
BAB 20a
Pertemuan dihelat hingga pukul dua siang dan akan dilanjutkan dengan jamuan makan malam kurang lebih tiga sampai empat jam mendatang.
Anggi berendam di lautan air dicampur minyak essensial mawar begitu kembali ke kamar, guna menyegarkan badan walaupun sama sekali tak berkeringat lantaran suhu ruangan disetel cukup dingin. Sedangkan Juna masih di area kafe hotel bersama beberapa pejabat pemerintah untuk acara bincang santai coffe break.
Puas berendam, hanya dalam balutan jubah mandi, Anggi membanting tubuh lelahnya ingin tidur barang satu jam saja. Supaya segar saat waktunya menemani Juna di pesta makan malam nanti. Menghadiri pertemuan penting ternyata menguras energi. Harus menjaga sikap bahkan makan dan minum pun tidak bisa bebas serampangan.
Anggi rebah terlentang. Sembari memejam, jemarinya memijat kepalanya yang sering pusing sekarang. Mungkin efek dari vitamin, pikir Anggi.
Ruas jemari kokoh memijat lembut pelipisnya bergerak seirama dengan tangannya. Anggi terkesiap dan mencebik sebal saat netranya otomatis membuka.
"Hih, aku kaget!" gerutunya kesal.
Juna terkekeh. Dia juga terlihat lelah tapi tampak senang. Sepertinya pertemuan tadi membawa banyak dampak baik untuk perusahaan.
__ADS_1
"Kamu capek?" tanya Juna yang kini mendaratkan bokong di sisi ranjang.
"Lumayan. Ngopinya sudah selesai?" Anggi melepaskan jemarinya dari pelipis, membiarkan Juna memijatnya sambil menatap pria tampan itu lekat-lekat. Juna yang semringah, amat sedap dipandang. Tidak seperti biasanya yang sering kali memasang raut garang.
"Sudah. Prospek Royal Textile semakin bagus, apalagi jika aku berhasil terpilih mendampingi menteri perdagangan dalam kunjungannya ke Eropa dalam rangka memperkenalkan berbagai komoditi unggulan Indonesia. Ekspor kain Royal Textile memang sudah terbilang terdepan jika untuk pasar Asia, mencapai enam puluh persen permintaan ekspor. Tapi untuk memuluskan jalan menembus pasar Eropa tidak mudah. Saat aku berkunjung terakhir kali ke Belanda, ternyata prosedurnya tidak semudah melebarkan sayap layaknya di pasar Asia. Semoga kali ini ada jalan."
Tanpa disuruh, kedua sudut bibir Anggi tertarik ke atas. Tersenyum ikut bahagia. Ini adalah pertama kalinya Juna bertukar kata dengannya membahas perusahaan. Terasa seperti suami istri sungguhan yang berkomunikasi akur. Kilat mata maskulin Juna saat bercerita penuh semangat, berapi-api.
"Semoga saja, Mas," sahut Anggi tulus dari lubuk hati."
Juna mengangguk dan tersenyum lebar. "Ya semoga."
Menunduk semakin dalam. Juna mendaratkan kecupan singkat di bibir merah yang sedang tersenyum itu. Deru napas mereka saling mengelusi satu sama lain. Begitu dekat, menerpa hangat.
Entah keberanian dari mana datangnya, Anggi tiba-tiba saja menarik tengkuk si pria yang menunduk itu. Menempelkan bibir mereka dalam rasa berbeda, ada kerinduan terpendam di dalamnya.
__ADS_1
Juna tidak ingin bibir itu terlepas. Mencerup dalam dan tak disangka pagutannya berbalas karena biasanya Anggi hanya menerima tanpa merespons. Awalnya hanya kecupan lembut. Lama-lama menjelma menuntut. Seolah kehausan lantaran ada api tak kasat mata membakar raga. Membuntukan pikiran.
Keduanya saling membelai satu sama lain. Hidung mancung Juna turun menghirup leher. "Emmhh ... kamu harum, aku suka," desis Juna di sela-sela cecapannya.
Tidak ingat lagi akan rasa malu, Anggi mendesah dengan punggung melenting. Merasa kehilangan dan tak rela saat Juna berhenti memesrainya.
Anggi bangkit dari baringan. Tak sabaran, tangannya tergesa melepas jas, dasi juga kemeja Juna begitu pun sebaliknya. Dengan cepat Juna melucuti jubah mandi yang dipakai Anggi dan mencampakkannya ke lantai. Bergabung kusut dengan pakaiannya di bawah sana.
Ada yang berbeda. Sentuhan Juna padanya kali ini begitu lembut penuh puja, membuatnya mendamba lebih. Mungkinkah efek dari suasana hati Juna yang sedang bahagia?
Sukarela, Anggi membiarkan dirinya dibawa mendaki nirwana. Membebaskan dirinya menyentuh dan disentuh. Entah mengapa Anggi begitu ingin sekarang.
Mata mereka menatap saling menyelami. Buliran keringat menjadi saksi saat puncak yang didaki tercapai, teriakan keduanya menggema nyaring. Terutama geraman Juna yang menyuarakan nama tak biasa.
"Anggita ...."
__ADS_1
TBC
Jangan lupa votenya ya, supaya makin naik posisinya novel kesayangan kita ini. Thankyou. 🤗