
Istri Arjuna bab 64b
“Mas, bagaimana, apa dokter mengizinkan?” tanya Anggi harap-harap cemas pada suaminya yang baru saja selesai berbincang dengan dokter yang bertanggung jawab juga pihak-pihak rumah sakit.
“Anggita,” ucap Juna. Dia mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan kata. Juna meremas bahu Anggi lembut dan menghela napas panjang. “Dokter memperbolehkan ibu untuk pergi berjalan-jalan sesuai dengan keinginannya.”
“Syukurlah, syukurlah." Anggi terdengar lega. Ia menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya.
Ada secercah asa yang menghangat dalam dada. Mengusir ketakutan yang sejak tadi mendera. Anggi membatin, jika dokter memberi izin, itu artinya kondisi ibunya tidak segawat seperti praduga yang memenuhi pikirannya.
“Tapi_” Lagi-lagi kata-kata Juna mengambang. Seolah berat untuk mengucapkan untaian kalimat yang tertahan di ujung lidah.
“Tapi apa, Mas?” Bola mata Anggi bergulir penuh tanya, balas menatap iris hitam Juna yang sedang menatapnya sendu.
__ADS_1
“Anggita, kuharap kamu kuat serta sabar dan aku percaya bahwa kamu bukanlah sosok yang lemah, Istriku." Juna berkata dengan nada penuh beban.
“Sebenarnya ada apa, Mas? katakan saja,” desaknya tak sabaran. Getar suaranya terdengar tak tenang.
Juna membawa Anggi untuk duduk bersisian. Menggenggam kedua tangan Anggi lembut dan mengecupnya sejenak.
“Sayang, bagaimana pun juga kamu tetap harus tahu tentang hal ini meskipun berat. Setelah pemeriksaan menyeluruh beberapa saat lalu. Dokter menjelaskan sesuatu padaku."
Juna menunduk dan menarik napas sejenak sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.
"Dokter menyatakan. Tidak ada tindakan lain lagi yang bisa mereka lakukan. Mereka menyatakan ini setelah mengusahakan yang terbaik. Tapi, bukan berarti mereka menyerah dan hanya berpangku tangan, akan tetap mengusahakan kendati celah kesembuhan hanya menyisakan kemungkinan satu persen. Hanya saja, dokter menyarankan kita supaya tidak menyia-nyiakan waktu kebersamaan dengan ibu yang entah sampai kapan masih bisa kita lalui. Bisa pendek, bisa juga panjang, karena umur manusia hanya hak Sang Maha Pemilik Kehidupan yang menentukan. Tetap berdo’a memohon yang terbaik. Tanpa membuang harapan akan mukjizat. Untuk itulah, dokter mengizinkan jika ibu ingin berjalan-jalan bersamamu, asalkan tidak terlalu jauh, khawatir menguras energi.”
Juna bertutur hati-hati dengan nada lembut. Tak ingin Anggi terlampau terkejut, meskipun dia tahu, bahwa penyampaian seperti apa pun tentang hal ini pasti tetap membuat terguncang. Akan tetapi, setidaknya Juna berusaha untuk membuat Anggi tidak terlalu syok. Juna tidak punya pilihan, menyembunyikan kenyataan dari Anggi juga sama sekali bukan tindakan yang benar. Seperti yang istrinya itu pernah katakan. Segala sesuatu baik itu masalah juga ujian dalam kehidupan hanya akan selesai jika dihadapi, bukan dihindari.
__ADS_1
“Sayang, kamu mendengar penjelasanku, kan?” Juna meremas jemari Anggi yang digenggamnya karena istrinya itu hanya membeku dengan tatapan kosong setelah mendengar kalimat panjangnya.
Bukannya menjawab. Anggi beringsut bangun dari duduknya tanpa kata. Menarik tangannya yang digenggam Juna. Menghampiri kaca ruang perawatan intensif dan menempelkan kedua tangannya di sana. Menatap ke dalam ruangan di mana ibunya sedang digantikan cairan infus oleh perawat.
Juna ikut bangkit. Mengikuti ke mana istrinya melangkah. Berdiri di belakang Anggi, memegang bahu Anggi lembut, bersiaga lantaran cemas istrinya luruh ke lantai.
Di dalam sana Ningrum menoleh ke arah kaca. Senyumnya terbit saat melihat ada Anggi dan Juna yang sedang memperhatikannya. Tersenyum lebar meski wajahnya pucat pasi.
Dengan bibir gemetar bersama hati yang tercabik. Anggi menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Membalas senyum ibunya dengan ukiran serupa. Menguatkan diri untuk tidak menangis. Tenggorokannya terasa nyeri, tercekat hingga sebah, tersumpal jutaan gumpalan air mata saat mengingat kemungkinan senyum ibunya untuknya entah berapa lama lagi masih bisa dilihatnya.
Andai ada yang masih bisa dilakukannya demi kesembuhan ibunya, ke ujung dunia pun akan Anggi lakoni. Namun, ia tak bisa mendustakan kenyataan dan ia juga tahu bahwa para dokter tidak menyimpulkan gegabah.
Anggi berbalik. Pergi menjauh dari kaca sembari menarik lengan sang suami. Juna ikut melangkah menyeimbangkan kaki dengan istrinya, tak banyak bertanya ke mana Anggi hendak membawanya pergi. Sesampainya di lorong yang cukup sepi, Anggi menghentikan langkah. Ia memutar badan dan langsung menubruk dada Juna. Meraung menangis di sana dengan isakan pilu menyayat hati.
__ADS_1
Bersambung.