Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 18 a


__ADS_3

Bab 18a


Anggi tergugu hampir dua jam lamanya di pelukan Juna. Matanya sudah bengkak tak karuan akibat tak hentinya menangis. Beberapa saat lalu dokter kembali mengajak mereka berbincang tentang kondisi Ningrum.


Ningrum mengalami sesak napas dan beberapa organ tubuhnya membengkak. Setelah ditelusuri itu merupakan akibat terlalu banyak cairan yang dikonsumsi. Padahal, dokter sudah memberikan catatan, perihal takaran banyaknya air minum yang boleh dikonsumsi dalam sehari juga catatan beberapa makanan yang dilarang kepada Ningrum sendiri selain kepada anak-anaknya.


Menjelang pagi, Anggi baru diperbolehkan masuk ke dalam kamar perawatan ditemani Juna yang sejak tadi terus mendampinginya. Sedangkan Ayu berpamitan untuk pulang berganti pakaian. Hanya bicara seperlunya tidak seperti biasa.


Anggi duduk di kursi yang terdapat di sisi ranjang. Di atas kasur single bed berseprai putih itu, tampak ibunya tengah tidur terlelap dengan oksigen terpasang di hidung. Wajahnya agak bengkak begitu juga dengan kakinya ketika Anggi menyingkap selimut bagian bawah.


Kondisi Ningrum yang turun seperti ini membuatnya agak trauma, mengingatkannya kembali ke waktu satu bulan dirinya sebelum menikah dengan Juna. Ningrum nyaris tak tertolong kala itu. Anggi menelungkupkan wajah di pinggir kasur. Kembali menangis tersedu menumpahkan berbagai kecamuk rasa.


Juna mengusap-usap lembut punggung Anggi kemudian berkata, "Jangan menangis terus. Nanti suara berisikmu membangunkan ibu."

__ADS_1


Hanya itu yang diucapkannya. Lidahnya kelu juga kebingungan harus mengatakan apa saat menyaksikan Anggi teramat rapuh. Juna sudah lupa bagaimana caranya menghibur orang yang sedang sedih, padahal dulu tidak begitu. Saat si cinta pertama yang sangat didambakan terpaksa dilepas dari genggaman, seolah segala kelembutan hatinya ikut terlepas juga dari kalbunya.


"Mas, ibu pasti kembali pulih kan?" Anggi mengangkat wajah, bertanya kepada Juna. Pertanyaan yang lebih merujuk pada permohonan diyakinkan. Jiwanya ketakutan saat ini. Ia butuh ditenangkan dan disemangati. Bola mata indahnya yang sembab memohon secara tersirat.


Juna mengangguk. Sedikit banyak ia paham akan sorot mata Anggi yang ingin diberikan harapan, tak peduli jikalau harapan itu palsu. Jemarinya terulur menyusut air mata yang lagi-lagi membasahi paras cantik istrinya.


"Sebaiknya sekarang kita berdo'a. Aku janji akan mengusahakan yang terbaik," ucap Juna mencoba menenangkan walaupun dia sendiri merasa aneh akan kalimat yang keluar dari mulutnya.


Beberapa hari ini Anggi terus berada di rumah sakit karena Ayu sang kakak mendadak sakit sejak hari di mana kondisi Ningrum drop. Ia bersyukur Juna memberi kelonggaran, mengizinkannya dengan sukarela tanpa ada drama hukuman. Bahkan mengizinkannya menginap.


Anggi yang sedang menyeka wajah dan lengan ibunya, menoleh begitu pintu terbuka. Di sana muncul si pria tampan keras kepala yang akhir-akhir ini sedikit melunak padanya.


"Aku bawa makan malam." Juna mengangkat jinjingan berisi makanan.

__ADS_1


"Aku enggak lapar, Mas," jawab Anggi lesu.


"Tapi aku lapar." Juna masuk dan menarik Anggi duduk di sofa. "Temani aku makan," titahnya otoriter seperti biasa.


"Serius mau makan di sini?" Anggi menatap heran. Pasalnya Juna selalu mempermasalahkan tentang kebersihan dan kehigienisan, mengatakan rumah sakit banyak kumannya.


"Ya iyalah aku mau makan. Makanya bawa makanan juga karena ingin makan, bukan mau mandi!" ketusnya sambil membuka kemasan berisi dua set menu lengkap.


Anggi malah melongo, otaknya seakan tumpul. Ada apa dengan suaminya ini pikirnya? Saat Juna menyuapinya pun Anggi membuka mulut dan mengunyahnya seperti bocah patuh, sambil menatap lekat-lekat wajah tampan yang sibuk menceramahinya agar tidak telat mengisi perut.


TBC


Cie yang mulai perhatian tanpa sadar wkwkwk.

__ADS_1


.


__ADS_2