Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 73b


__ADS_3

Istri Arjuna bab 73b


Jarak dari area parkir menuju lobi hotel terasa begitu jauh bagi mereka sekarang. Keduanya berjalan tergesa seperti pasangan penjahat yang tengah berkejaran dengan polisi.


Lift yang membawa mereka naik pun terasa begitu lamban laju naiknya. Dua insan itu resah gelisah sembari berpegangan tangan. Juna lah yang terlihat paling kentara keresahannya. Tentu saja karena sedari pagi hingga sesiangan ini dia berusaha menidurkan kembali bagian dirinya yang mengetat akibat ulah nakal istrinya itu sebelum berangkat bepergian.


Begitu masuk ke kamar yang dipesan dan pintu tertutup, tanpa aba-aba, justru Anggi lah yang menyerbu Juna hingga punggung suaminya itu membentur tembok. Melabuhkan ciuman hingga terengah, rakus seolah kehausan dilanda dahaga dan rambut Juna pun tak luput drai jambakannya. Suhu ruangan berpendingin itu seolah tak mampu meredam rasa panas yang membakar keduanya.


“Pelan-pelan, Sayang. Aku takut perutmu kenapa-napa,” ucap Juna yang juga sama-sama terengah begitu pagutan terlepas.


“Aku … aku pengen kamu, Mas. Sekarang juga,” pintanya, Anggi berjinjit kembali mengecup bibir Juna. Tangannya mulai melucuti Jas yang Juna pakai juga kancing kemeja.


Mata Juna menggelap. Diraihnya tengkuk istrinya itu dan menahannya. Membalas pagutan tak kalah rakus, saling menyelipkan bibir satu sama lain. Keduanya melucuti semua kain yang melekat dengan tak sabaran. Demi bersegera melegakan desakan masing-masing yang menuntut peleburan. Mengusak tempat tidur berseprai putih itu hingga kusut masai tak ingat waktu.

__ADS_1


*****


Kala Juna membuka mata, cuaca di luar rupanya sedang hujan entah sejak kapan turun membelai bumi karena ia kelelahan dan tertidur setelah saling memenuhi tuntutan nafkah batin yang terjadi tak tahu tempat, tak terkendali.


Menurunkan pandangan, Juna disajikan punggung telanjang Anggi yang bergelung di dekapannya. Tergolek nyenyak dengan selimut yang sedikit turun. Juna menarik selimut lebih naik supaya menutupi daksa istrinya itu lebih ke atas, tak ingin wanita tercintanya dilanda masuk angin imbas dari suhu pendingin ruangan yang cukup rendah.


Juna memang sengaja memilih hotel terdekat saja sebab berbagai alasan. Selain karena sudah sangat mendesak, dia juga tidak ingin kegiatan bermesraan yang beberapa waktu terakhir berkurang durasinya, harus terganggu dengan kedatangan sang kakak. Juga Juna perlu mengendurkan urat-urat sarafnya sebelum bertemu muka untuk berbicara kembali dengan Maharani. Tidak ingin emosinya meledak lagi seperti yang selalu Anggi ingatkan padanya untuk mengontrol diri.


Ketika mertuanya berpulang, Juna juga bertemu kakaknya yang ikut datang sekilas saja. Namun tidak banyak bertegur sapa karena semua orang sedang berduka juga sibuk mengurusi banyak hal.


“Enghh.”


Anggi terusik saat merasakan lengan kokoh Juna mengelusi perutnya di balik selimut. Senyumnya terbit kemudian membuka suara seraknya. “Apa aku ketiduran terlalu lama?”

__ADS_1


“Tidur lagi saja. pulihkan tenagamu yang terkuras tadi. Aku enggak menyangka, ternyata istriku bisa ganas juga.” Juna berbisik sensual ke telinga Anggi yang disusul mendaratkan kecupan mesra di pelipis.


Menangkupkan kedua telapak tangannya, Anggi menutupi wajahnya yang merona. Memang benar, tak menyangka dirinya bisa seliar tadi.


“Pasti ini bawaan baby boy, Papa,” ujar Anggi mengelak.


“Tapi Papa suka Mama yang liar seperti tadi,” bisiknya lagi ke telinga Anggi, sengaja ingin terus menggoda istrinya itu.


“Udah dong, Mas. Jangan dibahas! Aku malu!” Anggi menekan sikutnya ke perut Juna berulang-ulang melayangkan protes.


“Aw, aw. Jangan galak-galak dong, Ma. Nanti Papa pingin nambah lagi,” ujarnya seraya terkekeh.


“Oh, iya. Kita mau pulang kapan, Mas?” Anggi menoleh dan bertanya.

__ADS_1


“Nanti saja setelah makan malam. Kita makan malam romantis dulu di hotel ini sebagai penyempurna kencan pertama kita. Walaupun kencan ini akhirnya tetap diisi sesi panas berkeringat di dalamnya,” ujarnya vulgar sembari menaik turunkan alisnya, tak merasa malu sama sekali membuat Anggi membenamkan wajah meronanya di dada Juna.


Bersambung.


__ADS_2