
Istri Arjuna Bonchap 1
Jepang sedang diselimuti salju tebal begitu sepasang suami istri menginjakkan kaki di sana. Berjalan bergandengan tangan mesra mencuri pandangan beberapa pasang mata tak ingin berpaling. Si pria begitu tampan dengan hidung tinggi dan si wanita memiliki body proporsional idaman para kaum hawa.
Di belakang mereka pemandangan amat kontras. Seorang pemuda juga seorang gadis muda menyeret koper-koper super besar. Sedangkan dua orang di depannya melenggang bak model di arena catwalk.
“Mas, apa iya Pandu dan Sekar sanggup membawa semua koper-koper kita yang ukurannya sangat besar?” tanya Anggi ragu sembari mengayunkan kaki menyamakan langkah.
Ia membuka kacamata hitamnya dan menoleh pada Arjuna yang semakin tampan dan matang seiring bertambahnya usia. Anggi juga melirik ke belakangnya di mana Pandu, si asisten setia dan seorang staf yang merupakan wakil asisten sedang menyeret empat buah koper di belakang mereka.
“Itu sudah tugas mereka sebagai personel yang ikut dalam perjalanan bisnis Royal Textile. Biarkan saja, agar mereka tidak menjadi manusia manja di masa depan, supaya paham akan arti usaha keras dan perjuangan. Lagi pula, momen ini sangat berguna untuk menempa mereka supaya memiliki mental baja,” sahut Juna tanpa menghentikan langkah.
__ADS_1
“Tapi, Sekar itu perempuan, Mas. Apa tidak terlalu berlebihan?” ujar Anggi, merasa sedikit tak enak melihat anak gadis muda fresh graduate bertubuh mungil menyeret koper ukuran jumbo.
“Tidak berlebihan sama sekali. Kamu mungkin belum tahu, ketika wawancara kerja dua bulan lalu, dia menunjukkan kebolehannya sebagai bodyguard juga meski tubuhnya mungil. Aku yakin, hanya menyeret koper sama sekali bukan masalah besar baginya," jawab Juna santai yang kemudian tersenyum lebar. Mengecup mesra puncak kepala Anggi dan mengeratkan rangkulannya di pinggang ramping sang istri.
Juna pergi ke Jepang dalam rangka urusan pekerjaan. Juna bisa leluasa membawa Anggi ikut serta berhubung si bayi gemas Brama sudah lepas meminum ASI di usianya yang sekarang memasuki tahun ke tiga. Biasanya Juna sering pergi hanya bersama Pandu saja meski ia ingin mengajak Anggi bersamanya di setiap perjalanan bisnis. Akan tetapi, si buah hati merupakan tipe yang terus menempel pada ibunya ketika masih dalam fase menyusui. Sebetulnya bisa saja Brama dibawa serta, tetapi urusan bisnis tidak selengang waktu melancong bebas seperti halnya liburan pertama Brama ke Selandia Baru tahun lalu. Khawatir Brama jatuh sakit jika ikut dalam perjalanan bisnis yang sudah pasti tak sesantai pergi berlibur.
“Akhirnya sampai.”
Juna mendorong pintu hotel yang sudah dipesannya, membawa Anggi masuk enggan melepaskan rangkulan. Sekar dan Pandu ikut masuk menaruh koper-koper milik sang bos. Tampak terengah sebab kegiatan mereka cukup menguras energi.
“Baik Pak,” keduanya menjawab bersamaan dan serempak undur diri dari sana. Membuang napas lega bisa terbebas sebentar saja dari kekang otoriter atasan mereka.
__ADS_1
“Mas, jangan galak-galak pada mereka. Bagaimana kalau Pandu dan Sekar tiba-tiba mengidap penyakit jantung di usia muda?” protes Anggi dengan bibir mengerucut, sebab ingin suaminya ini menurunkan intensitas otoriternya sedikit saja ketika berada di luar kantor.
“Aku sangat yakin mereka akan baik-baik saja. Sudah, jangan hiraukan mereka berdua. Lebih baik sekarang, fokus saja padaku, Istriku,” bisik Juna sensual ke telinga Anggi. Mengangkat sebelah alis penuh arti dan membawa Anggi ke dalam pelukan. Menyurukkan wajah di lekuk leher Anggi dan menghidu aromanya dalam-dalam.
“Mmmh, kamu wangi dan hangat. Membuatku menegang begitu mudah,” desahnya serak yang disambut hadiah sebuah pukulan kecil di bahu Juna.
“Ish dasar! Punya ular kok gampang baperan!” gerutunya. Anggi mencoba membebaskan diri dari pelukan Juna saat bagian titik didih suaminya yang menempel dekat terasa mengeras di balik resleting celana.
“Bagaimana kalau kita melakukan ritual selamat datang di Jepang dengan sajian nikmat yang sangat cocok disantap di cuaca dingin begini?”
“Enggak! Aku ma_”
__ADS_1
Belum juga kalimat Anggi rampung, Juna sudah membungkam bibir merahnya. Mencerup piawai memabukkan yang sudah dipastikan sulit Anggi tolak, tergerus arus dahsyat Arjuna Syailendra. Juna menggiring Anggi menuju tempat tidur tanpa melepaskan pertautan bibir mereka. Berbagi peluh, berbagi lenguh penuh cinta. Saling menghangatkan di dinginnya udara bersalju yang diakhiri saling berpelukan kemudian.
Selamat bermalam Minggu readers 😘