Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 55a


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 55a


"Supaya lebih yakin. Mas harus periksa sendiri," desis Anggi menggoda ke telinganya. Disusul sebuah kecupan sensual berlabuh di bibirnya yang sukses membuat hasrat Juna berkobar seketika.


Desakan darah kelelakiannya yang mulai mendidih, perlahan merayap merambat ke kepala, berangsur mengaburkan nalar. Walau begitu, Juna masih berusaha menguasai diri. Dalam kurun waktu sebulan lebih dia melatih diri untuk tidak mudah menyerah dalam gairah. Tak mau berujung sesal akibat tidak bisa menahan diri.


"Anggita, jangan begini," pinta Juna dengan suara berat. Mati-matian mengontrol diri untuk tidak serta merta menerjang.


Tak dipungkiri, kepalanya diserbu serangan pening saat ruang pandangnya dipenuhi keindahan yang amat dirindukannya hingga hampir gila rasanya. Belum lagi kelembutan kulit yang teraba telapak tanpa penghalang ditambah godaan yang menggesek di bawah sana, lengkap sudah arena uji nyalinya.


"Tadi sore aku tanya sama dokter." Anggi meneguk saliva menjeda kalimat.


"Dok-dokter bilang, dedeknya sudah aman dan boleh kalau papanya mau berkunjung," cicit Anggi tersipu. Ia tertunduk, pipinya merona merah. Antara malu berpadu keinginan terdalam berselimut tuntutan yang sulit dikendalikan.


Mengulum senyum. Juna menaikkan alis juga menelengkan kepala ingin melihat wajah Anggi yang menunduk.


"Yang benar?" tukasnya dengan binar di mata yang setiap harinya semakin memuja pada wanita berparas jelita itu. Kilat tajam yang dulu lebih sering mendominasi, sekarang lebih sering dihiasi dengan tatapan hangat.


Anggi mengangguk lugu. Menggigit bibir berusaha membuang kegugupan juga rasa malu yang menghebat. Ia mengangkat wajah, lalu mengikis jarak. Meski degup jantungnya menabuh seolah melompat-lompat, Anggi memberanikan diri mengutarakan apa yang sedang menggelitik dalam dada, makin menguat dengan adanya peranan hormon kehamilan ikut merecoki.

__ADS_1


"Aku, aku kangen kamu, Mas. Sentuh aku," pintanya dengan suara pelan, laksana embusan angin lalu.


Kata-kata Anggi sukses membuat manik Juna berkabut. Terdesak desir yang menjalar hebat dalam nadi.


"Kamu pasti tahu 'kan? Kalau aku lebih ingin menyentuhmu," desis Juna dengan napas jantan memburu tak beraturan. Kening mereka saling menempel kini.


Anggi meraih sebelah tangan Juna. Membawanya dan meletakkanya ke perutnya yang mulai menyembul. "Dedek juga kangen Papa, bukan cuma Mamanya."


Juna menunduk. Membelai lembut perut Anggi dengan sentuhan seringan bulu juga mengecupinya dengan rasa sayang membuncah.


"Jadi, benar-benar sudah boleh?" Juna menengadah dan bertanya. Ingin memastikan keraguan yang masih meronta, takut salah mendengar. Kendati raganya kian menuntut, sudah tak sanggup menahan lagi.


Anggi menangkup kedua sisi rahang tegas maskulin suaminya yang ditumbuhi jambang halus. Juna yang terdengar amat mencemaskannya juga si buah hati, membuat asanya melambung tinggi merasa berarti.


"Oh ... Anggita," geram Juna berat didera hasrat saat pagutan terlepas.


Juna meraih tengkuk Anggi lembut. Menahannya dan mengambil alih memagut mesra. Mencerup kemanisan dan kelembutan si merah delima.


Tak menunggu lagi. Juna membawa Anggi terayun dalam gendongan tanpa melepas pagutan yang bertaut. Tetap hati-hati, karena kini wanitanya ini tengah mengandung buah hatinya.

__ADS_1


Ya, wanitanya. Di sanubari Juna, kini telah bertahta ratu yang sesungguhnya. Menyingkirkan semu dari pengharapan yang tak tergenggam. Kalbunya yang usang, tersapu rasa membuncah yang bersemi indah dari hari ke hari. Bersama panji-panji berkibar yang kini hanya bertuliskan satu nama yang telah berhasil menawan jiwa raganya, Anggita Jelita.


Merebahkan Anggi perlahan, Juna menyusul mengungkung di atasnya. Mengangsurkan punggung tangan di pipi halus itu yang disambut Anggi dengan mata memejam. Menikmati juga meresapi setiap tetesan debaran rasa yang Juna limpahkan untuknya.


Kehalusan kulit Anggi memercik bak aliran listrik, menghasilkan tegangan tinggi yang berhasil membuat Juna kian bergelora. Dia makin menunduk, mendaratkan kecupan lembut di seluruh wajah cantik yang memasrahkan diri dibelai sayang.


Mencurahkan segala cinta yang membuncah dalam dada, Juna menyentuh Anggi penuh penghargaan dalam setiap jengkalnya. Tak ada yang luput seinci pun dari kecupan, menghujaninya dengan sayang yang melimpah ruah.


Anggi tak tinggal diam. Balas memberi, sama-sama mendamba. Gema irama cinta mengalun merdu. Untaian desah dua insan indah mengudara.


Di luasnya peraduan. Dua sejoli itu saling memeluk bertaut raga. Berpadu dua hati yang telah tertambat dalam rasa yang sama yaitu cinta, membuat nirwana yang didaki kini, terasa lebih indah berkali-kali lipat dari yang sebelumnya.


"Mas Juna," desah Anggi feminin.


Kepala Anggi mendongak kala prianya mempersembahkan puncak terindah surga dunia hanya untuknya. Disusul Juna yang juga tak lama kemudian mengerang maskulin. Bergetar dahsyat, tumpah ruah meraih hal yang sama. Berpesta pora dalam gelegak gelora.


Masih dengan napas berkejaran setelah pendakian usai, Juna merengkuh Anggi agar punggung lembab istrinya itu merapat ke dada bidangnya. Meraih selimut guna menutup raga urian mereka berdua, lalu mengecup belakang telinga Anggi dan berbisik mesra.


"I love you, Mama baby."

__ADS_1


Bersambung


Pada pakai pelampung kan eh 😳?


__ADS_2