
Istri Arjuna bab 78a
Tiga minggu menjelang jadwal perkiraan bersalin, Anggi bersiap berangkat ke Bali sesuai permintaan Marina dan Surya. Ingin menyaksikan kelahiran si cucu pertama yang dinanti, juga ingin merawat Anggi serta si bayi pasca persalinan nanti.
Anggi yang masih pemula sudah pasti membutuhkan bimbingan seorang ibu setelah anak yang dikandungnya lahir. Dulu mungkin ada Ningrum yang bisa membimbing, tetapi sekarang Ningrum sudah menutup mata, sedangkan Marina tidak ingin menantu dan cucunya hanya dirawat sesuai arahan baby siter saja.
Adu pendapat sempat terjadi antara Juna dengan Marina. Juna merasa tak mampu berjauhan dengan istri dan anaknya walau sebentar saja. Membayangkan kedua orang yang amat berarti baginya tak berada dalam jangkauan tangannya, membuat Juna frustrasi setengah mati. Dia harus tetap berada di Jakarta untuk mengurusi Royal Textile yang tidak mungkin ditinggalkan terlalu lama, apalagi sekarang Royal Textile sedang berkembang pesat.
Bukan tak percaya dengan perawatan anak dan istrinya di Bali nanti karena sudah pasti seluruh perhatian keluarga besar akan tercurah. Hanya saja dia takkan mampu menahan siksaan rindu jika berjauhan walaupun hanya untuk sehari saja, sementara rencana tinggal di Bali adalah tiga bulan lamanya sesuai dengan permintaan orang tuanya, sampai Anggi dinyatakan pulih dan menurut prediksi Marina perlu rentang waktu selama itu.
__ADS_1
Akhirnya solusi didapat. Barata dan Maharani lah yang memberi usulan. Bersedia menangani Royal Textile Jakarta selama Anggi di Bali. Dengan begitu Juna bisa tetap ikut serta tinggal di Bali selama Anggi di sana, mengurus pekerjaan secara daring saja dengan Barata.
Maharani dan Barata memilih tinggal di apartemen yang masih merupakan milik keluarga Syailendra. Apartemen yang dulu Juna tinggali selagi membangun rumah yang dihuninya sekarang.
Anggi dan Juna sempat menyarankan untuk tinggal di kediaman mereka. Namun, keduanya menolak, selain tidak ingin mengganggu privasi rumah adiknya meskipun rumah itu amat luas, Maharani dan Barata juga memiliki alasan lain. lokasi apartemen yang ditinggali lebih dekat ke gedung perusahaan Royal Textile juga ke RSJ di mana Ayu dirawat.
“Mbak Rani, aku punya permintaan,” pinta Anggi sebelum bertolak ke pulau Dewata.
“Ada apa? Bilang saja, jangan sungkan.” Maharani menggenggam tangan Anggi dan meremasnya lembut.
__ADS_1
“Ini mungkin merepotkan,” desahnya merasa tak enak. “Karena aku akan berada jauh, aku hendak meminta bantuan Mbak Rani mengenai segala kebutuhan kehamilan Mbak Ayu. Biasanya aku rutin mengantar segala kebutuhan sebulan sekali atau dua minggu sekali. Aku khawatir, nutrisi yang didapatnya kurang maksimal jika tidak dibantu tambahan. Demi kesehatannya juga bayi yang dikandungnya. Kalau enggak keberatan, bisakah Mbak Rani yang menggantikanku mengirim segala keperluan untuk Mbak Ayu selama aku di Bali? Tapi, itu pun jika Mbak Rani bersedia.”
Maharani mengukir senyum lebar di wajah ayunya. “Perlu kamu tahu. Sebelum kamu meminta pun, aku sudah berencana mengunjungi kakakmu sesering mungkin, seminggu sekali bila perlu. Demi memperhatikan kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Pergilah ke Bali dengan tenang, aku berjanji, akan memastikan melakukan yang terbaik untuk Masayu dan bayinya. Rasa gembiraku telah diizinkan mengadopsi anak kakakmu, merupakan anugerah untukku. Aku akan berusaha, bukan hanya akan merawat anaknya, tapi juga akan berusaha semaksimal mungkin merawat ibu yang mengandung calon anakku,” tutur Maharani penuh ketulusan. Rona gembira tercetak jelas di sorot matanya.
Rasa haru tak terbendung. Setelah begitu banyak kejadian dilalui, banyak hikmah yang dipetik. Tak pernah menyangka, Maharani kini benar-benar bertindak sebagai sosok kakak yang seharusnya setelah dulu membangun jarak yang begitu curam, bukan hanya bersikap sebagaimana kakak bagi Juna, tapi juga untuknya.
“Makasih, Mbak Rani. Makasih.”
“Jangan begitu, aku ini juga kakakmu, keluargamu. Juga Aunty si kecil di dalam sini. Iya kan, baby boy?” ujar Maharani, merasa gemas sendiri pada keponakannya yang masih berada di balik perut bulat Anggi.
__ADS_1
Maharani mengelus perut Anggi. Mereka tertawa bersama kala si kecil di dalam sana menyapa, menendang tangan Maharani yang mendarat di permukaan perut buncit Anggi. Kemudian mereka berdua berpelukan penuh sayang, sebelum Anggi masuk ke dalam mobil dan melesat pergi.
Bersambung.