
Seminggu kemudian.
Hari ini Beana memutuskan untuk mulai masuk sekolah, sudah satu minggu dirinya tidak masuk sekolah dan itu yang membuat pikiran menjadi tidak tenang karena ini akan berpengaruh kepada dirinya yang bisa bersekolah karena mendapatkan beasiswa.
Sebagai siswa-siswi yang bisa bersekolah karena beasiswa itu harus mempunyai nilai yang bagus dan juga mempunyai absen yang bagus juga.
Sebelum berangkat Beana merapihkan pakaiannya dia kini berdiri di cermin,di pandangi nya sosoknya yang sedang berdiri menghadap cermin.
"Cara berpakaian ku begitu tertutup lalu mengapa laki-laki begitu berani telah menyentuh ku.Jika aku bertemu dengan nya hari ini apa yang harus aku lakukan?Aku benar-benar belum siap untuk bertemu dengan nya. " gumamnya dalam hati.
Setelah mengatur napas nya gadis itupun berjalan keluar dari kamar kostnya menuju lantai bawah setelah dia mengunci pintu kamar nya terlebih dahulu.
Mobil angkutan umum berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Keluar lah sosok gadis cantik. berhijab memasuki gedung sekolah yang belum terlalu ramai.
Beana sengaja berangkat sekolah jam enam pagi agar dirinya bisa menghindar dari sosok laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya.
Hati gadis itu terus saja gelisah apalagi rasa takut kini mulai menghampirinya.
"Mudah-mudahan laki-laki tidak melihatnya".doanya dalam. hati sambil pandangan matanya terus saja melihat-lihat di sekelilingnya takut tiba-tiba laki-laki itu melihatnya.
Di tengah rasa takut dan gelisah tiba-tiba seseorang memegangi pundaknya.
__ADS_1
Gadis itu pun terkejut.
"Jangan-jangan itu dia".gumamnya dalam hati.
" Ana".panggilnya.
Gadis itu terkejut saat mendengar seseorang memanggilnya ternyata seperti suara perempuan tapi dirinya masih belum berbalik takut laki-laki itu berada di belakangnya.
"Ana".panggil seseorang dengan sedikit keras.
Gadis itu seperti mengenal suara nya karena suaranya itu seperti suara Rasty sahabatnya lalu dengan pelan dia pun langsung berbalik dan di lihatnya wajah sahabatnya yang sedikit cemberut sambil menatapnya.
" Rasty ".
"Elo mau bertanggung jawab kalau sampe suara gue hilang?
"Maaf".
Rasty mendadak menjadi diam saat gadis yang berada di hadapan nya itu hanya menjawab singkat padahal dirinya sedari tadi sudah ngoceh-ngoceh ngga jelas,setau nya gadis itu cukup banyak bicara jika bertemu dengannya dan juga Almira tapi mengapa sekarang malah sebaliknya gadis itu tidak banyak bicara malah terbilang irit bicara.
" Elo sudah sehatkan Ana?
__ADS_1
"Iya".jawabnya lalu kembali melanjutkan jalannya menuju ruangan kelas nya dan Rasty pun mengikutinya. Keduanya pun berjalan tanpa bicara hingga mereka sampai di ruang kelasnya.
Setelah memasuki ruangan kelasnya kedua gadis itu pun langsung menjatuhkan tubuhnya di kursinya hingga sayup-sayup dia mendengar beberapa orang sedang membicarakan sesuatu dan sekilas dia mendengar nama Sehan sang ketos yang menjadi perbincangannya.Diam-diam pun dia pun menguping ingin tau.
Beana masih terdiam di tempat nya sedangkan Rasty pun menjatuhkan kepalanya di atas meja dirinya seakan-akan tidak perduli dengan ocehan teman-tamannya.
Beana berpura-pura sibuk dengan tasnya padahal. sebaliknya di hatinya mulai merasakan sedikit was-was saat mendengarkan nya. Dia mencoba untuk bersikap tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan teman-temannya.
Tibalah saatnya mendengarkan gosip yang sedang beredar di sekolah.
"Gue dengar-dengar kak Rizwan kini yang menggantikan posisi kak Sehan menjadi ketua OSIS".kata siswi satu.
" Iya elo benar banget kan posisi kak Rizwan sebagai wakil ketua OSIS memang harus mengganti nya apalagi kak Sehan kan sudah tidak bersekolah di sini lagi jadi mau tidak mau posisi ketua OSIS harus ada yang menggantikan ".
Deg... deg... deg
Dada Beana tiba-tiba berdetak sangat kencang saat mendengar kalau laki-laki yang telah merenggut mahkota nya kini telah pindah sekolah.
Pelan-pelan tangan gadis itu meremas tasnya yang berada di atas meja.
" Mengapa laki-laki itu begitu kejam kepadanya, laki-laki itu telah mengambil kesuciannya dan kini laki-laki itu pergi meninggalkan nya.
__ADS_1
"Kamu jahat kak Se".gumamnya dalam hati.
bersambung