
Istri Arjuna Bab 77 b
Satu bulan berlalu. Ayu dinyatakan bebas setelah dinyatakan positif mengalami depresi akut. Dipindahkan ke RSJ dan ditempatkan di bagian perawatan khusus ibu hamil penderita gangguan jiwa.
Maharani dan Barata berhasil mengantongi izin adopsi dari neneknya walaupun bukan perkara mudah, setelah Marina dan Surya turut membujuk juga berterus terang tentang kondisi Maharani yang sesungguhnya.
Lagi pula yang akan diadopsi bukanlah bayi yang dikandung orang tak dikenal. Selain berniat berbuat baik pada si bayi tak berdosa dengan merawat sebaik-baiknya lantaran ibu kandungnya tidak memungkinkan merawat, rumah tangga Maharani pun yang sangat mendamba anak bisa terpenuhi harapannya. Sama-sama berkah untuk semua pihak.
Niatan Maharani disambut positif oleh Anggi. Tentu saja ia sangat senang jika bayi Ayu nantinya diadopsi oleh kakak iparnya yang sangat menginginkan kehadiran anak. Sudah pasti kasih sayang untuk si bayi melimpah ruah juga ia tetap bisa melihat tumbuh kembang keponakannya.
Namun, di sisi lain, Anggi cukup kebingungan. Pasalnya wasiat ibunya yang telah disanggupinya meminta supaya bayi Ayu nantinya diserahkan ke panti asuhan jikalau Ayu tak mampu mengurus dengan baik. Anggi paham betul wasiat itu harus dijalankan, mengingat Ayu memang takkan pernah bisa mengurus. Jangankan merawat anak, Ayu sendiri pun butuh perawatan khusus, membuat Anggi dirundung dilema.
__ADS_1
“Aku sangat senang, keponakanku yang pernah dikatai anak haram oleh tetangga ibu akan diadopsi Mbak Rani. Tapi, Mas. Aku harus tetap menjalankan wasiat ibu. Bukan tega pada bayi Mbak Ayu, tapi kita terlanjur berjanji. ” ucap Anggi bimbang. “Kita harus gimana?” desahnya membuang napas berat.
Ia dan Juna sedang duduk bersandar di kursi panjang yang terdapat di balkon kamar. Juna merangkul Anggi sembari menyaksikan langit malam bertabur bintang.
“Aku pun memutar otak selama seminggu ini. Sebenarnya, aku punya ide. Supaya bayi Mbak Ayu tetap bisa dirawat Mbak Rani juga Mas Bara tanpa kita melalaikan wasiat ibu.”
“Ide apa? Bagaimana caranya?” Anggi yang asalnya bersandar di dada Juna menegakkan duduknya dan memusatkan perhatian pada suaminya yang semakin hari semakin menawan saja.
“Begini. Saat bayi Mbak Ayu lahir nanti, kita tetap akan menyerahkannya pada pihak panti sesuai wasiat ibu. Setelah itu di hari yang sama bila perlu di jam yang sama, barulah Mbak Rani dan Mas Bara mengadopsinya secara resmi melalui panti asuhan. Jadi, tidak ada yang mengganjal. Baik wasiat ibu maupun niatan Mbak Rani tetap terpenuhi sekaligus secara bersamaan. Akan kuusahakan bicara dengan pemilik panti asuhan di mana Royal Textile biasa berdonasi, agar semua rencana kita bisa terealisasi. Demi kebaikan semuanya. Itu pun kalau kamu setuju dengan pemikiranku.”
Ia kembali bersandar ke dada Juna dalam posisi miring dengan tetap memerhatikan supaya tidak menekan perutnya yang sekarang hampir memasuki usia kandungan delapan bulan. Memeluk Juna penuh syukur juga mengecup rahang prianya penuh sayang.
__ADS_1
“TIdak ada pemikiran yang lebih baik dari ini. Aku serahkan semua urusan ini pada Mas. Seribu persen aku setuju," sahutnya gembira tanpa ragu.
“Akh, sepertinya sebentar lagi aku akan mendapat kado spesial sebagai imbalan ide cemerlangku ini.” Juna melirik pada Anggi, menyeringai dengan tatapan mesum.
“Kayaknya, ide Mas kali ini memang pantas dihadiahi kado yang sangat-sangat spesial,” ujar Anggi menggoda, mengkerlingkan matanya nakal. Mengusap-usap dada Juna dan memainkan jemari di kancing piyaman suaminya itu.
“Haish, Sayang. Dasar nakal,” geram Juna yang sangat mudah tersulut hasrat jika Anggi yang membangkitkan.
“Mulai minggu ini Dokter Raisa melarangku untuk menjenguk baby boy apalagi menyembur di dalam, khawatir terjadi kontraksi palsu,” keluh Juna frustrasi.
“Mmm, bagaimana kalau kuberi hadiah dengan cara lain?”
__ADS_1
Anggi menatap Juna dengan kilat penuh arti, merayap turun perlahan mengisyaratkan sesuatu yang sudah tentu sangat sulit untuk ditolak. Juna menyerah dalam cara lain pemenuhan nafkah ragawi yang Anggi berikan untuknya. Memejam dan mengerang saat Anggi mempersembahkan apa yang dia mau penuh penghargaan, dalam lingkupan cinta yang semakin bertumbuh subur melimpah ruah di antara mereka berdua.
Bersambung.