Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 62b


__ADS_3

Istri Arjuna bab 62a


Pesawat pribadi yang membawa Juna dan Anggi pulang ke Jakarta, mendarat sekitar pukul sepuluh malam Waktu Indonesia Barat. Sesampainya di rumah, mereka berdua langsung membasuh diri dengan cepat dan naik ke peraduan. Ingin mengistirahatkan daksa juga pikiran yang lelah. Terlebih Anggi yang sedang dalam kondisi hamil.


“Ah, nyamannya ranjang ini,” desah Anggi lega saat punggungnya rebah bersentuhan dengan kasur empuk favoritnya.


“Kamu pasti capek?” Juna menyusul naik. Menarik selimut dan menutupkannya ke tubuh mereka berdua.


“Kalau aku bilang enggak capek itu bohong. Rasanya badanku pegal-pegal semua,” keluhnya. Anggi meregangkan punggungnya yang terasa kaku.


“Berbaring miring, aku pijat.” Juna yang hendak merebahkan diri mengurungkan niat saat mendengar keluhan istrinya. Jujur saja dia cemas. Anggi yang belum lama pulih kembali harus terlibat urusan yang memforsir energi juga menguras pikiran.


“Enggak usah. Mas juga baru membaik. Sebaiknya tidur saja,” sahut Anggi sembari mengulas senyum, lalu menepuk-nepuk bantal di sebelahnya. “Ayo tidur.”


Juna menggeleng. “Aku ingin memijatmu dulu, miringkan badanmu. Atau jangan-jangan, kamu menolak kupijat dalam artian sebenarnya karena menginginkan pijatan plus-plus?” ujarnya menggoda. Menyeringai jahil penuh arti.

__ADS_1


Anggi hanya terkekeh. Sudah mulai terbiasa dengan ucapan Juna yang sering menggodanya dengan kata-kata menjurus pada hal-hal intim. Awalnya merasa asing, tetapi lambat laun ia menyukainya saat sang suami menggodanya, bahkan tak jarang Anggi balas melakukan hal serupa. Komunikasi yang kian menghangat juga lancar dari hari ke hari, mampu membangun kedekatan emosional semakin dekat dan kuat dengan pria yang dulunya membentengi diri itu.


“Baiklah, tapi pijatannya harus enak. Kalau tidak, Mas enggak boleh tidur,” cicitnya sebelum memiringkan badan membelakangi Juna.


“Kupastikan pijatanku yang paling enak, tidak ada duanya. Aku jamin akan membuatmu ketagihan. Apa lagi kalau pijatannya menghasilkan erangan, kujamin lebih nikmat.” Juna tak henti menggoda istrinya, membuat paras cantik Anggi merona. Walaupun Anggi sudah mulai terbiasa, tetap saja terkadang rasa malu masih menghinggapi.


Juna bersila. Mengangsurkan tangannya di punggung Anggi. Memijat dan menekan dengan lembut saja, tak berlebihan, yang penting otot-otot punggung Anggi yang terasa kaku itu berkurang ketegangannya. Sesekali Juna mengusap perut Anggi juga membungkuk bergumam menyapa si jabang bayi, lalu mengecup pinggang istrinya itu sebelum kembali memijat bagian punggung.


“Lakukan tugasmu dengan benar, Papa. Tanganmu jalan-jalan tak tentu arah!” ucap Anggi gemas sendiri saat merasakan tangan Juna kini malah menyusup ke balik baju terusan yang dipakainya dan mengelusi pinggulnya.


“Itu bukan ulahku. Tapi tanganku sendiri yang ingin menjelajah, aku tak menyuruhnya,” bisiknya begitu dekat ke telinga istrinya itu. Embusan napas hangatnya menerpa daun telinga Anggi, mengelusi di sana meremangkan bulu roma.


“Alasan! Tangan itu ibarat ban mobil, melintasi jalan sesuai dengan keinginan si pengemudi. Bukan keinginan si ban itu sendiri,” sanggah Anggi tak mau kalah.


Juna tertawa pelan sembari menggesekkan hidung mancungnya, berlarian di tengkuk disusul mengecup leher jenjang Anggi. Geraman berat terdengar saat dia berlama-lama menghirup aroma sedap feromon alami yang begitu lezat nan harum, menguar kuat dari kulit leher putih bersih si wanita hamil yang merapat dengannya.

__ADS_1


Anggi memejam, merasakan kecupan-kecupan yang sekarang menjurus pada arti lain mendarat di tengkuk juga lehernya. Bukan lagi mesra dan manis, tetapi lebih pada kecupan sensual menuntut. Ia semakin merapatkan kelopak mata juga menggigit bibir, ketika telapak suaminya itu menjelajah semakin naik, menangkup salah satu aset ranumnya dan membelai lembut di sana.


“Enghh, Mas!” desisnya berat, napasnya mulai tersengal.


Mendengar erangan Anggi yang tersulut akibat ulahnya. Juna tak menyiakan kesempatan. Menarik pelan Anggi yang berbaring miring supaya terlentang.


Manik cantik Anggi berkabut. Tak munafik ia pun tersulut dan menyukai ini. Dimesrai pria yang dicintai, selalu menjadi momen paling indah baginya.


“Aku kangen, aku kangen ingin menyatu denganmu, Sayang,” desis Juna begitu dekat lalu menyambar mencerup bibir merah yang terbuka. Sebagai menu pembuka sebelum mencicipi menu utama yang sudah pasti dilahap lebih lama.


Dua sejoli itu larut dalam cumbu mesra, tak ingat lagi akan rasa penat. Terayu untuk saling menyentuh juga membelai.


Tak ada satu pun yang menyadari bahwa layar ponsel mereka terus menyala lantaran deringnya dibisukan. Hingga gawai canggih keduanya itu mati kehabisan daya dan pemiliknya terlelap saling berpelukan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2