
Istri Arjuna Bab 69b
Mercy yang ditumpangi Juna dan Pandu langsung melesat ke tempat jual beli arloji. Juna ingin menebus kembali arloji istrinya khawatir sudah berpindah tangan pada pembeli lain.
Arloji Audemars Piguet couple yang satu pasangnya itu dibeli Juna seharga 350 juta rupiah, dijual Ayu dengan memasang harga 25 juta rupiah dan tentu saja si penadah jam mewah tersebut langsung membayarnya tanpa menawar lagi. Mengingat jam tangan tersebut harga prelovednya saja masihlah tinggi di kisaran harga di atas 60 juta rupiah walaupun tanpa sertifikat, terlebih lagi jam tangan yang dibawa Ayu masih mulus tanpa cacat.
Niatannya yang ingin menebus kembali berlangsung alot. Juna sudah menawarkan harga setara yaitu 25 juta rupiah, tetapi si penadah meminta harga dua kali lipat.
Hingga akhirnya Juna menunjukkan sertifikat asli jam tangan tersebut juga menunjukkan arloji yang dipakainya. Series nomor yang tertulis di arloji yang dijual Ayu tercantum di sana. Juna memberi pilihan, menerima uang 25 juta sebagai gantinya, atau dilaporkan pada pihak berwajib karena menjadi penadah barang-barang curian.
Sebetulnya, Juna bisa saja memaksa mengambil langsung arloji tersebut tanpa memberi sejumlah uang karena barang tersebut valid miliknya, tetapi Juna masih menawarkan kompensasi serupa, mengingat Ayu sudah mengambil sejumlah uang sebagai penukar jam tersebut. Ingin mengerucutkan masalah mendahulukan prioritas, karena saat ini yang penting mendapatkan kembali arloji istrinya sebelum membuat perhitungan dengan Ayu.
Juna dan Pandu sudah berada di parkiran. Dia memberitahu Anggi perihal jam tangan hilangnya yang dicuri oleh Ayu dan menerangkan bahwa arloji tesebut sudah didapatkannya kembali. Mengabarkan dengan kalimat hati-hati tak ingin istrinya terlampau tekejut.
Anggi terdengar geram, Juna mengingatkan supaya Anggi mengontrol emosi walaupun dia juga sama-sama marah. Perihal peringatan yang pantas untuk Ayu, Juna akan membahasnya langsung dengan Anggi. Bagaimana pun juga Anggi sebagai adik Ayu juga punya andil hak memutuskan. Meredam keinginannya untuk menyeret Ayu mentah-mentah ke kantor polisi sekarang juga.
"Jadi, tidak ada laki-laki spesifik yang ditemui Mbak Ayu selama beberapa hari ini?" tanya Juna pada Pandu.
"Tidak ada, Pak. Selama penguntitan beberapa hari ini, dia sudah dua kali masuk ke hotel melati yang sama dengan hari ini. Hanya saja tidak terindikasi keluar dengan laki-laki dari sana, tempo hari malah muncul dari dalam dengan beberapa perempuan berdandan glamor. Entah apa yang mereka lakukan di sana."
__ADS_1
Baru saja Juna hendak menimpali ucapan Pandu, ponselnya kembali berdering dan tertera nama Anggi di sana.
"Mas, tolong cepat pulang. Ibu, Mas. Ibu pingsan lagi." Anggi terdengar terisak-isak di sana.
Firasat tak enak langsung menerjang. Juna memerintahkan Pandu tancap gas dari sana. Memacu mobil secepat mungkin menerobos kemacetan berharap cepat sampai di rumah ibu mertuanya, lantaran isakan Anggi yang panik sudah pasti bukan pertanda baik.
Juna berlarian memasuki gang di mana tempat tinggal mertuanya berlokasi. Bukannya dia tak mampu maupun tak memiliki rencana membelikan rumah yang akses jalannya bisa dimasuki mobil, akan tetapi Ningrum yang menolak. Walaupun sempit, bagi Ningrum tempat tinggalnya itu bukan sekadar bangunan, tetapi rumah yang penuh kenangan.
Juna berderap masuk. Di dalam rumah, terlihat perawat menghubungi rumah sakit juga terdengar isakan Anggi dari dalam kamar mertuanya. Dia menerobos ke kamar dan terlihat Anggi yang duduk di sisi kasur menopang kepala ibunya yang tampak sudah siuman kembali.
Juna menghambur, ikut duduk di sebelah Anggi yang sedang menunduk terisak. Merangkul dan mengusap lembut punggung istrinya membuat Anggi menoleh sejenak dan kembali fokus pada ibunya.
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit lagi?" usul Juna lembut, meski tahu kemungkinan kesembuhan tetap tipis.
"Tidak usah, Nak. Di rumah sendiri lebih nyaman. Rumah sakit aromanya membuat mual," sahut Ningrum dengan seutas senyum lemah. "Juna, terima kasih, sudah merawat ibu selama ini, juga terima kasih sudah menyayangi anak Ibu lebih dari yang Ibu bayangkan," ucap Ningrum pelan yang tetap tersenyum meski pucat.
"Tak usah berterimakasih, Bu. Merawat orang tua sudah kewajiban seorang anak, juga sebagai suami sudah kewajibanku menyayangi istriku."
Meski tersendat, Ningrum kembali menderaikan permintaan yang sama pada Juna seperti yang sudah disampaikannya kepada Anggi sebelumnya, yakni tentang bayi Ayu nantinya.
__ADS_1
Juna tampak bimbang begitu juga Anggi. Anggi sendiri pun belum mengiyakan permintaan ibunya tadi pagi.
"Ibu tidak ingin kesalahan Ayu merecoki pernikahan kalian. Ibu merasa harus bertanggungjawab, dan Ibu akan merasa sangat berdosa jika rumah tangga kalian cekcok karena hal itu di masa depan. Cukuplah dengan kalian menjenguk sesekali nantinya."
Dengan berat hati Anggi dan Juna mengangguk meski enggan.
"Terima kasih, anak-anak baik. Juna, Anggi, tolong kalian siapkan air minum yang banyak juga beberapa kue. Sore ini para tetangga akan datang."
"Tetangga?" tanya Anggi dengan kening mengernyit sembari mengusap matanya yang basah.
"Iya, mereka akan menjenguk Ibu hari ini. Tadi pagi ketika kamu mandi, Ibu Rumini menyapa Ibu dari jendela dan menyampaikan bahwa sore ini para tetangga akan datang. Sekarang Ibu ingin tidur siang, rasanya ngantuk sekali, biar nanti sore bisa menyapa yang menjenguk."
Anggi tertegun sejenak, merasa nama itu sempat singgah beberapa hari lalu hanya saja terlupa di mana mendengarnya. Seingatnya yang namanya Ibu Rumini dulu sering mengobrol dengan ibunya di toko kelontong.
"Baiklah, Bu. Tidurlah." Anggi dan Juna membetulkan posisi tidur Ningrum dan perawat kembali memeriksa dengan saksama untuk dilaporkan kepada dokter sebab pasien ini sempat pingsan walaupun tak lama durasinya.
Setelah memastikan semuanya selesai, Anggi menyelimuti ibunya, lalu meninggalkan kamar dan menuju dapur meminta Bik Tiyas memeriksa persediaan air minum kemasan sementara Juna meminta Pak Oman membeli kue. Dengan membiarkan jendela kamar tetap terbuka seperti permintaan ibunya.
Bersambung.
__ADS_1