
Istri Arjuna 45b
Di kamar utama di lantai dua, gorden sengaja dibuka di keremangan malam yang mulai menyelimuti langit. Kaca besar juga jendela kamar utama menghadap ke area taman serta kolam renang. Di bawah sana menyajikan pemandangan hamparan bunga-bungaan cantik, didampingi riak jernih air kolam yang tertimpa cahaya dari lampu-lampu bulat yang mengitari taman juga sisi kanan kolam renang.
Terhitung sudah satu minggu Juna pergi sejak hari keberangkatan. Selama itu pula Anggi benar-benar kesulitan tertidur. Saat berjauhan, ranjangnya terasa ada yang kurang, tetapi kala berdekatan rasa ingin membangkang tak terbendung.
Sebelumnya, tidur sendiri tanpa ada Juna di sampingnya merupakan salah satu hal yang masuk ke dalam list favoritnya. Akan tetapi, justru sekarang tidak lagi. Mungkinkah semua ini imbas dari hadirnya jabang bayi yang memiliki sebagian Juna sedang bertumbuh dalam kandungan membuatnya jadi ketergantungan pada si penebar benih? Hal yang sama sekali tak pernah disangkanya, menyeretnya untuk menyelami rasa tak biasa ini lebih dalam lagi.
Menurunkan pandangan, Anggi mengusap lembut perutnya sendiri. “Apa kamu sangat kangen Papa, Nak? Sampai-sampai tidak mau memberikan kesempatan pada Mama untuk terlelap tenang, hmm?”
Anggi menipiskan bibir menertawakan dirinya sendiri. Dunianya bersama Juna banyak berubah setelah hadirnya si janin yang hampir dibuangnya. Ia lalu beralih melihat foto pernikahan berukuran super besar yang terpajang di dinding atas kepala ranjang.
Di foto tersebut, ia dan Juna tersenyum simpul selayaknya pengantin baru. Berbanding terbalik dengan kenyataan setelah pesta usai. Senyumnya berganti pilu kala itu. Anggi berjalan mendekat. Menatap lurus sambil menghela napas dalam-dalam.
__ADS_1
“Masih kah mungkin, rasa berdebar tidak diundang yang tak mampu kuhentikan ini memiliki kesempatan untuk berdetak seirama dengan rasamu, Mas? Sedangkan duniamu hanya dipenuhi satu nama. Kamu memang menorehkan luka, tapi sebab dirimu juga aku merasakan denyut tak biasa dalam nadi kala benihmu bertumbuh subur dalam rahimku,” gumamnya sendiri dalam lingkupan kegamangan yang membelenggu.
Ketukan di pintu mengalihkan fokus Anggi dari foto, terdengar suara ibu mertuanya memanggil. “Anggi, makan malam sudah siap. Ayo, kita makan bersama Nak,” panggil Marina dari balik pintu.
Dengan terburu-buru Anggi membuka pintu. Tampaklah Marina tersenyum padanya penuh kasih sayang. “Kenapa Mami yang repot-repot buat manggil aku? Biar Bik Tiyas saja, nanti Mami kelelahan,” ujar Anggi sembari mengusap bahu ibu mertuanya.
“Tidak apa-apa. Lagi pula Mami cemas kamu telat makan. Sedang hamil harus jaga kondisi baik-baik. Ayo, kita turun.”
Tanpa banyak bertukar kata, Marina menggandeng Anggi ke ruang makan penuh perhatian. Maharani juga Barata sudah lebih dulu hadir di meja makan, menunggu Anggi juga Marina untuk bersantap bersama.
“Rani. Your language, please. Kita ini satu keluarga, bukan tamu yang harus ditata dan dijamu,” tegur Marina dengan nada rendah pada si sulung.
“Tapi itu fakta lho, Mi? Sudah tahu tiba waktunya makan malam, bukannya turun lebih cepat, malah bikin kita menunggu. Di mana etika dia sebagai tuan rumah juga adik ipar?” sambar Maharani tak terima. Barata yang duduk di kursi di sebelah Maharani, mengelus punggung tangan istrinya itu berharap emosi wanita berambut lurus itu sedikit redam.
__ADS_1
“Sayang, Anggi sedang hamil muda. Aku banyak mendengar, di fase-fase awalan, para ibu hamil mudah lelah sehingga disarankan banyak beristirahat. Jadi kita semua harus maklum. Lagi pula benar seperti yang Mami katakan, kita ini keluarga, bukanlah tamu,” ucap Bara lembut, Bermaksud baik ingin suasana di meja makan tetap kondusif. Menyantap makanan dengan atmosfer menegangkan bukanlah ide bagus. Ibarat sedang dalam kejaran musuh di medan perang.
“Kenapa Mas malah belain Anggi? Seharusnya Mas membelaku, bukan dia!” seru Maharani berang. Menghunuskan tatapan tajam pada si pria yang terlihat letih itu.
Barata membuang napas lelah, sedangkan Anggi mengatupkan mulutnya rapat tak ingin melontarkan pendapat. Ia sudah menduga hal-hal semacam ini akan terjadi saat mendengar si kakak ipar akan tinggal beberapa waktu di rumahnya ketika Arjuna memberitahu bahwa Barata yang akan menangani perusahaan selama suaminya itu pergi ke Eropa.
Andai bisa menolak, Anggi enggan membiarkan Maharani yang terang-terangan tidak menyukainya tinggal di rumahnya walau hanya sementara. Namun, dalam urusan memimpin perusahaan ia tak mumpuni dan Barata memanglah orang yang tepat.
Anggi pernah memberi usulan agar Papi mertuanya saja yang menggantikan Juna. Hanya saja, Surya juga memiliki jadwal bisnis padat di Bali yang tidak bisa diganggu gugat.
“Rani. Mami minta jaga sikapmu!" tegas Marina dengan suara meninggi kini, berbeda dengan yang sebelumnya.
"Tapi, Mi?" sergah Maharani berang.
__ADS_1
"Stop. Tunda perdebatan kalian. Sekarang sudah waktunya mengisi perut. Jangan sampai Mami lalai menjaga anak dan istri adikmu setelah Juna menitipkan dan memercayakan Anggi pada Mami. Juga kasihan Bara, biarkan suamimu makan dengan tenang setelah seharian bekerja,” jelas Marina menekankan setiap kata-katanya. Melemparkan tatapan tersirat tak menerima bantahan yang selalu ampuh membuat Maharani terdiam.