Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 34a


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 34a


Langkah Juna terhenti di tengah undakan tangga begitu melihat Bik Tiyas dan Lina turun beriringan mengangkut setumpuk pakaian.


"Ini, ada apa?" Tunjuk Juna pada tumpukan pakaian yang dibawa para ART itu. Ekspresinya penuh tanya saat mengamati semua baju yang diangkut didominasi label 'VN Fashion'.


"Ini, Pak. Bu Anggi meminta semua pakaian ini disingkirkan," jawab Bik Tiyas yang ikut menghentikan langkah.


"Iya, Pak. Bu Anggi meminta semua ini disingkirkan, entah itu dibuang atau diberikan pada yang membutuhkan. Sebagian ini mau saya ambil, mau saya kirimkan buat saudara-saudara di kampung."


Lina menimpali antusias. Dia teramat senang saat sang nyonya mengatakan bahwa semua baju-baju mahal nan cantik itu tidak diinginkan lagi dan menyerahkan padanya juga Bik Tiyas untuk disingkirkan terserah bagaimana pun caranya. Yang penting tidak boleh terlihat eksistensinya di rumah ini.


"Apa alasannya?" tanya Juna lagi.

__ADS_1


"Saya juga tidak tahu, Pak. Maaf, Pak. Permisi, saya mau membawa turun baju-baju ini. Soalnya masih ada beberapa tumpuk lagi yang harus diangkut." Bik Tiyas berujar sopan lantaran tuannya menghalangi jalan, sementara lengannya mulai pegal harus menopang begitu banyak pakaian.


"Ehm, ya sudah. Lanjutkan pekerjaan kalian." Juna menyingkir sedikit memberi jalan untuk Bik Tiyas juga Lina yang mengekori di belakang.


Juna terdiam di ambang pintu kamar yang terbuka. Benar saja, di atas kasur masih ada tiga tumpuk gunungan pakaian. Bunyi gantungan baju yang di masukkan sekaligus ke dalam keranjang, mengundang kakinya menyusul ke ruang ganti.


Terlihat istrinya itu hampir mengosongkan salah satu lemari dari jejeran lemari yang tertanam di ruang ganti.


"Ada apa dengan baju-bajumu yang diangkut para ART?" tanya Juna yang memang benar-benar tak paham dengan kegiatan yang tengah dilakukan istrinya itu.


"Mual? Apa kamu muntah lagi?" Juna membalikkan Anggi yang membelakanginya. Memindai penuh kecemasan dari kepala hingga kaki. Bahunya yang tegang sedikit turun saat melihat wajah istrinya itu tidak sepucat seperti setelah muntah-muntah di pagi hari beberapa waktu lalu.


"Hampir saja muntah karena melihat baju-baju tadi. Makanya cepat-cepat kusingkirkan. Aku tidak ingin nutrisi untuk bayiku yang baru saja kutelan harus terbuang kembali. Bagaimana nanti kalau janinku kekurangan gizi?" sahut Anggi beralasan. Berkata tanpa senyuman. Memasang mimik datar tak peduli Juna suka atau tidak.

__ADS_1


"Benar juga, singkirkan semua. Apa pun itu yang membuatmu mual buang saja." Juna mengangguk setuju. Belum menyadari semua pakaian yang disingkirkan hanya yang berlabel 'VN Fashion'.


"Dan satu hal lagi, aku juga ingin menyingkirkan beberapa baju Mas yang membuat rasa mualku mendesak kembali. Boleh?" tanya Anggi dengan nada memaksa tersembunyi. Setelah mengandung, hasrat beraninya yang dulu terkubur rasa sungkan, kini tengah berlenggak-lenggok menguasai.


Juna mengerutkan kening. "Pakaianku juga?"


"Iya, kenapa? Tidak boleh? Bukannya Mas sendiri yang bersikeras ingin tetap mempertahankan janin ini? Aku hanya sedang berusaha membuat anakmu tumbuh nyaman," tukas Anggi telak. Masa bodo jikalau Juna marah. Malah dirinya sekarang-sekarang ini tertarik mengundang Singa dalam diri suaminya itu supaya mengaum keluar.


"Pilih dan buang saja baju-bajuku yang membuatmu mual dan membuat anakku tidak nyaman," jawabnya tanpa ragu.


Anggi ingin tertawa lebar, tetapi ditahannya. Kehamilannya ternyata banyak membawa berkah. Suaminya yang garang berubah jinak jika disangkut pautkan dengan si jabang bayi. "Dengan senang hati, Mas."


Juna berlalu ke kamar mandi untuk membasuh diri sedangkan Anggi menatap punggung suaminya itu dengan seringai kemenangan. Penuh semangat, Anggi segera membuka lemari lainnya. Menurunkan semua kemeja, celana juga jas Juna yang berlabel 'VN Fashion' setengah mencampakkannya ke lantai.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2