
Istri Arjuna Bab 80a
Sudah memasuki dini hari, pembukaan jalan lahir hanya bertambah dua tingkat, terus saja berada di pembukaan empat sejak dua jam tadi padahal mulas yang melanda semakin melilit setelah suntikan induksi diberikan. Tekanan darah pun hanya turun sedikit, masih belum mencapai angka yang diharapkan.
Anggi menahan ringisan dengan mengatupkan mulut rapat-rapat serta memegangi lengan Juna kuat-kuat nyaris meremasnya setiap kali rasa mulas yang begitu hebat menerjang.
“Sayang, sakit sekali ya?” tanya Juna parau, tak beranjak seinci pun dari dekat ranjang di mana Anggi berbaring miring seperti yang dianjurkan. Menyusut keringat yang berembun di dahi Anggi penuh sayang bersama raut khawatir yang teramat jelas tercetak di wajahnya.
“Enggak apa-apa kok, Mas. Aku sering mendengar dari orang-orang bahwa melahirkan memang begini lah prosesnya,” jawab Anggi menenangkan, berusaha tersenyum meski mulai tampak kepayahan. “Cuma kalau miring begini, mulasnya terasa lebih sakit dibandingkan dengan saat terlentang.”
Juna mengusap perut Anggi lembut, menunduk dan mengecup di sana. “Anak pintar, jangan buat Mamamu kesakitan lebih dari ini, Papa tak tega melihatnya,” bisiknya pada si jabang bayi, terdengar amat frutrasi.
“Papa. Mama betulan enggak apa-apa. Papa harus kuat, biar Mama juga kuat,” ucap Anggi kemudian sembari menarik dan membuang napas.
__ADS_1
Sungguh lucu. Istrinya yang hendak melahirkan sedang berjuang mempertaruhkan nyawa, justru malah menenangkan sang suami yang diterjang kepanikan hebat, bukan sebaliknya.
Juna bukanlah sosok cengeng. Dia adalah pria arogan dengan segala sifat keras kepalanya. Namun, saat menyaksikan istrinya kepayahan seperti sekarang, sudut matanya berair. Menangis diserbu berbagai macam luapan rasa. Baru mengetahui, ternyata perjuangan demi menghadirkan darah dagingnya ke dunia tidak lah mudah.
“Hey, Mas, Sayang. Jangan menangis.” Anggi terkekeh pelan merasa lucu, membuka kedua lengannya lebar-lebar dan Juna langsung memeluk istrinya itu.
“Maafkan aku. Ini semua gara-gara aku yang membuatmu hamil sehingga kamu harus kesakitan seperti sekarang,” ucapnya serak di bahu Anggi.
“Ish, bukanya mau bikin aku lebih sering melahirkan? Kenapa malah jadi melow begini?” ujar Anggi disusul mengecup rambut Juna dalam tawa tertahan, sembari menahan mulas sakit melilit di perutnya yang terasa semakin menyiksa.
Pukul empat pagi, Dokter Lalita kembali memeriksa kondisi Anggi. Dokter Lalita tampak membetulkan posisi kacamatanya, membasahi bibir saat hasil periksa terbaru pun masih menunjukkan kondisi yang tidak stabil.
“Pak Juna, Bu Anggi. Jika dalam kurun waktu satu jam ke depan pembukaan jalan lahir tak kunjung bertambah serta tensi masih tinggi tekanannya. Maka prosedur tindakan operasi akan langsung dilaksanakan. Demi kebaikan juga keselamatan ibu serta janin,” jelasnya.
__ADS_1
Anggi yang memang sejak tadi tetap tenang mengulas senyum ramah dibarengi anggukan, sementara Juna tampak menegang, kentara sangat resah juga panik.
“Iya, Dok. Saya serahkan semua keputusan tindakan pada Anda yang lebih paham. Saya yakin Dokter pasti mengusahakan yang terbaik untuk saya juga anak saya,” sahut Anggi.
Anggi tampak tenang dan siap dengan segala keputusan apa pun, tidak bersikukuh ingin melahirkan secara normal jika itu berisiko. Entah melahirkan secara normal maupun melalui pembedahan, semuanya sama-sama perjuangan. Tidak mengurangi kesempurnaan sebagai wanita juga ibu.
“Baik, saya suka semangat Bu Anggi. Penuh daya juang,” ujar Dokter Lalita jujur dari lubuk hati. “Satu jam dari sekarang saya akan memeriksa lagi. Selagi menunggu, jangan berhenti untuk terus berdo’a. Saya permisi.”
Selepas Dokter Lalita pergi. Juna malah makin tampak horor. Mengecupi kening Anggi diselimuti berbagai macam ketakutan.
"Jangan cemas, Mas. Aku dan anak kita pasti akan baik-baik saja."
Bersambung.
__ADS_1
Author note: Cover diganti oleh pihak Noveltoon, bukan oleh author.