
Istri Arjuna bab 29b
Di dekat kepala ranjang, Juna berdiri mengamati Wulan yang sedang memeriksa Anggi.
“Bagaimana kondisinya? Juna bertanya tak sabaran.
“Istrimu kelelahan luar biasa sepertinya. Seharusnya jika sudah tahu sedang hamil, sebaiknya mengurangi aktivitas yang menguras energi. Sebagai suami kamu harus lebih perhatian dan mengingatkan juga, Juna.” Wulan menjawab setengah mengomel sembari meneruskan pekerjaannya.
Ya, diagnosa Wulan tidak ada yang salah. Anggi memang kelelahan. Hanya saja bukan lelah fisik melainkan psikis.
Kini wulan beralih bertanya secara terperinci pada Anggi. Anggi menjawab meski ucapannya amat pelan nyaris tak terdengar.
“Usahakan dan paksakan untuk tetap makan, bersantaplah dalam porsi sedikit tapi sering walaupun tidak berselera karena pasti terganggu mual, efek dari morning sickness juga asam lambungmu yang sedang naik drastis. Kamu harus ingat, Sekarang ini bukan cuma badanmu yang membutuhkan asupan nutrisi, tapi juga janin di dalam rahimmu,” jelas Wulan lembut kepada Anggi yang direspons anggukan pelan.
__ADS_1
Wulan memasukkan kembali peralatan periksa ke dalam tas setelah selesai memeriksa secara menyeluruh sembari bercakap-cakap dengan pasutri yang terkadang jawaban mereka berdua tidak sinkron saat ditanyai.
“Obat mual muntah juga vitamin yang diresepkan dokter kandungan sebelumnya bisa kamu konsumsi teratur guna mengurangi mual juga menambah stamina. Jaga kondisimu. Kelola stress dengan baik. Jika ada permasalahan maupun keinginan bicarakan dengan suamimu secara terbuka, jangan dipendam sendiri. Kalian akan segera menjadi orang tua, komunikasi yang lebih baik sangat diperlukan ketika anak hadir di antara kalian, ” pesan Wulan sebelum keluar dari kamar.
“Baik, Dok,” jawab Anggi sambil berusaha mengukir senyum di bibir pucatnya.
Juna mengantar Wulan turun menuju pintu depan sambil bercakap-cakap “Wulan, apakah mualnya berbahaya? Sesaat sebelum aku menghubungimu, Anggi nyaris pingsan di kamar mandi.” Juna bertanya serius.
“Ada yang berbahaya ada pula yang tidak. Mual muntah di trimester pertama juga tidak bisa disepelekan meski lumrah terjadi, tetap harus dalam pemantauan. Ada yang levelnya sedang ada pula yang parah sampai harus di opname supaya tidak kekurangan nutrisi. Tapi dari diagnosaku, mualnya bukan hanya efek morning sickness. Istrimu sepertinya mengalami stress berat. Coba lah ajak bicara dari hati ke hati. Dia tampak terlalu banyak memendam beban. Amat kentara dari air mukanya meski berusaha disembunyikan. Terlalu banyak pikiran bisa menjadi salah satu pemicu naiknya asam lambung. Berhubung aku bukan ahli kandungan, kusarankan segera berkonsultasi dengan dokter Obgyn secara intensif. Berat badan istrimu termasuk dalam kategori terlalu kurus untuk wanita hamil.”
Apakah ini hanya sebatas rasa cemas dan takut kehilangan terhadap darah dagingnya yang hampir hilang dari genggaman jika dirinya tidak bergerak cepat, atau juga ikut cemas dan takut kehilangan wanita yang sedang mengandung anaknya itu?
Juna masih bertanya pada hatinya sendiri dan si segumal daging di rongga tubuhnya itu belum memberi jawaban pasti. Masih tergulung gumpalan masa lalu yang sedang dicoba diuraikan belitannya.
__ADS_1
Namun yang jelas, mulai timbul keinginan untuk mencoba memahami Anggi demi anaknya yang kini bersemayam di rahim istrinya itu.
“Ibu hamil membutuhkan dukungan dan perhatian ekstra. Terlebih lagi di kondisi istrimu yang begitu rapuh. Jadilah suami siaga. Apabila terjadi risiko kehamilan, bukan hanya anakmu yang terancam kehidupannya, tapi juga nyawa ibunya.
“Aku mengerti,” sahut Juna cepat.
Wulan tertegun sejenak sebelum masuk ke dalam mobil BMW miliknya. Pandangannya tertuju pada dua security yang berjaga di depan pagar. Bibirnya gatal ingin bertanya pada Juna, tetapi diurungkannya. Wulan berpikir, mungkin karena rumah mewah ini merupakan kediaman orang kaya raya, maka dari dari itu penjagaan lebih diperketat lagi. Walaupun menurutnya agak berlebihan, mengingat Juna sudah memiliki satu satpam yang sejak dulu memang bertugas di rumah itu.
“Aku pergi. Ingat untuk segera berkonsultasi dengan dokter kandungan.” Wulan kembali mengingatkan sebelum melesat pergi dari rumah Juna.
Sepeninggal Wulan, Juna menghubungi Pandu. Memutuskan untuk bekerja dari rumah. Dia disergap rasa tak tenang meninggalkan Anggi yang sedang tampak kepayahan, juga takut istrinya itu berbuat nekat lagi seperti kemarin, kendati di rumah sudah ada beberapa pelayan yang mengawasi serta satpam yang berjaga.
“Pandu, bawa berkas-berkas pekerjaanku ke rumah. Sekarang juga,” perintahnya sambil kembali melangkah masuk.
__ADS_1
TBC