Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
Spesial Bab empat


__ADS_3

Istri Arjuna spesial bab empat


“Mama, Papa sudah selesai.” Juna berkata riang begitu memasuki ruangannya lagi setelah selesai bincang bisnis menghabiskan waktu dua jam lamanya. Ingin segera memeluk dan mengendus Anggi dalam upayanya meredakan mual menyiksa.


Keningnya berkerut kala tidak mendapati istri cantiknya maupun putra lucunya. Ruang kebesarannya kosong melompong, tidak ada satu pun sosok yang diharapkannya terlihat.


“Huh? Ke mana Anggi? Bukannya tadi dia bilang mengantuk?”


Membuka ponselnya, di sana tidak ada pesan maupun missed call. Penasaran ke mana perginya sang istri yang tadi sudah sepakat pulang ke rumah bersama-sama, Juna menghubungi nomor Anggi, tetapi tak kunjung diangkat. Didera khawatir, Juna akhirnya menghubungi Pak Oman untuk bertanya.


[“Ibu sudah pulang sejak satu jam yang lalu, Pak. Sewaktu saya sampai di parkiran kantor dengan Brama, ibu menyuruh saya menunggu di tempat parkir dan tak lama Bu Anggi muncul, lalu meminta diantar pulang.”]

__ADS_1


“Pulang? Kenapa mendadak meminta pulang? Apakah Anggi mengeluh sakit?” cecar Juna cemas, khawatir istrinya yang sedang hamil itu terjatuh atau terluka di kantor tanpa sepengetahuannya. Akan tetapi, sungkan memberitahunya yang sedang berbincang hal penting dengan tamu penting pula.


[“Tidak, Pak. Ibu terlihat sehat bugar. Hanya saja terus cemberut.”]


Merasa ada yang tidak beres, Juna memeriksa agenda pentingnya hari ini. Dan setelah memastikan agenda yang mutlak memerlukan kehadirannya sudah terpenuhi seluruhnya, dia bergegas pulang. Menyerahkan sisa pekerjaan pada Pandu, tak mau tahu derita si sekretaris yang harus lembur.


Pandu mengumpati kesal bosnya dalam hati. Sore ini dia sudah janji kencan dengan kekasih manisnya yang berprofesi sebagai pembimbing di tempat playgroup di mana Brama belajar pra usia sekolah, namanya Putty, dan sudah dipastikan rencananya harus batal.


“Pappah.” Brama berlarian menuju teras saat mendengar mesin mobil sang Papa memasuki garasi. Sedang disuapi Buah Naga Merah oleh Lina yang ikut mengejar di belakang putra tersayangnya. Belepotan lucu menggemaskan.


“Aku tadi belajal bikin gambay pesawat cama Miss Putty. Pesawat Pappah nang putih itu. Tapi di walnain melah kuning hijau, bial badus. Namanya pesawat lainbow, Pappa mau yihat?” celotehnya antusias, bercerita tentang keseruannya bermain dan belajar di tempat playgroup.

__ADS_1


“Mau dong. Papa mau lihat gambar pesawat yang Brama buat. Tapi di mana Mama?” Juna celingukan, biasanya saat dia pulang yang menyambut bukan hanya sang anak, selalu satu paket dengan wanita cantik belahan jiwanya.


“Mama di kamal. Tatanya mau bobo, nantuk, tapi endak melem. Gini-gini.” Brama menunjukkan telunjuk yang ditekuk, memeragakan gerakan menyusut sudut mata.


Juna cukup dibuat terkejut. Gerakan yang diperagakan Brama sudah sangat jelas merujuk pada gerakan menyusut air mata. Ada apakah gerangan dengan istrinya?


“Brama habiskan makan buahnya sama Mbak Lina. Sekarang Papa mau mandi dulu. Nanti setelah mandi, Papa lihat gambar pesawatnya, terus kita buat gambar kapal laut juga. Mau?” bujuknya, yang mulai resah dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada istrinya sampai tiba-tiba pulang dan berakhir menangis di rumah, padahal siang tadi semuanya baik-baik saja.


“Mauuuu,” cicit Brama berjingkrak senang. Mengangguk setuju penuh semangat.


“Nah, sekarang sama Mbak Lina dulu ya, anak ganteng Papa.”

__ADS_1


Juna menurunkan Brama dari gendongannya, dan dia tak membuang waktu segera berderap ke lantai dua menuju kamar utama.


Bersambung.


__ADS_2