
Istri Arjuna 54b
Bunyi desing dari pengering rambut memenuhi penjuru kamar di malam senyap. Juna duduk di depan cermin. Di belakangnya, berdiri si wanita cantik yang perutnya mulai terlihat menyembul dari balik gaun tidur warna marun yang dipakainya.
Hairdryer digulirkan. Bersama terpaan hawa hangat merebak, jemari lentik tanpa cat kuku itu menyibak lincah belantara lebat rambut Juna. Melakukannya berulang hingga tak ada lagi helai basah tersisa.
"Selesai."
Anggi menaruh pengering rambut yang sudah dimatikan. Kembali menyugar rambut Juna memastikan kering sempurna.
Juna meraih tangan Anggi yang sedang membelai rambutnya, membawanya untuk dikecup.
"Thank you, Mama baby," ucapnya sembari mengulas senyum. Mempertemukan pandangan melalui cermin.
"Sama-sama, Papa." Anggi balas tersenyum manis. Memeluk Juna dari belakang. Menumpukan dagu di bahu si pria yang kini mengelusi lengannya.
"Sorry. Akhir-akhir pekerjaanku cukup menyita waktu. Kamu jadi harus menungguku sampai selarut ini," desah Juna sambil membuang napas panjang.
"Jangan minta maaf. Aku ngerti, kok. Sebagai seorang pimpinan, sudah pasti banyak tanggungjawab yang harus dipikul," sahut Anggi penuh pengertian bersama kecup sayang mendarat di pipi suaminya itu.
Juna mengurai lengan yang memeluknya. Memutar duduknya dan menghela Anggi lembut ke atas pangkuan. Melingkarkan kedua lengan kekarnya memeluk. Melingkupi tubuh hangat dan harum favoritnya.
"Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan? Ada apa, hmm?" tanyanya. Netranya bergulir penuh puja, menyusuri wajah cantik Anggi yang kian memikat dalam temaram.
"Aku ... aku mau minta izin," cicit Anggi hati-hati. Bola mata sendunya membalas tatapan Juna lekat.
__ADS_1
Juna memicing. "Izin buat apa?"
"Hari Sabtu besok, Freya akan bertunangan. Bolehkah aku datang?" pintanya penuh harap.
"Besok?"
Kepala Anggi mengangguk, lalu memasang raut memelas. "Iya, besok. Sebetulnya aku terlanjur berjanji untuk datang pada Freya sebelum bertanya sama Mas. Baru sempat membahasnya sekarang karena aku takut ganggu pekerjaan Mas, Maaf."
Raut bimbang terlukis di wajah tampan si pria yang tampak sedang berpikir itu.
"Tapi, besok aku sudah punya janji pertemuan penting dengan Presdir Rayan Enterprise juga pimpinan beberapa perusahaan lain yang ikut terlibat urusan ekspor. Karena waktu pengiriman dimajukan, jadinya pekerjaanku tak kunjung surut walaupun di akhir pekan," keluhnya.
"Aku bisa berangkat sendiri kok. Jangan cemas. Mas bisa tetap bekerja dan aku tetap bisa menepati janji. Sekarang ini kondisiku sudah sangat baik. Itu yang dikatakan dokter tadi sore." Anggi memberi usulan.
"Aku tak tenang membiarkanmu pergi tanpa kuantar," sahutnya resah sembari mengeratkan pelukan.
"Kalau aku pergi sama sopir dengan membawa serta Bik Tiyas juga Lina, gimana? Aku betulan sudah sehat, Mas. Terus, aku juga enggak enak kalau sampai ingkar janji. Besok hari penting sahabatku. Please, boleh ya?" bujuknya, memohon sedikit memaksa.
Semenjak pulang dari rumah sakit. Komunikasi mereka semakin lancar dari hari ke hari. Anggi yang awalnya tak berani banyak bercakap-cakap dengan nada juga bahasa santai pada Juna, mulai membiasakan diri mengubahnya sejak hari pernyataan cinta dua hati.
Juna mengajukan protes. Meminta Anggi berbicara padanya dengan bahasa yang lebih akrab. Bukan seperti bawahan yang sedang memberi laporan pada atasannya. Begitu pula sebaliknya.
"Ayolah, Mas. Boleh ya." Anggi kembali memohon lantaran suaminya itu terus saja menatapnya penuh kekhawatiran.
"Arghhhh! Aku tiba-tiba benci pekerjaanku yang begitu susah diganggu gugat. Kenapa harus besok? Kenapa bukan hari Minggu saja?" Juna berdecak frustrasi.
__ADS_1
"Ish. Mana kutahu. Yang punya acara kan keluarga Freya. Kondisiku sudah betulan baik lho, Mas. Kalau enggak percaya, Mas baca sendiri hasil laporan pemeriksaanku tadi sore. Tuh amplopnya."
Demi meyakinkan, Anggi mengarahkan dagu pada sebuah amplop di atas meja rias yang tak jauh dari tempat mereka duduk, masih terjangkau tangan.
Dengan cepat, Juna mengambil amplop tersebut dan membacanya saksama.
"Nah, sudah percaya belum?" cicit Anggi.
"Ini, asli kan ?" Juna memegang selembar kertas yang baru selesai dibacanya sementara iris matanya menelisik raut wajah Anggi.
"Ya ampun, tentu saja Asli," imbuh Anggi jengah juga gemas sendiri. "Mau bukti lain?" ujarnya.
Anggi turun dari pangkuan Juna. Berdiri tak jauh dari tempat suaminya duduk. Membasahi bibir dalam upaya mengenyahkan kegugupan. Juga membuang napas panjang setengah ditiupnya untuk mengumpulkan keberanian.
"Bukti lain? Memangnya masih ada hasil pemeriksaan lain?" Juna mengernyit tak mengerti tanpa mengalihkan pandangan.
Tanpa aba-aba, Anggi menurunkan seutas tali gaun tidurnya perlahan, hingga akhirnya gaun tersebut merosot, luruh ke lantai. Raga mulusnya terpampang indah, hanya menyisakan satu stel kain tipis berenda yang menutupi bagian paling krusialnya.
Juna membelalak. Jakunnya naik turun menelan ludah. "Sa-sayang. Apa yang ka-kamu lakukan?" Juna tergagap karena terkejut.
Anggi melangkah mendekat. Kembali mendudukkan diri di pangkuan si pria yang menatapnya penuh tanya. Menggigit bibir sebelum kemudian berbisik mesra.
"Supaya lebih yakin. Mas harus periksa sendiri," desis Anggi menggoda ke telinganya. Disusul sebuah kecupan sensual berlabuh di bibirnya yang sukses membuat hasrat Juna berkobar seketika.
TBC
__ADS_1