
Laki-laki itu langsung berjalan cepat mendekati untuk wanitanya.Sungguh dirinya benar-benar takut karena keadaan wanitanya yang masih sakit.
"Be, kenapa kamu kesini? tanyanya sambil merangkul nya memegangi tubuh wanita nya yang masih terlihat lemah karena masih dalam keadaan sakit sambil salah satu tangannya memegangi tiang infus.
Wanita itu masih terdiam sambil melihat wajah laki-laki yang menjadi ayah putrinya.
"Aku antar kamu ke kamar,kamu masih lemas terus nanti kamu jatuh gimana? tanyanya dengan wajah khawatir dan mengambil alih tiang infus untuk di bawanya.
Wanita nya pun menurut lalu berjalan menuju kamar di mana putrinya kini sedang tertidur.
Pelan-pelan laki-laki itu membuka pintu kamar hingga sama sekali tidak menimbulkan bunyi supaya tidak mengganggu putri yang masih tertidur.
Setelah sampai di tempat tidur laki-laki itu dengan sigap langsung membantu wanitanya untuk berbaring di tempat tidur dan menyelimuti nya.
"Istirahatlah biar cepat sembuh".ujarnya.
"Kak Se".panggil Beana saat melihat ayah anaknya itu akan beranjak pergi.
"Iya".jawabnya.
" Maaf".
"Maaf!Kenapa kamu meminta maaf Be?tanyanya dengan wajah sedikit bingung.
" Karena lagi-lagi Ana menyusahkan kakak".ucapnya dengan nada sedikit sedih.
Laki-laki itupun menarik napas dalam-dalam laku menghembuskan nya pelan-pelan.
"Jangan pernah berkata seperti itu Be aku tidak merasa di repot kan, bagiku ini adalah tugas aku untuk menjaga kalian.Apa yang aku lakukan sekarang ini tidak sebanding dengan semua pengorbanan kamu jadi aku harap kamu jangan pernah bicara seperti itu lagi.Bisakan? tanyanya dan wanita nya pun akhirnya menganggukkan kepala tanda menyetujuinya.Lalu laki-laki itupun melihat kearah gadis kecil yang masih tertidur lelap di samping wanitanya.
"Ada apa kak kenapa wajah kakak kelihatan sedih? tanyanya ingin tau.
" Be".
"Iya kak".
__ADS_1
"Apakah aku pantas di panggil ayah?tanyanya sambil kedua matanya terus melihat kearah putrinya.
" Mengapa kakak berbicara seperti itu?
"Karena aku merasa sama sekali tidak pantas mendapatkan gelar seorang ayah".
" Mengapa kakak merasa tidak pantas?
"Itu".ucapnya sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya dan tanpa terasa dia pun menangis.
"Kak.Ana mengerti apa yang kakak rasakan tapi bukankah kakak sudah berjanji untuk memperjuangkan kami berdua. Apakah kakak sudah melupakan nya? ucapnya dan membuat laki-laki itupun langsung membuka kedua tangannya lalu langsung menatap lurus ke arah wanitanya.
"Apa kakak sudah ingat dengan perkataan kakak ke Ana? tanyanya dan laki-laki itupun menganggukkan kepalanya tanda sudah mengingatnya.
" Kamu benar Be, seharusnya aku tidak seperti ini sungguh aku benar-benar menyesalinya jadi bisakah kamu membantuku".
Beana pun tersenyum lalu dia pun menganggukkan kepalanya tanda iya.
"Tentu saja selama Ana bisa insya allah Ana akan bantu".
Wanita itupun melihat nya dengan wajah sedikit bingung
" Bantuan apa kak?
"Bantu aku untuk berbicara dengan putri kita".
" Maksud kakak".
"Be.Sebelumnya aku ingin menanyakan sesuatu kepada mu".
"Kalau boleh tau ini tentang apa?
" Tentang anak kita Samara".
Ucapnya dan membuat wanita itu mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Tentang Sam?
" Iya tentang Samara ".
" Memangnya ada dengan Sam kak?
"Putri kita tidak apa-apa tapi aku hanya ingin menanyakan satu hal kepadamu"
"Apa itu?
"Apa selama ini Samara tau kalau aku ini adalah ayahnya?
Deg... deg.. deg
Jantung Beana seakan-akan berhenti berdetak saat saat ayah dari putrinya itu bertanya kepada nya.
Wanita itupun terdiam hingga laki-laki itupun hanya bisa menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan pelan.
"Maaf kak Se ,Ana belum mengatakan nya".ucapnya sambil menunduk.
" Tapi Ana akan pastikan berbicara dengan Sam setelah Sam bangun Ana akan mengatakan semuanya ".
" Terima kasih sudah mau membantu".
"Sama-sama kak".
"Sekarang istirahatlah biar kamu cepat sembuh.Jujur aku rindu dengan masakan kamu".
" Baik".
"Aku keluar dulu".izinnya sambil berjalan keluar dari dalam kamar.
Beana hanya bisa melihat kepergian laki-laki itu tanpa berbicara lagi.
" Pasti kak Se sedih karena belum bisa mendengar suara. manja putrinya itu memanggilnya dengan panggilan Ayah".
__ADS_1
bersambung