Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 51b


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 51b


Sejak pagi hingga melewati waktu makan siang, hujan turun membasahi. Kadang lebat kadang hanya rintik-rintik gerimis. Angkasa kelabu, memeluk bumi syahdu mendayu.


“Haish!” keluh Juna kesal. Sudah lima kali dia menghubungi Pandu, tetapi panggilan teleponnya tak kunjung tersambung.


Mengetuk-ngetukkan ponsel di dahi, Juna baru teringat bahwa semalam sebelum berpisah di Bandara, dia mengatakan dengan mulutnya sendiri memberi Pandu waktu libur beberapa hari sampai dengan akhir pekan.


“Mas,” panggil Anggi saat melihat suaminya duduk resah di sofa yang terletak di area sebelah kanan dari tempat tidur. Buru-buru Juna bangkit dari duduknya. Sigap menghampiri.


“Kenapa? Apa ada yang sakit?” tanya Juna panik. Membungkukkan tubuh jangkungnya hingga jarak wajah mereka lebih dekat seraya memegang kedua bahu Anggi pelan.


Tawa kecil berderai. Anggi merasa lucu melihat si pria kepala batu yang kini mudah sekali panik meskipun ia tidak mengaduh. Tawa renyah Anggi membuatnya tertegun sejenak, bibir Juna mengerucut dilengkapi kelopak mata memicing.


“Kenapa kamu malah tertawa? Memangnya ada yang lucu!”


Juna melayangkan protes penuh tanya. Anggi berusaha menghentikan tawa. Menyisakan senyum lebar terukir di wajah cantiknya yang masih kehilangan separuh ronanya walaupun tidak seluruhnya pucat.


“Mas yang lucu,” cicitnya apa adanya.


“Aku?” Juna menunjuk dirinya sendiri. Keningnya berkerut, merasa kata lucu sama sekali tak cocok disandingkan dengannya.


Anggi mengangguk. Sebelah tangannya yang terbebas selang infus menangkup pipi Juna. “Mas terlihat lucu saat sewot dan panik seperti tadi, padahal aku hanya memanggil, bukan mengaduh,” jawab Anggi sambil mengelus lembut.

__ADS_1


Kalbunya yang digelayuti prasangka buruk nyaris menggelap terhadap pria arogan ini, menyingkir perlahan-lahan setelah tahu sabab musababnya. Tak dipungkiri, luka yang diberi Juna belum lah mengering, akan tetapi saat menakar menggunakan akal dan menelaah dengan hati, rasa-rasanya sangat wajar jika pria yang telah menjadi suaminya ini merana begitu dalam seolah kehilangan separuh diri.


Analogi menjaga jodoh orang sangat relevan disematkan dengan masa lalu Juna. Bahkan bulu kuduk Anggi bergidik sewaktu Marina bercerita kisah masa lalu Juna.


Dari cerita tersebut Anggi menelaah, masih beruntung kewarasan Juna tidak sampai ikut tercerai-berai saat penantian dan perjuangan panjang bertahun-tahun Juna demi meraih cinta di masa lalu yang sudah hampir tergenggam, seketika hancur menjadi debu tersapu angin dalam waktu sekejap. Restu keluarga tak didapat, si pujaan hati kembali kepada cinta yang seharusnya, disusul dengan kebangkrutan fatal perusahaan yang dibangunnya kala itu, meluluh lantakkan segala asa.


“Kenapa kamu menatapku begitu? Atau jangan-jangan, kamu baru sadar kalau aku ini memanglah ganteng dan sedap dipandang.” Juna berujar narsis, menyeringai miring penuh percaya diri.


“Hih! Gak tahu malu. Mengaku diri sendiri ganteng!” seru Anggi sebal. Menyudahi elusan telapak tangannya. Juna benar-benar merusak suasana syahdu yang sedang terbentang di antara mereka. Giliran Juna yang puas tergelak sedangkan Anggi cemberut sekarang.


“Mas, sudah dong. Jangan ketawa terus. Berisik lho, anakmu nanti marah!” Anggi merengut kesal.


“Oke, oke.” Juna kini duduk di tepian ranjang setelah puas terbahak. “Oh, iya. Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Ada apa memanggilku, hmm?”


