
Halo, happy holiday semua. Anggi dan Juna hadir melengkapi libur kalian. Jangan lupa vote dan hadiahnya untuk cerita kesayangan kita dan selamat membaca🥰.
Istri Arjuna Bab 73a
Di acara pernikahan sahabatnya, Freya, Anggi kembali terlihat ceria setelah beberapa waktu rona cerah itu sempat hilang semenjak kepergian sang ibunda tercinta.
Juna membiarkan Anggi bebas bercengkerama dan tertawa lepas dengan para sahabatnya. Mengulum senyum lega melihat kedua sudut bibir sang istri terus tertarik ke atas sepanjang acara kendati sesekali Juna tetap mengingatkan karena terkadang Anggi bertingkah absurd jika sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Juna juga tak lalai mendampingi, tetap pada posisi sedekat mungkin dengan wanita hamil tercintanya, menjadi suami siaga di mana pun berada.
“Kamu senang?” tanya Juna dari atas kepala Anggi.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Anggi duduk bersandar ke dada bidang Juna, memasrahkan punggung di sana dilengkapi kedua lengan Juna yang memeluknya posesif.
“Sangat.” Anggi menoleh dan menengadah saat menyahuti pertanyaan suaminya. Senyumnya terbit dan itu menular pada Juna yang juga mengukir ukiran yang sama di rupa tampannya.
“Kamu capek?”
“Enggak terlalu. Kenapa?” Anggi balik bertanya.
“Semenjak menikah, rasa-rasanya kita belum pernah pergi berkencan bukan? Aku ingin mengajakmu berkencan seperti yang dilakukan pasangan lain pada umumnya, mumpung cuaca cerah. Tapi itu pun kalau kamu mau.”
Anggi mengubah posisi duduknya, menegakkan punggung yang tadi bersandar hingga kini ia berhadap-hadapan dengan Juna.
“Jadi, Anda ingin mengajak saya berkencan, Tuan Arjuna Syailendra?” Anggi mengerlingkan mata menggoda.
“Tepat sekali, dan saya sedikit memaksa, Nona Anggita Jelita.” Juna balas menggoda, senyumnya kian lebar saja terpatri di seraut wajah tampannya.
__ADS_1
“Tapi, Anda harus melihat ini, perut saya membuncit terkena bisa ular berbahaya yang begitu ganas. Apa anda tidak keberatan berkencan dengan wanita yang berbody seperti drum band bukan seperti gitar Spanyol?” Anggi mengusap perutnya dan mengerucutkan bibirnya lucu membuat Juna tak mampu menahan rasa gemas.
“Justru itulah daya tarik Anda Nona. Karena saya berniat untuk membuat Anda terkena sengatan bisa beracun itu lebih banyak lagi, dua atau tiga kali lagi mungkin?” Juna menelengkan kepala sembari melempar tatapan penuh arti.
“Ish memangnya aku pabrik anak!” kesal Anggi dan percakapan gaje mereka diakhiri gelak tawa.
“Ayo, aku juga ingin berkencan. Mau pergi ke mana?” tanya Anggi kemudian.
“Mungkin kamu punya ide atau ada tempat yang ingin dikunjungi?”
“Mmm, ke bioskop bagaimana? Aku ingin menonton film yang baru saja rilis, film yang diangkat dari novel best seller terkenal yang terjual jutaan eksemplar ke seluruh dunia dan sekarang memasuki sekuel ke tiga.”
“Harry Potter?” Juna mengerutkan kening.
“Menonton di rumah bukankah lebih santai daripada di bioskop? Apa fasilitas home teater di rumah perlu dilengkapi lagi?”
“Home teater di rumah sudah sangat sangat sangat nyaman dan lengkap. Tapi tentu saja berbeda sensasinya saat kita menonton di bioskop,” jelas Anggi terdengar ngotot.
