Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 63b


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 63b


Anggi mencari-cari sang kakak. Sejak ia datang, Ayu belum terlihat batang hidungnya. Padahal menurut keterangan Pak RT, justru kakaknya yang meminta ketua rukun tetangga dari daerah tempat tinggal ibunya itu untuk mengabari.


Ia ingin sekali bertanya mengenai kronologi kejadian yang membuat kondisi kesehatan ibunya mendadak turun drastis. Tidak mungkin drop begitu saja. Pasti ada sebab musababnya.


Anggi mencegat seorang perawat yang baru keluar dari ruang perawatan ICU, menahannya sebentar karena ingin bertanya.


“Suster, apa Anda melihat kakak saya? Dia datang bersama ibu saya. Pasien yang sedang terbaring di dalam itu adalah ibu saya.” Telunjuk Anggi mengarah pada kaca tembus pandang. “Tinggi badannya juga wajahnya hampir mirip dengan saya. Cuma kulitnya lebih putih dan rambutnya sebahu. Mangkinkah Anda tahu di mana keberadaannya? Saya sempat mencari ke bagian administrasi tapi juga tidak menemukannya.”

__ADS_1


Si suster tampak berpikir sejenak seperti sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu. “Oh iya. Saya melihatnya datang bersama pasien dan semalam menunggu di kursi tunggu ini. Tapi mengenai ke mana dia sekarang, saya juga tidak tahu menahu. Karena yang menyatakan diri sebagai ketua RT lah yang banyak mengurus segala sesuatu tentang pasien. Cuma seseorang dengan ciri-ciri seperti yang Anda sebutkan tadi tampak kurang sehat. Sempat meminta obat mual subuh tadi. Saya permisi, Bu. Masih ada pasien yang harus ditangani.”


Juna kembali setelah sepuluh menit yang lalu pergi mencari-cari kedai penjual makanan. Mencari yang paling dekat saja supaya tidak membuang waktu juga karena tidak ingin meninggalkan Anggi terlalu lama. Dia membeli sarapan sebab mereka berangkat tanpa sempat mengisi perut. Tentang dirinya sendiri Juna tak masalah sama sekali, akan tetapi dia khawatir akan istrinya yang sedang hamil jatuh sakit. Juna berjongkok di depan Anggi dengan sebelah lutut bertumpu di lantai. Membuka kemasan makanan yang dibelinya lalu menyendoknya.


“Sayang, buka mulutmu. Kamu harus makan. Hanya ada nasi uduk ini yang kutemukan paling dekat. Yang penting perutmu terisi dulu.”


Anggi menggeleng pelan. “Aku enggak lapar, Mas,” sahutnya lirih, matanya masih berkabut oleh tirai air mata. Hidungnya memerah, wajahnya juga sembap.


Menatap dengan sorot penuh pemakluman. Juna menaruh nasi uduk yang dipegangnya. Membelai lembut kepala juga menyusut bulu mata Anggi yang basah.

__ADS_1


“Sayang, aku paham seperti apa suasana hatimu saat ini. Pasti nafsu makanmu juga ikut menguap. Tapi, kamu harus ingat untuk menjaga kesehatanmu. Bagaimana bisa merawat ibu kalau kamu juga malah jatuh sakit? Terlebih lagi ada yang menanti perhatianmu, meminta untuk disayang. Anak kita sangat membutuhkan perhatian kita. Walaupun tidak lapar, setidaknya pikirkan bayi mungil yang ada di sini. Dia pasti butuh nutrisi. Kamu menyayanginya juga bukan?” bujuk Juna lembut sembari mengusap perut istrinya yang menyembul, membuat Anggi menurunkan pandangan.


Untuk sejenak Anggi lupa lantaran larut dalam kepanikan. Ia balas menatap suaminya yang sedang tersenyum padanya. Setia membelai kepalanya. Berusaha mengingatkan dengan bujukan manis.


“Baiklah, suapi aku,” pinta Anggi.


Juna segera mengambil kembali makanan yang tadi ditaruhnya di kursi. Menyuapi istrinya penuh semangat. Anggi juga mengambil sendok yang lain, menyendok nasi uduk dan balas menyuapi Juna saat teringat suaminya juga belum sarapan.


Satu jam berlalu. Akhirnya Bu Ningrum dinyatakan telah siuman. Anggi diperbolehkan masuk ke ruang perawatan setelah Juna mengusahakan tanpa lelah. Ke sana kemari demi mendapat izin untuk bisa masuk ke dalam ruang perawatan intensif.

__ADS_1


Hanya satu orang yang diperbolehkan masuk dan kesempatan itu tentu saja dipersembahkan Juna untuk istrinya yang tampak rapuh. sedangkan dia sendiri menunggu di luar, melihat ke dalam melalui kaca tembus pandang bertepatan dengan Ayu yang baru kembali entah dari mana datangnya.


Bersambung.


__ADS_2