Hijab Yang Ternoda

Hijab Yang Ternoda
114


__ADS_3

Sehan kini sedang memasukkan beberapa barang-barangnya ke dalam tas ranselnya.Hari ini rencana nya dia akan pulang ke Jakarta karena pekerjaan dan juga rencananya untuk bertemu dengan orang tua gadisnya yang secara tidak sengaja pun kini sudah tercapai.


Sekarang ini yang bisa dia lakukan hanya berdoa semoga laki-laki yang menjadi ayah dari gadis yang di cintainya itu bisa memaafkan kesalahannya.


Tapi harapannya sekarang ini sepertinya akan pupus karena sampai sekarang laki-laki yang menjadi ayah dari gadis yang di cintai nya itu sama sekali tidak menegur ataupun menampakkan mukanya di hadapannya.


Entah mengapa hatinya begitu sangat sedih karena jalan untuk cepat-cepat menghalalkan wanita nya kini semakin sulit karena tidak bisa mendapatkan restu dan pasti kini laki-laki itupun sudah sangat membencinya.


Pemuda itu tidak marah sama sekali dengan apa yang di lakukan oleh laki-laki itu karena dirinya memang benar-benar pantas mendapatkan kebencian karena sudah menghancurkan masa depan putrinya.


Dia pun menyadari semua kesalahan yang telah membuat kedua orang tua itu harus kehilangan putri mereka dalam jangka waktu yang cukup lama.


Lima tahun bukan lah waktu yang singkat untuk keduanya melewati masa-masa yang sangat sulit.


Perlahan -lahan pemuda itupun mengetuk pintu kamar yang di tempati oleh calon mertuanya.


Tok... tok... tok


(suara pintu di ketuk dari luar)


"Pak".panggil Sehan berulang kali tapi lagi-lagi pemuda itupun merasa kecewa karena sama sekali tidak sahutan dari dalam kamar itu. Lalu dia pun berkata lagi


" Saya minta maaf atas semua kesalahan saya pak.Saya juga mau pamit karena hari ini saya akan pulang ke Jakarta.


Saya mengucapkan terima kasih karena bapak sudah mengizinkan saya untuk menginap di sini.Saya permisi.Assalamualaikum."


ucapnya sambil melangkah keluar rumah.


Hati pemuda begitu sesak saat pandangan mata nya kembali melihat kearah rumah.Pintunya sudah dia tutup rapat.


Dalam hati kecilnya dia begitu sangat berharap dia bisa melihat laki-laki sang pemilik rumah tapi lagi-lagi harapannya pun musnah karena kedua matanya tidak melihat sosok laki-laki itu.


Dengan langkah lesu berjalan ke arah mobilnya.Dadanha begitu sesak lalu dia pun menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan pelan.


"Ternyata beginilah rasanya".katanya sambil memasuki mobilnya dan dia pun duduk di bagian kemudi tapi saat dia ingin menyalahkan mobilnya tiba-tiba seseorang memanggilnya


" Anak muda".panggilnya dan dia pun melihat seseorang kini sedang berdiri tidak jauh dari mobilnya.

__ADS_1


"Bapak".


"Keluarlah kita harus bicara".ucapnya sambil berjalan menuju teras rumah dan duduk di kursi yang berada di sana.


Sehan pun langsung membuka pintu mobilnya dan dia pun langsung berjalan ke arah teras.


" Duduklah ".perintahnya dan pemuda itupun mengikutinya hingga kini keduanya sudah duduk di kursi dan di batasi oleh meja.


Sehan masih terdiam dan tanpa bicara.


" Sejak kapan kamu mengenal Ana?tanyanya tanpa kata Nak.


Pemuda itu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan.


"Saya kenal dengan Beana di sekolah.Waktu itu saya sudah kelas tiga dan saya juga menjabat sebagai ketua OSIS dan pada saat MOS saat itulah pertama kalinya saya mengenalnya.


Jujur saat pertemuan pertama itulah saya diam-diam mulai menyukainya.Semakin hari saya merasa kalau perasaan kepada nya semakin besar.Tapi saya hanya bisa melihat nya dari jauh.


Hingga suatu saat Beana mengambil kerja part-time di sebuah restoran dan ternyata restoran itu adalah punya saya.


Laki-laki itupun terdiam.


Sehan dapat melihat laki-laki itu mengepalkan tangan kanannya dan dia pun akan menerima nya jika memang benar-benar akan menghajarnya.


Dia pun ikhlas menerimanya karena dia pun merasa kalau dirinya bukan laki-laki yang bertanggungjawab.


Disaat dirinya sedang menunggu laki-laki itu menghajarnya tiba-tiba ponselnya pun berbunyi dengan masih menunduk


dia pun mengambil ponselnya dan dia pun melihat nama Id pemanggilnya


"Beana".ucapnya dalam hati.


" Bagaimana ini apa. yang harus aku lakukan apakah mengangkat nya atau ".ucapnya sambil terus melihat ke arah ponselnya yang masih berdering.


" Angkatlah siapa tau penting".ucap laki-laki itu tanpa melihatnya.


Pemuda itupun mengangkat ponselnya dan sengaja di loudspeaker agar laki-laki yang sedang duduk di sampingnya itu mendengarnya.

__ADS_1


"Halo".ucapnya


" Halo. Assalamualaikum ".kata orang di sebrang dan membuat laki-laki yang duduk di samping nya itu langsung melihat ke arah nya.


Deg... deg... deg


Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar saat dia mengenali suara di dalam ponsel itu.


" Ini".ucapnya sambil menutup mulut nya dengan kedua tangan nya agar putrinya tidak mendengarnya hingga tak lama panggilan itupun akhirnya mati.


"Apa yang tadi menelpon itu Ana".tanyanya dengan


mata yang sudah berkaca-kaca dan pemuda itupun menganggukkan kepala nya tanda iya.


" Jadi itu benar-benar putriku? tanya nya dan pemuda itupun menganggukkan kepala nya.


"Bawalah putriku pulang".pintanya.


" Maaf pak saya tidak bisa".


Laki-laki itupun melihatnya


"Kenapa?


"Itu karena saya belum menemuinya secara langsung".ucapnya jujur dan membuat laki-laki itupun terkejut


" Bagaimana bisa?


"Itu".ucapnya terhenti di tenggorokannya.


" Bagaimana aku bisa menjelaskan nya".katanya dalam hati.


Laki-laki separuh baya itupun hanya bisa melihat pemuda itu dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.


"Sebenarnya ada apa dengan mereka? tanyanya dalam hati.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2