
Istri Arjuna bab 58b
Pagi-pagi sekali salah seorang ART mengetuk pintu kamar. Anggi baru selesai dengan ritual mandi. Sudah segar dalam balutan jubah mandi. Semalam, dia tak ingat untuk membasuh diri setelah seharian bepergian disusul terbang ke Bali. Diakibatkan kepanikan yang menyerbu akan keberangkatan tiba-tiba sang suami, juga disajikan dengan Juna yang terbaring terluka begitu ia menyusul dan tiba di Pulau Dewata ini.
Anggi menaruh nampan sarapan yang diantar ART ke meja nakas, lalu mendudukkan diri di sisi kasur. Juna sudah terjaga sejak beberapa menit lalu. Hanya saja rasa berdenyut juga berdentam di kepalanya masihlah menyiksa kuat, hingga membuat pandangannya berkunang-kunang saat telapak kaki mencoba mendarat di lantai untuk berdiri, akhirnya Juna memilih duduk bersandar saja di atas tempat tidur.
“Sayang, bisa bantu papah aku ke kamar mandi?” pinta Juna.
“Ya?” Anggi yang sedang fokus memeriksa satu persatu menu terbebas dari daun bawang yang dibenci Juna, mendongak dan menatap polos dengan mata sendu indahnya.
“Aku, ingin ke kamar mandi. Sebelum sarapan, aku ingin membasuh badanku supaya lebih segar.”
“Tapi nanti sarapannya dingin.” Anggi menunjuk isi nampan.
“Gak masalah. Aku ingin mandi sebentar saja, badanku rasanya tak nyaman. Tapi, aku merasa belum kuat berjalan sendiri. Efek dari kepalaku yang berdentam hebat, pandanganku jadi berkunang-kunang.” Juna berterus terang karena memang begitulah adanya.
Anggi menggeser duduknya lebih dekat. “Pasti sakit banget ‘kan?” ujarnya cemas.
Ia mengusap-usap lembut kepala Juna. Matanya ikut menyusuri. Di sekitar perban, kini jejak lebam makin terlihat. Membiru tercetak jelas di sana dan sudah pasti rasa sakitnya tidak sederhana.
__ADS_1
“Melihat kamu memenuhi ruang pandangku, rasa sakitku mulai berkurang. Apakah Anggita ini merek obat sakit kepala? Bukan cuma sakit kepala seperti sekarang, tapi juga sakit kepala lainnya.”
Juna berkelakar diiringi kekehan kecil, ingin mencairkan muram di wajah istrinya. Wanita hamil di hadapannya ini mudah sekali berkaca-kaca sekarang. Sungguh, hatinya tersentuh semakin dalam saat melihat Anggi begitu mengkhawatirkannya.
“Apa obat merek itu manjur?” balas Anggi bersama seulas senyum menghiasi wajah sembapnya. Bagaimana tidak, menangis beronde-ronde sejak semalam di sambung dini hari, tentu saja meninggalkan sisa-sisa berjejak bekas air mata.
“Sangat manjur, dan hanya diciptakan spesial untukku,” jawab Juna sambil mencubit ujung hidung bangir istrinya gemas. “Mau kah istriku ini membantuku ke kamar mandi?” pintanya lagi.
“Gimana kalau aku seka di sini saja? Pakai handuk kecil dan air hangat. Jadi Mas enggak usah ke kamar mandi,” tawar Anggi yang masih didera khawatir. Suaminya saat ini tampak tidak baik-baik saja.
“Lebih baik ke kamar mandi saja. Kalau kamu menyeka seluruh badanku itu berbahaya, nanti ada yang terbangun dan kondisiku sedang tak memungkinkan untuk menjinakkannya,” ujarnya dengan tatapan penuh arti.
“Me-menjinakkan?” Anggi tergagap seraya menelan ludah. “Me-memangnya Mas punya peliharaan hewan buas?” Anggi yang masih diliputi kecemasan, gagal menangkap maksud tersirat dari kalimat suaminya.
“Hah! U-ular.” Ia mendadak diliputi rasa seram. Mendengar kata ular berbisa bulu kuduknya berdiri seketika. Anggi mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. “A-apa, u-ularnya di sini?” tanyanya tak tenang.
“Iya, ada di sini.” Juna berusaha menahan diri untuk tidak tertawa.
“Yang benar?” Anggi berjengit. Makin merapat pada Juna sambil menyapu pandangan waspada ke seluruh kamar.
__ADS_1
“Di mana?” tanyanya lagi sambil menatap Juna lekat-lekat, penuh antisipasi menunggu bibir suaminya itu menjawab.
Dengan bibit terlipat menahan tawa, Juna meraih sebelah tangan Anggi dan mendaratkan telapak halus istrinya itu tepat di atas resleting celananya. “Di sini.”
“Mas!” Anggi menarik tangannya cepat, refleks meninju bahu Juna lantaran kesal. “Lagi sakit juga bisa-bisanya malah iseng!”
Juna tertawa walau tak terbahak lantaran energinya belum lah pulih, kemudian ia malah mengaduh memegangi dadanya yang ditinju Anggi.
“Akh.”
“Ya ampun. Maaf, maafin aku, aku gak bermaksud.” Anggi malah panik sekarang. Merasa semakin bersalah. Meraba-raba bahu Juna dengan bibir mencebik.
Juna kembali terkekeh. Merangkul dan mengecup puncak kepala istrinya itu. “Aku hanya bercanda," imbuhnya.
“Jangan bercanda kayak gitu, aku gak suka melihat Mas kesakitan. Dadaku ikut terasa nyeri saat melihatnya,” tukas Anggi marah terbungkus sayang. Mendongak menatap Juna lekat.
“Benarkah begitu?” Juna balas menatap dengan sorot bahagia di mata.
Anggi mengangguk lugu. “Itu benar. Ayo, kubantu ke kamar mandi sekarang. Aku mandikan. Aku cemas Mas jatuh di kamar mandi. Bagian yang diperban juga sebaiknya belum boleh terkena air, jadi harus hati-hati.”
__ADS_1
Juna berpikir sejenak kemudian mengangguk setuju. Tak menolak maupun melarang meski rasa khawatir menggelitik, takut Anggi yang sedang hamil kelelahan. Dia ingin menikmati euforia dihujani perhatian dan balas dicintai wanita yang dicinta yang merupakan hal baru baginya, membuat taman kalbunya berbunga kian subur. Lebih dari sekadar senang. Buncahan bahagia memenuhi dada tak terkira.
TBC