Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 37b


__ADS_3

Istri Arjuna bab37b


“Anggi.”


Suara dua orang wanita memanggil nama Anggi, menghentikan perseteruan suami istri yang sedang berlangsung sengit.


Seorang wanita yang memakai jaket balap menghambur ke arah Anggi, disusul di belakangnya mengekori seorang wanita cantik dan anggun yang perutnya mulai membuncit.


“Freya, Dara.” Senyuman Anggi mengembang, langsung bangkit menyambut Freya yang menghambur setengah menubruknya.


Ketiga wanita itu berpelukan gembira. Berbanding terbalik dengan ekspresi Juna yang melotot horor, menatap perut bawah Anggi lantaran terkejut akan aksi salah satu sahabat istrinya itu. Menubruk dan memeluk Anggi erat-erat padahal di dalam sana ada anaknya. Juna membatin kesal sekaligus paranoid, khawatir anaknya terkejut akibat terkena guncangan.


“Duh kangennya,” ucap Freya sambil mencubiti pipi Anggi. Begitulah cara sahabat tomboinya itu mengungkapkan rasa sayangnya sedari dulu.


Bola mata Juna kian membeliak, ada rasa tak rela saat Freya mencubiti gemas pipi Anggi. Bibirnya komat-kamit ingin mengomel. Juna bersungut-sungut dalam hati. Bagaimana kalau wadah tempat bersemayam anaknya itu lecet-lecet akibat dicubiti?

__ADS_1


“Senangnya ketemu di sini,” sapa Dara seraya menempelkan pipi kanan juga pipi kiri bergantian. “Sama siapa ke sini?”


“Ah, aku ke sini sama Mas Juna.” Anggi melirik suaminya dan kedua sahabatnya itu ikut menyapa Juna.


“Apa kabar, Mas Juna. Lama tidak bertemu,” tanya Dara dan Freya bersamaan, tetap menjaga sikap sopan dan ramah. Bagaimana pun juga usia Juna lumayan jauh di atas mereka.


Juna pernah bertemu beberapa kali dengan mereka. Dia juga mengetahui dua wanita ini merupakan sahabat Anggi sejak lama dari cerita ibu mertuanya.


“Kabar saya baik. Silakan dilanjut acara temu kangennya.” Juna menjawab sembari memaksakan senyum walaupun sulit akibat dilanda kecemasan yang sebetulnya terlalu berlebihan.


“Aku juga kangen, ya ampun enggak nyangka ketemu di sini. Kalian berdua lagi pada ngapain?” Giliran Anggi yang kini menyapa kedua sahabatnya itu.


“Aku ke sini mau beli baju buat besok, disuruh babeh. Calon mertuaku mau berkunjung ke rumah.” Freya terkikik senang.


“Aku juga tak sengaja bertemu Freya di parkiran. Aku ke sini mau ambil beberapa pesanan baju hamilku.” Dara menyahuti sambil mengelus perutnya yang mulai menonjol.

__ADS_1


“Si Dara tancap gas ini. Udah tekdung buat yang kedua kali, sementara aku satu kali pun belum pernah,” decak Freya sambil mengusap perut Dara gemas.


“Hush! Nikah aja belum. Malah ngiler pingin hamil!” Dara mencubit lengan Freya sambil melolotot galak.


“Awas ya! Jangan sampai kamu kebablasan sama ayang doktermu itu gara-gara kamu ngebet pingin blendung. Ini bukan arena balapan motormu yang bisa seenaknya curi start! Aku percaya sama pacarmu itu pasti bisa menahan, tapi aku justru enggak percaya sama kamu.” Anggi memicingkan mata memperingatkan.


“Eiy, enak saja!” sergah si tomboi bersungut-sungut sebal.


Ketiganya asyik bertukar kata. Anggi juga membantu Freya memilihkan baju. Seperti biasa si tomboi susah diatur. Malah lebih tertarik memilih model celana pria ketimbang gaun, membuat Anggi dan Dara sewot sendiri.


Saking senangnya bertemu para sahabatnya yang semakin ke sini semakin jarang bertemu dan sulit berkumpul lantaran disibukkan dengan urusan keluarga masing-masing, sampai-sampai Anggi terlupa akan Juna yang masih berada di sana.


Juna bersedekap menghunuskan tatapan memicing tanpa senyuman. Memperhatikan Anggi yang tersenyum lebar, senyum yang sangat jarang terlihat di wajah istrinya yang jelita.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2