Juna berdecak frustrasi. “Aku tadinya ingin memerintahkan Pandu mencari tahu penyebab terjatuhnya kamu di restoran. Apakah memang murni kecelakaan seperti yang mami sampaikan padaku, atau karena keteledoran pihak restoran. Tapi aku lupa, Pandu sedang kuliburkan dan aku tak mudah memercayai orang lain untuk mencari informasi. Ada Bang Barata yang bisa kupercayai selain Pandu dan pasti bersedia kumintai tolong, tapi sekarang saja dia sudah kurepotkan dengan urusan Royal Textile. Sebetulnya aku ingin pergi mencari tahu sendiri, tapi fokusku buyar dan rasanya berat untuk bepergian karena kondisimu belum sepenuhnya pulih. Keterkejutanku semalam masih membentuk sindrom yang menghantuiku, aku takut terjadi hal yang tak diinginkan lagi saat kamu jauh dari jangkauanku.”


Punggung Anggi menegang mendengar perkataan Juna. Cepat-cepat menguasai diri sembari membasahi bibir. “Kalau ingin tahu tentang hal itu, Mas bisa bertanya padaku, tidak perlu repot-repot mencari tahu. Kejadiannya begitu cepat dan saat itu Mami sedang berada di area dalam restoran. Aku terjatuh memang karena kurang hati-hati,” tuturnya berusaha tenang.


“Setahuku, ceroboh bukanlah gayamu, Anggita. Kenapa di saat berbadan dua malah jadi serampangan!” geram Juna marah terbalut khawatir.


“Aku mengaku salah. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Namanya juga musibah, tidak ada yang tahu kapan terjadi ‘kan?” jelas Anggi hati-hati sementara Juna menatapnya dengan sorot tak terbaca.


“Tapi, kenapa Mas pulang lebih cepat?” tanya Anggi penasaran, serta demi mengalihkan topik pembahasan.

__ADS_1


Juna menyugar rambut. “Acara inti sudah selesai dan sepertinya angin menyampaikan firasat supaya aku segera pulang. Dan ternyata memang benar, hal mengejutkan terjadi padamu juga anakku begitu aku menginjakkan kaki di rumah.” Juna menggunakan firasat sebagai alasan, masih enggan mengucap yang sebenarnya, bahwa dia pulang lebih awal lantaran rindu berat.


“Sepertinya anak kita yang memanggilmu pulang,” cicit Anggi yang kemudian terkekeh.


“Jangan tertawa! Dilarang tertawa di saat aku dibuat tak tenang gara-gara kamu,” sergah Juna sebal. “Setelah kamu benar-benar pulih, aku akan tetap mencari tahu penyebab kamu jatuh sampai rasa penasaranku hilang.”


Membuang napas berat, Anggi mengangguk pelan. “Untuk sekarang, bisakah kita fokus saja dengan penyembuhanku? Aku ingin bisa segera pulang. Juga, sebaiknya Mas istirahatkan tubuh dan pikiran untuk beberapa hari ke depan, setelah mengurusi pekerjaan juga perjalanan jauh dari luar negeri pasti melelahkan bukan?”


“Semua lelahku lenyap juga menguap berganti keterkejutan yang menyambutku ketika sampai di rumah. Kamu pikir, aku masih peduli dengan rasa lelahku ketika mendengar kamu yang sedang mengandung anakku dilarikan ke rumah sakit?” Suara Juna meninggi. Ketakutan hebat masih meliputi.


Anggi mengigit bibir. Bola matanya memanas. Bolehkan ia terharu sekarang? Kendati belum yakin rasa khawatir Juna terhadapnya merupakan bentuk utuh untuknya termasuk si buah hati atau hanya pada si jabang bayi saja.


Berbekal tangis Juna yang tumpah di dini hari serta kata cemburu yang tertangkap telinga di pagi tadi, Anggi memberanikan diri membuka kedua lengannya dan berkata, “Mas lihat, aku sudah baik-baik saja sekarang ‘kan? Coba peluk aku, supaya lebih yakin,” pintanya lembut mendayu.


Untuk sesaat Juna terdiam, hanya menatap lurus tanpa senyuman pertanda hatinya tak tenang.


“Sini, peluk aku.” Anggi mengulas senyum dan membuka kedua lengannya lebih lebar. Mengundang sang kumbang gundah ke dalam pelukan.


Juna akhirnya mencondongkan tubuh, masuk ke dalam dekapan Anggi yang disambut pelukan hangat. Juna menikmati setiap persembahan belaian lembut di punggungnya. Hidung mancungnya menghidu aroma harum menenangkan yang menguar dari tubuh yang memeluknya. Begitu menentramkan. Rasanya seumpama pulang ke rumah yang dirindukan setelah sekian lama.


“Aku kangen kamu, Anggita,” desah Juna serak dengan mata memejam.


Aku juga, aku juga kangen kamu, Mas. Jawab Anggi dalam hati.

__ADS_1


TBC


__ADS_2