
Istri Arjuna 76 b
Ini adalah kali pertama Ayu kembali membuka suara setelah terus saja terdiam beberapa waktu. Hanya saja saat kembali berbicara, Ayu malah bereaksi aneh.
Ayu diperiksa secara menyeluruh. Bukan hanya kandungannya saja, tetapi juga mentalnya. Si sipir wanita cukup kewalahan karena Ayu terus memaksa ingin menguncir rambutnya selagi menunggu dokter kejiwaan tiba.
Kandungannya didiagnosa sehat. Akan tetapi mentalnya dinyatakan serius terganggu. Setelah tiga dokter menyatakan hal serupa, polisi segera mengubungi Anggi sebagai pihak keluarga dari Ayu. Melaporkan kondisi sang kakak juga perencanaan pemindahan ke kawasan perawatan ODGJ yang dikhususkan untuk para wanita mengandung dengan tetap di bawah pengawasan lapas.
Anggi datang tergesa ke rutan hanya memakai daster ruffle rumahan yang dilapisi kardigan katun. Tak ingat berganti pakaian saat polisi mengabari kondisi sang kakak.
Ia datang hanya diantar Pak Oman juga Lina, berhubung Juna sedang pergi ke lapangan golf untuk memenuhi undangan para pengusaha bermain golf bersama. Biasanya Anggi selalu ikut ke mana pun Juna pergi, tetapi kandungannya yang semakin besar membuatnya mudah lelah dan memilih berdiam di rumah saja. Tak lupa di perjalanan ia mengirim pesan teks pada Juna, seperti kebiasaannya yang selalu memberi kabar kemana pun dirinya pergi.
Kedua kakinya lekas memasuki kawasan lapas setelah mobil terparkir rapi. Lina terus mengingatkan sembari mengekori di belakang. Merasa ngeri melihat nyonyanya yang sedang hamil besar berjalan tergesa-gesa.
"Bu, hati-hati. Jalannya pelan-pelan."
Begitu sampai di bagian daftar besuk, tanpa basa basi Anggi langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
__ADS_1
"Saya keluarga tahanan atas nama Masayu Jelita. Saya mendapat kabar dari polisi beberapa saat lalu. Saya ingin bertemu kakak saya sekarang juga," jelas Anggi kepada petugas. Menyodorkan KTP sebagai tanda pengenal.
"Baik, Bu. Silakan menunggu di ruang tunggu khusus besuk yang telah disediakan."
Anggi duduk tak tenang selagi menunggu. Terus melirik ke arah pintu yang tersambung ke bagian dalam rutan dengan jari-jemarinya terjalin resah. Terakhir kali bertemu muka dengan Ayu ialah ketika mereka pergi ke makam ibu mereka. Setelah itu Ayu kerap menolak bertemu jika Anggi berkesempatan mampir ke lapas.
Menunggu dengan harap-harap cemas, ia sudah tak sabar ingin segera melihat kondisi Ayu. Berbagai macam kecamuk perasaan bergulung-gulung dalam dada. Masih belum ingin memercayai kabar yang didengarnya. Juga cemas akan kondisi keponakannya yang berada dalam kandungan kakaknya jikalau mental Ayu benar-benar terganggu.
"Bu, minum dulu. Ibu pasti capek sehabis berjalan tergesa-gesa." Lina menyodorkan satu botol air mineral yang dibawanya dari mobil.
"Aku enggak haus, Lina. Kamu saja yang minum," tolak Anggi. Mendorong botol air yang diberikan padanya.
Derap kaki yang mendekat membuat Anggi bangun dari duduknya. Berdiri tak tenang menunggu siapa yang muncul.
Bola mata sendu Anggi dipenuhi sosok yang sudah lama tak bertemu muka, membias di iris coklat tuanya.
"Mbak, Mbak Ayu, gimana kondisi Mbak juga kandungan?" tanya Anggi cepat. Menghampiri dan memegang lengan kakaknya.
__ADS_1
Ayu yang tampak kurus, menggulirkan padangan padanya dengan sorot penuh tanya sembari menggaruk-garuk kepalanya. Juga mengamati setiap jengkal ruang besuk yang tidak terlalu besar itu.
"Bu guru, apa ini kelas baruku?" tanya Ayu pada si sipir yang mendampingi.
Si sipir hanya mengangguk. Bertukar pandang dengan Anggi yang air mukanya kini dihiasi kesedihan menyerbu.
"Bu Anggi, silakan jika ingin berbincang secara pribadi. Saya menunggu di dekat pintu, khawatir tahanan bertindak tak terkendali," ucap si sipir yang kemudian menjauh dan berdiri di dekat pintu yang terhubung ke area dalam rutan.
"Kamu Anggi?" tanya Ayu yang memang tampak sungguh tak mengenalinya sembari kini menggaruki dada, leher hingga punggung.
Bola mata Anggi yang sudah menggenang sedari tadi, tak mampu lagi menahan debit airnya. Kristal bening itu meluncur luruh membasahi pipi, bersama isakan tertahan di tenggorokan.
"Mbak, ini aku, Mbak," jawabnya tercekat.
"Anggi, kenapa kamu nangis? Apa si Ramdan kelas lima yang nakal itu ngambil kuncirmu lagi?" Ayu mengusap pipi Anggi menggunakan punggung tangannya dan mengusap-usap kepalanya membuat tangisan Anggi semakin pecah saja.
"Biar nanti Mbak hajar itu si Ramdan. Sini, sini, jangan nangis lagi. Mbak masih punya kuncir yang lain. Nih, ada warna pink kesukaan kamu," ucap Ayu menghibur. Menunjukkan kuncir lusuh dari sakunya sembari mengulas senyum.
__ADS_1
Bersambung.