Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 22b


__ADS_3

Istri Arjuna BAB 22


Keheningan membentang di dalam kamar sejak mereka kembali selepas acara makan malam usai. Juna berbaring membelakangi Anggi. Tak ada yang berbicara, terlebih lagi Juna. Hanya ada senyap mencekam, nyaris terasa mencekik.


Kehangatan dan sikap manis Juna luruh entah ke mana. Setelah pertemuan tak terduga dengan Viona, wajahnya mendung murung.


Anggi menatap punggung kokoh yang meringkuk membelakangi. Juna berbaring begitu jauh dari jangkauannya. Hatinya meringis perih. Rasa manis yang baru-baru ini dicecapnya sepertinya hanya semu semata.


Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan dilakukan berulang-ulang. Memaki diri sendiri yang sejenak terlena. Lupa akan jurang antara Juna dan dirinya. Sempat ada keinginan menyeberangi tanpa tahu diri. Terlupa seperti apa Juna menganggapnya sejak awal.


Benih-benih di hati yang sempat ditebar dan mulai bertunas, ia cabut paksa dari akarnya tanpa belas kasihan. Tidak ingin membiarkan asa di sanubarinya tumbuh karena tahu sudah pasti akan berakhir dengan luka.


Meneguhkan hati. Anggi memutuskan untuk kembali membangun benteng baru. Setelah menyaksikan sendiri bagaimana reaksi Juna ketika bertemu Viona, saat itulah Anggi kembali tersadar di mana harus memosisikan diri. Tempatnya hanya sebagai seseorang yang harus membalas budi, bukan berharap dianggap setara terlebih dicintai.


Bersama satu tetes bening dari pelupuk, Anggi memejamkan mata erat. Menjerit dan mengiba pada alam untuk menghadiahkan kantuk padanya. Setidaknya di alam mimpi, dunianya selalu bersemi indah. Mimpi yang mencerminkan harapan, yakni bergelung dalam pelukan Ibunda tercinta.

__ADS_1


Ibu, aku rindu.


Hari kedua setelah acara selesai, Juna langsung bertolak pulang ke Jakarta tanpa mengikuti acara ramah tamah. Sepanjang perjalanan keduanya saling diam. Tidak ada ocehan maupun candaan seperti layaknya ketika berangkat.


Sesampainya di rumah, Juna hanya turun sebentar dan pergi lagi entah ke mana, padahal hari sudah memasuki waktu malam. Anggi hanya bisa memandang nanar. Buru-buru mengusap air bening yang jatuh di pelupuk menggunakan punggung tangan begitu mobil Mercy Juna melesat keluar dari garasi.


“Bu, barangkali mau minum teh susu?” Bik Tiyas bertanya setelah selesai mengangkut koper juga oleh-oleh dari Bandung ke dalam rumah.


“Boleh, Bik. Sepertinya enak. Bawakan juga beberapa keping cookies jahe yang dibeli dari Bandung. Setengah jam lagi antarkan ke kamar. Aku mau mandi dulu sebentar.”


Sudah pukul sepuluh malam dan Juna masih tak kunjung pulang. Inginnya Anggi mengirimkan pesan singkat. Bertanya sedang apa dan di mana suaminya itu berada.


Ia mengurungkannya ketika teringat kembali apa arti dirinya untuk Juna. Anggi terkekeh sumbang, semakin paham bahwa dirinya hanya dijadikan pelampiasan. Akan tetapi Anggi berpikir rasional, bukankah itu sepadan? Dirinya membutuhkan Juna demi ibunya dan demi berpamer ria pada orang-orang yang pernah mengkhianatinya. Niat yang satu memang terpuji, tetapi niat yang lainnya tidak demikian. Berimbas pada konsekuensi yang harus ditanggung tidaklah murah.


Mengusir sebah di dada. Anggi tak ingin berlarut meratapi nasib. Memilih berbenah di dalam kamar sambil menyiapkan keperluan untuk mengunjungi ibunya besok di rumah sakit.

__ADS_1


Ia mengernyitkan kening saat membuka lemari yang merupakan tempat menyimpan Jas milik Juna. Anggi menaruh jas bersih yang beberapa saat lalu diantar Bik Tiyas ke kamar. Berjongkok saat melihat sebuah paper bag terbuka di bagian dasar lemari.


Penasaran, Anggi mengambilnya. Mengernyit saat mengeluarkan isinya yang ternyata tas hitam miliknya. Anggi baru ingat, tas ini tertinggal di rumah sakit ketika Juna menyeretnya pulang dengan paksa. Terlupa begitu saja lantaran dirinya jatuh sakit setelah hari itu.


“Sejak kapan tas ini ada di sini?” gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.


Anggi duduk di pinggir kasur. Membuka resleting dan yang pertama menyembul adalah sertifikat rumah ibunya. Anggi merutuki diri. Bagaimana bisa ia terlupa akan hal krusial tentang sertifikat tersebut. Beruntung surat berharga yang sudah pasti sangat berarti bagi Ningrum itu, masih tersimpan rapi di dalam sana.


“Ya ampun, kok bisa lupa sih!” gumamnya kesal sendiri.


Namun, kemudian Anggi tertegun dengan mata tertuju lurus pada isi tas. Beberapa lembar pil kontrasepsi yang dibelinya masih utuh di dalam sana. Seketika ia tersentak. Wajahnya memucat. Baru menyadari sudah begitu lama tidak meminum pil pencegah kehamilan.


Dengan tangan gemetar, Anggi menyambar kalender di atas nakas. Menghitung dengan benar dan setelah diulangi beberapa kali, dunianya seakan berputar dan runtuh seketika.


TBC

__ADS_1


__ADS_2