
Istri Arjuna bab 55b
Aura kehamilan ditambah pendar sukacita, menciptakan rona kemerahan begitu cantik merebak di pipi mulus Anggi pagi ini. Ia sedang memilih padu padan pakaian untuk dikenakan suaminya. Mencari yang cocok dengan suasana akhir pekan, tetapi tetap sopan mengingat Juna memiliki acara pertemuan penting bisnis.
Celana jeans Armani juga kemeja putih Ralph Lauren dipilih Anggi untuk outfit Juna hari ini, sementara suaminya itu sedang membersihkan diri lagi akibat kembali berkeringat setelah mengulangi peleburan seperti semalam sebelum menyantap senampan sarapan.
Selepas mandi bersama di pagi buta, Juna menyeret Anggi berkubang dalam gairah membara tepat ketika mereka hendak berpakaian. Pagi yang dingin, berubah panas hanya di kamar mereka.
Maklum saja, sudah beberapa waktu kegiatan peleburan diliburkan. Membuat Juna yang sudah lama menahan, tak mampu membendung keinginan membelai wanita tercintanya lagi dan lagi ketika mereka berdekatan.
Juna memesrai Anggi piawai mengerahkan seluruh kemampuan. Membuai wanitanya pada awalnya yang berujung tuntutan ingin dipuaskan.
Anggi menepuk-nepuk pipinya yang memanas. Tersipu juga bahagia. Kini, Juna memujanya bak ratu. Membisikkan kata cinta juga terima kasih setiap kali kegiatan saling memuaskan nafkah batin usai.
Juna muncul sudah segar dalam balutan handuk melilit sebatas pinggang. Dia menyeringai. Berjalan mengendap-endap ketika melihat Anggi tengah fokus menunduk serius di sebuah lemari kaca yang menampakkan jejeran perintilan para pria. Yang setiap itemnya sudah pasti memiliki banderol harga mencengangkan.
Dengan langkah sepelan mungkin Juna mendekat. Menyergap dari belakang membuat Anggi memekik terkejut.
"Mas! Aku kaget tahu!" Anggi menggerutu, sedangkan si pelaku malah terkekeh, lalu mendaratkan kecupan-kecupan gemas di sepanjang tengkuk, leher juga pipinya hingga Anggi kegelian.
"Kamu lagi apa? Serius banget?" Juna bertanya sambil memeluk mesra. Menopang dagu di bahu Anggi.
"Aku lagi milih jam tangan sama gesper yang cocok buat Mas pakai hari ini. Yang terkesan santai tapi tetap elegan," jawabnya sembari kembali fokus memilih. "Kira-kira yang mana ya? Aku khawatir seleraku kurang sesuai."
Juna tersenyum merekah. Perhatian Anggi terasa berkali-kali lipat manisnya setelah hati juga lisan mengakui, tentang betapa berartinya istrinya ini bagi dirinya.
__ADS_1
"Terserah. Pilih yang kamu suka. Aku pasti akan memakainya," jawabnya.
"Yang benar? Gimana kalau ternyata aku lebih suka Mas memakai jam tangan warna pink bergambar hello kitty. Yakin, masih mau pakai?" Anggi menoleh, menaikkan sebelah alisnya sengaja ingin menjahili.
"Hey. Itu pengecualian!" sergahnya. Juna memicing dengan bibir mengerucut.
Gelak renyah berderai. Kini, Anggi tak ragu lagi tertawa lepas ketika sedang bersama Juna. Mengecup bibir suaminya yang cemberut, sebelum melanjutkan memilih dengan Juna yang terus menempelinya seumpama anak ayam yang mengekori induknya.
Mereka berdiri di hadapan cermin besar ruang ganti. Saling menatap dengan binar cinta yang sama melalui cermin tersebut.
"Bantu aku berpakaian," pinta Juna saat Anggi usai memilah. Meminta dengan nada memaksa khas seorang Arjuna. Namun, kini terbalut nada manis penuh kelembutan.
"Hih, Mas bukan bayi. Kan bisa pakai baju sendiri."
Anggi berpura-pura menolak, padahal hanya ingin menggoda saja. Juna berubah jadi suami manja semenjak rasa cinta gamblang dinyatakan dan Anggi menikmati itu. Sama sekali tak keberatan. Malahan ia gembira merasa diperlukan.
Pantulan di cermin menampakkan raga ranum Anggi di baliknya dan ternyata hanya baru bagian bawah saja yang tertutup kain berenda warna merah. Anggi memekik. Menyilangkan kedua tangan disusul sikutan kencang di perut Juna.
"Mas. Iseng banget sih! Aku kan malu!" geramnya gemas. Dengan terburu-buru menutupkan kembali jubah mandinya.
"Jangan ditutup. Kamu indah, aku suka," desisnya berat. Menahan tangan Anggi yang hendak mengikat kembali tali bathrobe.
"Tapi aku kedinginan," ucap Anggi terus terang.
"Bagaimana kalau kuhangatkan?" Juna mengkerling nakal, kemudian menunduk menyesap leher jenjang Anggi hingga berjejak.
__ADS_1
Sentuhan ahli Juna membuat Anggi tak mampu menolak. Menariknya dalam kubangan rayuan yang diciptakan Juna hanya untuknya. Erangan berpadu kembali mengisi ruang ganti, dengan sofa yang menjadi saksi.
*****
Juna hanya bisa mengantar Anggi ke rumah Freya tanpa sempat mampir. Seabrek pesan Juna berikan pada istrinya itu, termasuk meminta mengabari setiap satu jam sekali. Bik Tiyas ditugaskan ikut menemani. Wanita paruh baya itu berangkat bersama Pak Oman mengekori mobil tuannya.
Pandu sudah menunggu di lobi restoran berbintang lima yang merupakan lokasi tempat atasannya bertemu para rekan bisnisnya. Juna hampir terlambat lantaran malah mengarungi lautan asmara saat sedang diburu waktu.
"Pak, lima menit lagi acara dimulai." Pandu menyambut dan Juna mengangguk tanpa kata. Bersegera menuju tempat di mana semua orang sudah berkumpul.
Pukul satu siang pertemuan usai. Juna memilih bersantap bersama Pandu, berpisah dari perkumpulan. Dia menginginkan suasana yang lebih santai dan meminimalisir gangguan di saat sedang mengisi ulang tenaga.
Sulaman logo restoran pada sapu tangan yang terlipat di meja menarik perhatian Juna. Baru ingat bahwa tempat ini adalah restoran tempat di mana Anggi terjatuh.
Saking fokusnya pada pemulihan Anggi ditambah sibuknya pekerjaan yang kian menggila menggerus waktu, Juna sampai lupa akan niatannya yang ingin mencari tahu langsung pada pihak restoran tentang penyebab jatuhnya sang istri.
"Pandu,"
"Ya, Pak?" Pandu yang sedang menunduk sibuk mengunyah dessert mengangkat wajah.
"Aku ingin bertanya tentang hal penting pada pihak restoran. Bisa kamu atur supaya aku bisa bertanya sekarang juga pada staf atau manajer restoran ini?" pintanya terselubung perintah.
"Memangnya ada apa, Pak? Apa makanannya kurang enak? Tapi semua menu yang Anda pesan hanya menyisakan remah-remah," ujar Pandu sambil menunjuk piring-piring kosong di hadapan sang bos.
Juna menggoyangkan telunjuk.
__ADS_1
"Bukan tentang menu. Tapi ini tentang insiden jatuhnya istriku di restoran ini."
TBC