Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 40a


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 40a


Deru napas jantan memburu berdengung nyaring di dalam kamar. Juna menahan tengkuk juga menarik pinggang Anggi lebih merapat padanya.


Saat si dua aset depan tak berpenyangga Anggi langsung bergesekkan dengan dada bidangnya. Tak ayal lagi, hasratnya kian berkobar-kobar melalap benteng pertahanan yang telah runtuh hingga luluh lantak.


Beberapa saat tadi Anggi mencoba meronta. Ia memang berniat menjahili Juna dengan menyentil aliran hormon testosteron suaminya itu. Pria merupakan makhluk visual, oleh karena itulah Anggi menggoda dan sengaja menyiksa Juna melalui ruang pandang. Hanya bisa dilihat, tetapi tidak bebas diraba.


"Mas. Dokter bilang_" desisnya berniat menghentikan. Akan tetapi, ia tak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimat karena Juna hanya menjeda sejenak pagutannya, kembali membungkam mesra.


Namun, lama kelamaan ia terbuai belaian Juna yang terus menggodanya tanpa jeda. Begitu lihai dan memabukkan. Sebuah desah lolos dari mulut Anggi tanpa disuruh membuat raga Juna kian memanas dihanguskan gairah.

__ADS_1


Napas mereka terengah seirama ketika melepas pagutan untuk sesaat. Netra Juna terbungkus kabut penuh harap ingin menenggelamkan diri dalam kubangan gelora. Anggi juga dapat merasakan, pinggulnya yang duduk di pangkuan Juna, menyentuh sesuatu yang sudah sekeras kayu.


Tangan Juna mulai menurunkan tali gaun sebelah kanan hingga melewati pundak, sementara bibir dan hidung mancungnya berlarian mengecupi rahang dan menuruni sepanjang garis leher Anggi. Laju napasnya tak beraturan, berantakan, kala seutas tali gaun tesebut mencapai siku, hingga terpampanglah keranuman menyembul tepat di depan wajahnya.


Sorot matanya menggelap saat tangannya merasakan kehalusan dan kelembutan. Dengan tak sabaran mulutnya menyambar menggantikan tangan mencerup di sana.


Bak medan magnet bertemu logam. Daksa keduanya sama-sama bereaksi mendamba sekarang. Tak ingat lagi bahwasanya dirinya hanya bermaksud menjahili Juna, Anggi ikut terbakar dan keduanya kini saling membelai.


Kegiatan mesra mereka terjeda begitu mendengar ketukan di pintu. Awalnya Juna tidak peduli dan kembali melanjutkan memesrai kendati Anggi meminta berhenti dan ingin membuka pintu. Bagi Juna, seruan pening yang mendesak ubun-ubun lebih penting untuk diredakan saat ini.


Meski berat dan tak rela, Juna berhenti mencerup dan mendongak. "Biarkan saja. Aku tak peduli. Saat ini ada yang lebih penting untuk diprioritaskan daripada ketukan pintu," jawabnya parau, kemudian kembali mendaratkan kecupan memuja bertubi-tubi di sepanjang bahu dan tulang selangka wanita cantik yang duduk di pangkuannya.

__ADS_1


Lagi-lagi ketukan di pintu terdengar. Lebih kencang dari yang pertama.


"Mas, kayaknya betulan ada hal penting. Biar aku buka dulu sebentar," cicit Anggi mulai merasa tak tenang.


"Hhhh, ganggu saja! Memangnya ada apa sih malam-malam begini!" Mendengus kesal, akhirnya Juna berhenti, membiarkan Anggi turun dari pangkuannya. Mengacak rambutnya sendiri lalu memijat pelipis yang berdenyut dengan kedua siku bertumpu di lutut. Bukan hanya kepalanya yang pening, pusat titik didihnya juga ikut pening, menggeliat meronta-ronta.


Sebelum membuka pintu, Anggi menyambar jubah tidur guna membungkus raganya yang hanya memakai gaun menerawang. Memastikan tampilannya sekilas di depan cermin sebelum membuka pintu.


Saat pintu terbuka, tampak Bik Tiyas yang berekspresi tak enak hati. "Bu, maaf mengganggu waktu istirahatnya," ucapnya sungkan.


"Tidak apa-apa. Pasti Bik Tiyas mengetuk karena ada hal yang sangat penting bukan?"

__ADS_1


Bik Tiyas mengangguk. "Iya, Bu. Itu, anu. Papi dan Mami Pak Arjuna baru saja datang dan sekarang ada di ruang tamu."


Bersambung.


__ADS_2