
Istri Arjuna Spesial Bab Tiga
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Juna memiliki jadwal temu penting dengan salah satu mitra Royal Textile yang bergerak di bidang konstruksi. Terkait rencana Arjuna yang ke depannya ingin melebarkan sayap pada bisnis lain yakni ingin membangun mal-mal ekslusif sebagai wadah gerai brand-brand terbaik, baik itu dalam negeri maupun luar negeri.
“Presdir dari perusahaan konstruksi sudah menungguku di ruang tamu VIP. Kamu mau ikut atau menunggu di sini?” tanya Juna yang sedang dirapikan dasi dan kemeja yang dipakainya oleh sang istri tercinta.
“Pembicaraan bisnis yang rumit akhir-akhir ini malah bikin kepalaku pusing dan mengantuk. Padahal sebelumnya aku suka. Aku nunggu di sini saja deh, sambil nunggu Brama pulang.”
“Akh, padahal kalau kamu mau ikut itu lebih baik. Biar aku enggak usah bolak-balik ke toilet saat merasa mual cuma buat sembunyi-sembunyi menghirup aroma bra milikmu,” keluh Juna merajuk, berangsur berubah menjadi bayi besarnya Anggita Jelita dari hari ke hari.
__ADS_1
“Maaf ya, Mas. Tapi di kehamilan keduaku ini aku gampang sekali merasa bosan saat mendengarkan bahasan bisnis,” jelas Anggi terus terang. Bukannya Anggi tidak kasihan pada Juna, hanya saja khawatir kalau ia ikut malah ketiduran di tengah-tengah pertemuan penting. Anggi merasa tak sopan, di saat orang lain sedang berbincang serius, ia malah mendengkur nantinya.
“It’s okay, Sayang. Istirahatlah di sini dan tunggu aku selesai. Nanti kita pulang bersama, jangan pulang duluan setelah Brama sampai di sini.” Juna membelai sayang kepala Anggi.
“Tapi, dari sini aku mau mampir ke kafe. Sudah beberapa hari hanya memantau secara daring, dan bersyukur kafe selalu ramai di sore hari sampai malam. Aku sedang mengembangkan varian kopi baru bersama barista di kafe kita, semoga menjadi best seller seperti yang sudah-sudah, disesuaikan dengan tema-tema yang sedang hits di kalangan anak muda saat ini.”
“Oke, Papa,” cicit Anggi senang karena suaminya selalu mendukung penuh hal-hal yang dikerjakannya, tidak pernah meremehkan meski keuntungan kafe tentu saja tidak sebanding dengan profit Royal Tekstile. Anggi berjinjit dan mengecup sayang rahang Juna, menerbitkan senyum merekah lebar di wajah tampan suaminya.
Juna membungkuk dan mencium perut Anggi, lalu mengobrol di depan bulatan buncit yang masih belum terlalu menyembul itu. “Baik-baik di dalam sana ya, bayi Papa tersayang. Bayi Papa yang suka sekali menjahili papanya ini sampai bolak-balik ke toilet. Tapi demi kamu dan Mamamu, Papa rela,” ujarnya yang sekali lagi mencium perut sang istri.
__ADS_1
“Dah, Papa. Selamat bekerja.
Anggi memilih menunggu di ruangan Juna, berkeliling melihat-lihat sembari memperhatikan detail ruangan luas sarat akan kemewahan itu. Anggi teralihkan pada meja kerja Juna yang agak berantakkan. Wadah-wadah bekas tempat bekal masih berserak di sana. Semula ia hendak rebah di sofa. Akan tetapi, lantaran meja kerja suaminya tidak rapi, Anggi merasa gatal melihatnya, memilih membenahi supaya sedap di pandang.
Setelah semuanya rapi, sebuah paper bag yang sedikit menyembul dari laci paling bawah yang kurang tertutup rapat mencuri perhatian. Penasaran, Anggi menarik tuas laci, dan ia tertegun dengan dahi mengernyit setelah melihat isinya.
“Gaun wanita dari VN Fashion? Punya siapa ini?”
Bersambung.
__ADS_1