat kak Uwais lari-lari telanjang dada," sanggah Nana kemudian setengah terkekeh


"Tapi ngomong-ngomong, kak Uwais kok bisa ngasih topi ke kamu, Da?" tanya Hani penasaran.


"Entah," Arrida mengedikan bahunya.


"Perhatian banget dia ma kamu ... Jangan-jangan ... Kak Uwais ada hati ma kamu, Da!" kata Hani menebak.


"Hush ... Kan, ga boleh ge-er apalagi baper," sanggah Arrida memilih mengabaikan apa yang sedang dia rasakan.


"Tapi, aku kok yakin ya, kalo kak Uwais punya hati ama kamu, dia baik banget ma kamu, sering banget nolongin kamu kan, Da?" kata Hani mantap.


"Dia kan emang baik ke semua orang, Han," kata Nana kini. "Inget ga, kita pernah lihat dia nolongin ibu-ibu nyebrang bawa barang banyak, dia bantuin manggul barangnya nyampe ke becak, dia juga pernah nolongin ibu hamil yang mau naik angkutan bareng anaknya yang masih kecil, dia bantuin gendong anaknya dan naikin ke angkutan, belum lagi yang bantuin kakek-kakek pengemis nyebrang, udah gitu dia kasih uang buat tu kakek?" cerita Nana yang beberapa kali memang pernah melihat Uwais bersama Arrida dan Hani. Dia sedang menolong orang saat di luar jam sekolah.

__ADS_1


"Iya seh, Na, kamu bener banget, itu sekilas yang kita lihat di jalanan, belum lagi pertolongan yang ama kita-kita, orang yang udah dia kenal," ujar Hani setuju dengan kenyataan bahwa Uwais memang memiliki jiwa penolong yang luar biasa. Dia ingat pernah ditolongin memasang tenda waktu kemah, terus teman-temannya dibawain peralatannya, dan jangan lupakan Uwais adalah sosok yang sangat sabar jika mendampingi para andik. Serta hal-hal kecil lainnya, yang semua itu memang menambah nilai positif untuk Uwais.


"Makanya, inget kata kak Rian, jangan ge-er apalagi baper," ujar Arrida sambil menghela napas cukup dalam. Hani dan Nana mengangguk membenarkan


"Eh, ini guru-guru jadi rapat ya?" tanya Hani kemudian


Arrida menganggukkan kepalanya. Ia teringat kalau bu Sofia sempat bilang bahwa pagi ini akan ada rapat setelah upacara.


"Oh, pantesan masih banyak anak-anak di luar kelas," sahut Nana.


"Termasuk kita kan, Na?" Arrida mengerlingkan matanya pada Nana sambil memberikan senyuman yang penuh isyarat.


"Kantin dulu, yuk," ajak Nana akhirnya.


Arrida dan Hani pun tertawa setuju.


"Ayuk ... Aku mau beliin minum buat kak Uwais, sekalian balikin topi sebagai tanda terimakasih, kalo bukan karena dia pasti aku lagi di hukum," ujar Arrida.


"Iya bener, ntar aku temenin ketemu kak Uwais ya," Nana bersemangat.


"Modussss" cibir Hani.


"Biarin, kapan lagi coba?" Nana membela diri


Mereka pun ke kantin, hanya untuk membeli minuman. Tak lama kemudian, mereka kembali ke lapangan. Disana terlihat Uwais dan lainnya telah menyelesaikan larinya, mereka sedang mengenakan seragamnya kembali.


Ketiganya bermaksud menghampiri Uwais, namun langkah mereka terhenti ketika melihat Erna telah lebih dahulu mendekati Uwais sambil membawa sebotol air mineral. Dari kejauhan mereka melihat interaksi keduanya. Erna menatapnya penuh perhatian. Sementara Uwais hanya tersenyum sambil menerima botol air mineral dari Erna.


Ah, ada sesuatu yang sakit di hati Arrida, hingga Arrida merasa susah sekali menelan salivanya. Raut mukanya berubah, lebih tampak kecewa dan sedih.


"Perasaan apa ini ... Kok sakit ya?" gumam hati Arrida.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Makasih kakak readers udah mampir n baca kisah Uwais dan Arrida


Semoga suka dan terhibur ya

__ADS_1


Sehat selalu kakak readers


makasih atas dukungannya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2