Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 25b


__ADS_3

BAB 25b


Mobil warna hitam mengkilap yang dikendarai Juna melesat dan menyalip kendaraan lain dengan cepatnya. Sambil fokus mengemudi, dia tetap berkomunikasi dengan si penelepon yang merupakan orang suruhannya yang bertugas mengawasi Anggi. Menanyakan alamat secara terperinci sementara kakinya menginjak pedal gas semakin dalam.


"Kirimkan alamat lengkapnya dapat satu menit! Cepat!" serunya seperti orang kesurupan.


Sejak menikah, Juna meminta orang tersebut melaporkan jika ada gerak-gerik mencurigakan dari istrinya. Selama ini, biasanya hanya laporan-laporan kecil tak berarti yang sampai padanya walaupun terkadang menyulut emosi yang tanpa Juna sadari bersumber dari rasa cemburu, bertumbuh tanpa disuruh di sanubari seiring berjalannya waktu.


Juna diam-diam mengawasi sebagai antisipasi untuk memperingatkan Anggi jika berani berbuat macam-macam di luar. Misalnya berhubungan kembali dengan mantan pacarnya yang kemungkinan berpotensi merusak reputasi baiknya sebagai suami. Juna tidak pernah membayangkan, bahwa si pengintai malah membawa kabar yang membuat jantungnya seolah terlepas dan terjun bebas ke dasar perut. Kabar mencengangkan bahwa istrinya mengunjungi klinik aborsi.


Kesabaran Juna mulai menipis ketika sampai di arus lalu lintas padat. Menyapu pandangan dalam kegelisahan yang kian memuncak. Jakunnya naik turun dari pergerakan menelan ludah tiada henti.


Juna memeriksa GPS dan menemukan jalan lain yang tidak terlalu macet. Dia memutar kemudi, memilih menempuh jalur lain tersebut guna menghindari kemacetan.

__ADS_1


******


"Anda yakin dengan keputusan yang diambil? Barangkali mau berpikir dua kali?" tanya si dokter pada Anggi.


"Sa-saya yakin, Dok," sahut Anggi sembari memantapkan hati kendati seumpama ada sembilu yang menusuk jiwanya kala kalimat tersebut berderai dari lisannya.


"Silakan tunggu sebentar."


Anggi mengangguk, kemudian dokter tersebut beserta dua perawat menyiapkan berbagai keperluan untuk prosedur. Bunyi-bunyian berdenting, berasal dari peralatan yang beradu dengan nampan. Rasa ngeri kian menjalar dalam setiap aliran nadi. Anggi menunggu dokter selesai bersiap sembari memegangi perutnya erat.


Keinginan kuat itu perlahan memudar. Seperti ada bisikan yang berembus ke telinganya, tiba-tiba rasa tak rela semakin menyeruak ke permukaan. Rasa yang mati-matian ditekannya sejak berangkat dari rumah.


Anggi mendadak ingin membatalkan niat bertepatan dengan suara ribut dari luar disusul pintu ruang praktek yang didorong kasar hingga berdentam.

__ADS_1


"Anggita!"


"M-Mas."


Seketika Anggi tersentak dan berdiri melihat sosok yang berdiri menjulang di ambang pintu. Menghunuskan tatapan tajam bak Banteng marah kepadanya dengan rahang mengetat. Namun, ada kelegaan yang samar terlihat dari bahasa tubuh Juna saat melihat Anggi masih tampak utuh. Dari tampilan Anggi, Juna yakin istrinya belum melakukan hal bodoh tersebut.


"Siapa Anda? Jangan membuat keributan di sini!" Si dokter yang sedang bersiap, menghampiri Juna.


Dua orang preman yang berjaga di depan klinik juga datang menyusul bermaksud menyeret Juna keluar setelah perawat bagian pendaftaran berteriak minta tolong saat Juna menerobos begitu saja menuju ruang praktek. Akan tetapi, belum juga tangan mereka mendarat di tubuh Juna, mereka kalah cepat dari tinju yang dilayangkan Juna hingga kedua preman tersebut terkapar sekarang.


Juna merangsek masuk dan mengabaikan ocehan si dokter. Menyeret Anggi keluar dari ruangan tersebut tanpa kata hingga mencapai bagian depan klinik.


"Masuk!" titah Juna setelah membukakan pintu mobil.

__ADS_1


Mobil tancap gas meninggalkan keributan dalam klinik, sementara suasana dalam kendaraan mewah itu kini senyap tidak ada yang berbicara.


TBC


__ADS_2