Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 42a


__ADS_3

Istri Arjuna bab 42a


Di saat para pria bercengkerama di taman, Anggi dan ibu mertuanya memilih bersantai di ruang keluarga sambil menonton tayangan acara stand up komedi di televisi.


“Udah, Mi. Aku kenyang.”


Anggi membekap mulutnya sendiri saat Marina kembali menyodorkan potongan buah. Selepas makan malam bersama, Marina terus menyuapinya berbagai macam buah-buahan segar.


“Mami perhatikan porsi makan malammu sedikit, sedangkan ibu hamil seharusnya makan lebih banyak guna memenuhi nutrisi. Ingat, makanan yang kamu telan sekarang terbagi dua gizinya. Mami ingin cucu Mami sehat begitu pun dengan kamu. Ayo aaa …..”


Pantang menyerah, Marina kembali membujuk. Menusuk potongan buah anggur menggunakan garpu dan mendekatkannya ke mulut Anggi penuh semangat, sedangkan menantunya itu menggelengkan kepala kuat-kuat. Sungguh, Anggi menolak karena merasa lambungnya hampir meledak.


“Mami, jangan dipaksa,” seru Juna yang muncul di ruang tengah disusul Surya di belakangnya. Ikut bergabung duduk di sofa empuk melingkar. Juna mendaratkan bokong di samping istrinya. Melahap potongan buah anggur di garpu yang disodorkan Marina untuk Anggi.


“Hih, itu untuk istrimu!” gerutu wanita paruh baya itu kesal.

__ADS_1


“Tapi Anggi sudah kekenyangan, Mi. Lihat saja, ekspresi istriku terlihat mual. Nanti makanan yang sudah tertelan malah dimuntahkan kembali.” Juna melayangkan protes sambil mengusap-usap lembut punggung Anggi. Si cantik bermata sendu itu merasa rikuh. Perlakuan Juna mengusap-usap punggungnya di depan sang mertua membuatnya sedikit malu.


“Hey, manisnya. Mami tak menyangka, kamu yang garang jadi manis begini. Apakah ini yang disebut sindrom calon ayah?” Marina terkekeh menggoda putranya. Juna memutar bola matanya jengah, maminya memang sangat suka sekali iseng menggodanya sejak dulu.


“Kenapa kamu tidak lebih cepat memberitahu Mami, Juna? Ini tidak adil.” Marina kembali membahas perihal kabar kehamilan Anggi. Masih merasa jengkel pada putranya karena tidak mengabari lebih awal dan malah tahu berita tersebut dari besannya.


“Maaf, Mi. Sebetulnya aku sudah berencana memberitahu. Kehamilan Anggi bersamaan dengan urusan jadwal lawatanku mendampingi menteri perdagangan. Jadinya aku belum sempat. Tapi sekarang Mami sudah tahu 'kan? Bukankah itu sama saja?” sahut Juna santai.


“Tapi tetap saja berbeda! Dasar tidak peka. Awas kalau kamu juga tidak peka pada menantu Mami. Anggi sekarang sedang hamil, sebagai suami kamu harus lebih perhatian pada istrimu. Kalau Juna bertingkah macam-macam, kamu jangan segan untuk melapor pada Mami, Anggi,” tukas Marina sambil mengusap lengan Anggi yang sedang berusaha tersenyum walaupun kikuk.


*****


Anggi yang baru selesai bersih-bersih, celingukan karena tak melihat keberadaan Juna di ranjang, padahal yakin melihat suaminya itu mengotak-atik ipad sebelum ia masuk ke kamar mandi.


Terdengar suara-suara dari ruang ganti. Kaki jenjangnya tertarik melangkah ke sana dan berhenti saat melihat Juna sedang sibuk memilih beberapa pakaian. Di meja besar dekat lemari terdapat dua buah koper yang terbuka berisi baju-baju yang dilipat sembarangan, belum lagi sepatu dan berbagi perintilan lain seperti dasi juga kaus kaki.

__ADS_1


Anggi bersandar miring di dinding, kedua tangannya terlipat di depan sementara matanya mengawasi suaminya yang sedang berbenah, memperhatikan Juna yang menjejalkan kemeja juga celana hingga kusut ke dalam koper. Semula Anggi berniat memilih tak peduli dan hendak kembali ke ruang peraduan, tetapi lama-kelamaan ia gemas sendiri juga merasa terganggu dengan ulah Juna yang serampangan.


“Minggir, aku yang rapikan,” ujar Anggi yang menghampiri. Mengambil alih kemeja yang sedang diturunkan Juna dari gantungan baju.


“Biar aku saja. Kamu tidurlah.” Juna hendak mengambil kembali kemeja yang baru saja direbut Anggi.


“Kalau sembarangan melipatnya, nanti bajunya kusut dan koper tidak bisa memuat banyak. Jadi isinya tidak maksimal!" sungut Anggi geram sambil menunjuk isi koper yang berantakkan. Ia mulai mengeluarkan isi koper untuk ditata ulang.


Rasa hangat menggelitik hati. Juna senyam-senyum sendiri saat Anggi mengomel bersungut-sungut yang lebih cocok disebut perhatian, setelah beberapa waktu pasca insiden luapan amarah tempo hari Anggi sering bersikap cuek padanya. Terdorong rasa asing yang menari senang dalam dada, Juna memeluk Anggi dari belakang yang disambut sikutan kencang.


“Ish lepasin, Mas. aku susah gerak!” Anggi berseru sambil menggeliat meronta.


Bukannya mengurai pelukan, Juna malah mengeratkan lingkaran kedua lengannya sambil terkekeh. “Makasih, istriku,” ucapnya disusul kecupan di pipi juga leher Anggi bertubi-tubi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2