Terdiam sejenak Juna tampak berpikir. Terakhir pergi ke bioskop adalah saat dirinya masih duduk di bangku SMA dan hal itu sudah berlalu belasan tahun lalu.
“Oke, aku setuju. Kita berkencan ke bioskop.”
Di akhir pekan begini banyak muda-mudi yang mengantri membeli tiket untuk menonton. Anggi begitu bersemangat menggandeng lengan Juna, mengajak suaminya itu untuk membeli popcorn juga minuman ringan setelah tiket didapat.
Mereka mengambil tempat duduk di jejeran paling atas. Tepat di kursi paling pojok. Juna sempat bertanya pada Anggi kenapa memilih kursi di bagian ini dan Anggi menjelaskan bahwa duduk di sana merupakan posisi paling ideal untuk menonton film saat berkencan.
__ADS_1
“Kamu bilang ini adalah posisi duduk yang ideal untuk menonton saat berkencan. Jangan-jangan kamu pernah berkencan seperti ini juga dengan pacarmu dulu dan duduk di area semacam ini.” Juna mendengus tak suka tepat setelah mereka mendaratkan pinggul di sana.
Anggi cekikikan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Mas cemburu?” ujarnya telak saat mendapati ekspresi suaminya itu merajuk ditekuk.
“Ehm, ehm.” Juna hanya berdehem. Duduk bersandar dengan dengan tatapan lurus ke depan.
Kembali terkikik geli, Anggi menyandarkan kepala di bahu Juna setelah menaruh popcorn juga gelas minuman di tempat yang sudah tersedia.
“Justru aku belum pernah. Teman-teman kerjaku dulu sering mengatakan bahwa posisi kursi di sini paling sesuai untuk berkencan. Jadi, aku ingin mencobanya sekarang."
Anggi menjelaskan dan penuturannya berhasil mengubah raut Juna yang tadinya masam kembali cerah. Memanglah para pria dengan rasa cemburunya terkadang muncul bukan di tempat yang tepat. Juna merangkul Anggi begitu lampu dimatikan dan film diputar. Walaupun sempat menggerutu saat menyadari setiap kursi tersekat dudukan lengan sehingga Juna tak bisa menarik Anggi lebih merapat padanya.
Film yang ditayangkan di layar sampai pada adegan romantis di mana si pria tengah menyatakan cinta pada si pemeran wanita yang diteruskan pada adegan ciuman mesra, membuat para penonton terbawa suasana bertepatan dengan Anggi dan Juna yang juga saling melirik satu sama lain hingga tatapan mereka bersirobok.
Dalam temaram, rupa jelita Anggi puluhan kali lipat semakin cantik. Netra sendu jernih, hidung bangir, juga bibir merah yang sedikit terbuka, menawan mata juga hati Juna kian terpenjara saja pada pesona istrinya itu.
Film masih berlanjut, baru setengah jalan, tetapi Juna dan Anggi sekarang malah asyik saling menatap bukan menonton layar. Mereka berpandangan lekat menggulirkan manik masing-masing.
Jarak mulai terkikis sedikit demi sedikit, embusan napas kian berderu hingga akhirnya bibir mereka bertemu dan bertaut mesra tak tertarik lagi pada jalan cerita film yang diputar. Mencerup dalam tak ingat sedang berada di mana. Telapak Juna ikut merajalela meremas pinggul Anggi. Juna mengerang jantan kala Anggi sama-sama balas mencerup. Mengobarkan api yang terpantik dalam nadi untuk berkobar.
Kening Anggi dan Juna saling menempel satu sama lain saat pagutan yang cukup lama itu disudahi. Rongga dada keduanya kembang kempis, kemudian Juna berkata masih dengan napas terengah.
“Aku butuh hotel terdekat, sekarang juga,” geram Juna serak yang diangguki Anggi dengan cepat. Bergandengan tangan meninggalkan area bioskop yang masih dilingkupi kegelapan.
Bersambung.
__ADS_1