
Istri Arjuna Bab 51a
Menyeka tubuh orang sakit, selintas terdengar seperti urusan sepele di telinga. Juna begitu percaya diri menyanggupi, nyatanya tidak semudah kedengarannya. Bukan masalah pasiennya yang rewel. Justru hasratnya lah yang merengek lebih rewel, tak paham situasi dan kondisi.
“Ehm, a-aku akan mulai sekarang,” ucap Juna gugup.
“I-iya, ba-baiklah.” Anggi mengangguk setengah hati. Merasa rikuh meskipun yang menyeka suami sendiri. Andai perawat yang melakukannya pasti rasanya tidak akan secanggung ini. Akan tetapi, apa mau dikata. Keputusan Juna amat susah untuk dipatahkan. Wataknya gigih jika menghendaki sesuatu.
Juna meneguk saliva. Tenggorokannya terasa kelat. Sudah beberapa waktu dia tidak tenggelam dalam kehangatan istrinya, sehingga begitu piyama atasan dibuka, punggung mulus Anggi seolah mencibir menertawakannya. Hanya bisa melihat dan menyentuh alakadarnya, bahkan terhalang washlap yang melapisi telapak tangan saat menyeka.
Mencelupkan tangan yang terbungkus washlap ke wadah air hangat, Juna mulai mengangsurkan tangan di kulit halus mulus Anggi perlahan. Bagi Juna, kegiatan ini lebih mirip serupa arena uji nyali yang memicu adrenalin. Lebih menantang dari kegiatan arung jeram dan paralayang, karena Juna harus berperang mati-matian dengan gairahnya sendiri.
Wajah Anggi sudah semerah tomat masak. Merasa malu luar biasa, terlebih lagi di kala hari terang tubuh bagian atasnya terpampang nyata di hadapan Juna. Hanya menyisakan bra tipis berenda sebagai pelindung juga penyangga sepasang aset yang semakin hari kian ranum imbas dari kehamilan.
“Angkat lenganmu sedikit,” pinta Juna yang berusaha tetap kalem, meskipun jantungnya kini tengah melompat-lompat di dalam sana. Tantangan bertambah sulit ketika harus menyeka bagian itu, begitu dekat dengan area yang menyembul. “Dan … dan buka bra yang kamu pakai. Aku harus menyeka seluruh tubuhmu sampai bersih, seperti pesan perawat tadi.”
“Eh, gi-gimana?” Anggi merespons seperti orang linglung. Sungguh, dua orang ini begitu menggemaskan sekarang. Yang satu canggung karena malu, yang satu lagi di gugup lantaran dilanda debaran baru.
__ADS_1
“I-itu harus dibuka. Supaya aku bisa menyeka lebih mudah. Mau buka sendiri atau aku bukakan?” tawarnya tak seperti yang sudah-sudah.
Biasanya tanpa meminta persetujuan, Juna akan menarik secarik kain itu jika dia ingin. Hanya saja hadirnya riak-riak indah yang menari di telaga sukma melemahkannya, membuat Juna seolah kehilangan taringnya. Getaran yang baru terasa dan terbaca setelah terpisah jarak.
“Hah?” Lagi-lagi Anggi dibuat tercengang dan terheran-heran. Seorang Arjuna meminta persetujuan untuk hal semacam ini merupakan rekor baru.
"I-iya, mau dibantu atau tidak bukakan bra?" Tulang pipi Juna bersemburat kemerahan saat menawarkan untuk kali kedua.
“Tolong ... tolong bukakan? Selang infus ini membuatku tak bebas bergerak.” Meskipun canggung, akhirnya Anggi meminta lantaran memang benar ia tak memungkinkan untuk melakukannya sendiri.
Jemari Juna terulur diikuti anggukkan tipis. Tangannya sedikit gemetar ketika membuka kaitan bra di punggung. Juna laksana pengantin baru yang bermalam pertama untuk pertama kalinya.
Juna membuang napas kasar. Dia merasa seperti sengaja menantang badai. Menahan diri mati-matian dan berusaha fokus pada tugasnya.
Selesai dengan tantangan membersihkan bagian tubuh atas, tibalah saatnya menyeka tubuh bagian bawah. Hal tersebut sukses membuat kepalanya semakin pening. Berdenyut hebat memprovokasi.
Juna mengumpat dalam hati. Menyumpahi hasratnya yang begitu lemah dan mudah tersulut saat bersentuhan kulit dengan Anggi. Sedangkan si cantik bermanik sendu itu membuang muka ke arah lain selama proses menyeka berlangsung, pandangannya bergulir ke sana kemari dengan pipi yang sudah memanas malu sepenuhnya.
__ADS_1
Acara menyeka dan mengoleskan obat yang penuh dengan tantangan akhirnya selesai dalam waktu empat puluh menit. Juna juga membantu Anggi berpakaian hingga menyisir rambut.
“Makasih, Mas,” cicit Anggi pelan sembari menunduk.
“Hmm,” jawab Juna singkat, lidahnya kelu tak tahu harus berkata apa bertepatan dengan Marina bersama Ningrum memasuki ruangan.
“Anggi, bagaimana keadaanmu, Nak. Ibu terkejut mendengar kamu masuk rumah sakit.”
Ningrum menghambur memeluk putri bungsunya sambil menangis karena khawatir. Para ibu langsung bercakap-cakap dengan Anggi dan Juna berpikir untuk keluar ruangan barang sebentar saja, guna meredakan tegangan tinggi di seluruh tubuhnya, terlebih lagi di bagian tertentu, dengan tak lupa berpesan sebelum keluar ruangan.
“Bu, Mi. Titip Anggi. Aku mau membeli kopi sebentar. Tapi tolong, jangan mengajak Anggi mengobrol terlalu lama. Dia tidak boleh kelelahan, terlalu banyak bicara bisa menguras energi juga.”
“Iya, iya,” jawab Marina sebal juga gemas. Putranya ini semakin overprotective semenjak Anggi mengandung. “Mami juga tahu, kamu beli kopi saja dengan tenang,” usir Marina halus pada sang putra sambil mengibaskan tangan.
“Benar ya, Mi. Jangan mengajak Anggi mengobrol terlalu lama,” ucap Juna lagi mengingatkan, tampak ragu untuk pergi.
“Ya ampun, Arjuna! Sudah beli kopi sana! Jangan ngelonin istrimu terus. Mami juga bisa jagain Anggi!” seru Marina kesal, kemudian mendorong punggung putranya hingga mencapai ambang pintu dan melotot menyuruh Juna pergi saja.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Juna pergi dari sana, lalu baru teringat akan hal penting lain yang sempat terlupakan akibat diterjang kepanikan, yaitu tentang kronologi jatuhnya Anggi di restoran.
Bersambung.