
Spesial Bab Sepuluh
Memasuki usia kehamilan kedua Anggi yang ke tujuh bulan, sindrom mengidam simpatik yang dirasakan Juna berkurang intensitasnya.
Setelah hampir empat bulan menjadi manusia aneh nan mesum yang ke mana-mana tak bisa berjauhan dari yang namanya bra lengkap dengan panty g string jika tidak ingin disiksa mual muntah tak berkesudahan, kini Juna bisa bernapas lega sebab sudah mulai terbebas dari mual dan ketergantungan perintilan pakaian dalam istrinya itu.
Namun, justru sekarang Anggi lah yang sering berkeinginan aneh-aneh. Salah satunya mendadak bangun di tengah malam dan ingin dipenuhi permintaan tak lazimnya tak mau ditunda. Mulai dari ingin makan bakar jagung di puncak di waktu menjelang subuh sampai ingin makan pisang goreng yang dimasak di tempat tinggal Pandu yang harus dibuatkan oleh Pandu juga.
__ADS_1
Seperti malam ini, pukul satu malam Anggi terbangun, mendadak merengek ingin makan pop mie. Awalnya Juna lega karena satu cup pop mie bukan masalah besar, tetapi kelegaannya meletus di udara saat Anggi meminta setengah memaksa inginnya makan pop mie yang biasa dijual di kereta api untuk pengganjal lapar penumpang selama di perjalanan. Juna yang semula sudah beranjak bangun hendak ke dapur kembali duduk di tepi ranjang di dekat istrinya.
"Sayang, makanan instant yang namanya pop mie itu mau dimakan di Bulan pun rasanya tetap sama. Enggak mungkin mendadak jadi rasa pecel," kata Juna agak sengit, mencoba memberi pengertian pada wanita hamil yang sedang merengek dengan perut buncitnya agar berpikir lebih realistis. Dalam keadaan mengantuk Juna dituntut tetap sabar meski pasti tak mudah.
Anggi mencebik sebal. "Ih, tetep aja rasanya beda, yang di kereta itu lebih enak. Memangnya Mas pernah naik kereta terus beli pop mie di perjalanan?"
"Enggak pernah, sejak lahir aku selalu berpergian ke manapun menggunakan mobil. Atau pakai pesawat dan jet pribadi. Juga, mie instant merupakan makanan yang ada di list terakhirku, masih banyak makanan sehat bergizi yang bisa jadi pilihan," jawab Juna apa adanya dan itu adalah jawaban keliru karena keinginan Anggi kian menggebu.
__ADS_1
"Tuh kan, makanya jangan sok tahu. Aku pernah makan pop mie di kereta semasa SMA, sewaktu pergi tamasya ke Yogyakarta bersama teman-temanku. Dan rasa pop mienya itu ngangenin banget, bahkan rasa enaknya sampai kebawa mimpi barusan. Aromanya yang sedap, kuahnya yang panas lezat dan segar, mienya yang kenyal semuanya terasa berliur di lidahku. Pokoknya aku maunya makan pop mie yang di kereta, mau sekarang!" Anggi merajuk keras kepala khas wanita hamil yang sulit mereda jika keinginannya belum kesampaian.
Juna mengehela napas dalam-dalam sebelum kembali berucap. "Gini, kusarankan mencoba dulu menyeduh pop mie dan makan di rumah. Lalu nanti coba kamu cicipi, apakah rasanya berbeda atau sama saja. Karena aku sangat yakin yang namanya pop mie rasanya tetap saja sama dimakan di manapun. Kecuali olahan masakan chef restoran bintang lima kebanyakan berbeda rasa tergantung tangan yang meracik walaupun jenis menunya sama."
Juna mencoba bernegosiasi. Tengah malam begini berkeliaran mencari kereta membawa-bawa wanita hamil sama sekali bukan ide bagus. Seperti kurang kerjaan saja.
Hanya saja usulannya barusan tidak mendapat respon positif meski realistis. Anggi turun dari kasur menuju sofa di sudut kamar dan berbaring miring di sana membelakangi posisi ranjang, memeluk bantal dan mulai menangis.
__ADS_1
"Padahal aku hamil begini juga bukan karena hasil bersolo ria. Tapi si penanam benih enggak mau bertanggungjawab membuatku jadi begini. Jahat!" racaunya, membuat Juna frustrasi pusing tujuh keliling.
Bersambung.