
Halo para pembacaku tersayang. Jangan lupa selalu dukung novel 'Istri Arjuna' dengan vote kupon, hadiah dan juga likenya ya. Mari kita dukung cerita kesayangan kita ini agar semakin bersinar💜.
Jangan lupa juga follow instagramku @Senjahari2412 untuk mengetahui info-info tentang seputar cerita yang kutulis.
Periode giveaway berlaku sampai novel ini tamat. Yang nangkring di tiga besar dukungan, akan mendapatkan kenang-kenangan dari author begitu novel Istri Arjuna tamat 🥰. Happy reading & thank you.
🥭🥭🥭🥭🥭
Istri Arjuna bab 43b
Pesawat mendarat di Schiphol Internasional Airport Amsterdam sekitar pukul tujuh malam. Empat belas jam mengudara tanpa transit, merupakan durasi yang cukup lama dalam sebuah penerbangan dan selama itu pula Pandu harus menjadi bulan-bulanan sang bos yang tak hentinya menggerutu, mengeluhkan ini itu hingga telinganya nyaris panas.
Beruntung si pemuda berkacamata itu memiliki mental baja. Amarah Juna sudah menjadi santapan yang tak asing lagi bagi Pandu, kendati hari ini merupakan pengecualian karena sang bos marah-marah tak henti tanpa sebab yang jelas.
Sesampainya di hotel yang telah disediakan pihak penyelenggara, Juna memilih langsung naik ke kamarnya tanpa melirik kanan kiri demi meredam iri yang tengah menggelegak dalam nadi. Di Belanda sudah memasuki musim dingin, tetapi bagi Juna udara di sekitarnya terasa begitu panas tak nyaman. Terutama saat tak sengaja melirik para peserta lain yang saling bergandengan mesra menuju kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
"Atur suhu kamarku supaya lebih dingin," titah Juna begitu memasuki kamar suite room di hotel berbintang lima tersebut.
Pandu termenung. Melihat angka di alat pengatur suhu yang sudah disetel oleh pihak pengurus hotel dalam suhu pas, begitu hangat dan nyaman disesuaikan dengan musim yang sedang berlangsung.
"Permisi, Pak. Apa perintahnya tidak salah? Cuaca di luar sangat dingin dan Anda ingin suhu kamar dibuat lebih dingin? Bagaimana kalau Anda malah masuk angin?" tanya Pandu.
Juna berdecak kesal. "Atur saja sesuai perintahku!" perintahnya geram.
Pandu mengatur suhu seperti permintaan Juna kendati sambil meringis ngeri sendiri. Bisa-bisa esok hari mereka terserang flu jika tidur dalam lingkungan suhu sedingin ini.
Menggaruk-garuk kepalanya tak gatal, Pandu mengerjap tak mengerti. “Maaf, maksudnya bagaimana ya, Pak? Kamar saya kan di sini juga, satu kamar dengan Anda. Sesuai keterangan dari panitia,” terang Pandu polos apa adanya.
Mata tajam Juna menghunus murka. “Enak saja! Aku tidak sudi sekamar denganmu! Nanti orang-orang mengira aku suka bermain pedang. Sewa kamarmu sendiri!” bentaknya galak membuat Pandu berjengit kaget.
“Ba-baiklah, Pak. Tapi, anu. Uang sewanya bagaimana?” tanya Pandu terus terang. Ia tidak mau menyewa kamar yang harganya hampir empat ratus Euro per malam menggunakan uang pribadinya di saat sedang melakukan perjalanan terkait pekerjaan.
__ADS_1
Juna memijat tengkuknya sejenak. Semua ini memang bukan salah Pandu maupun panitia. Pihak penyelenggara menyiapkan kamar suite room untuknya jauh-jauh hari karena semula berniat berangkat bersama sang istri.
Juna mengambil salah satu kartu yang berjejer di dalam dompet mahalnya dan memberikannya pada Pandu. “Pakai ini dan segeralah menjauh dariku!” Kamu hanya boleh mendekat di saat aku memerintahkan. Jika aku tidak meminta, jaga jarak denganku minimal sejauh dua meter, paham?”
Pandu menerima kartu sambil menahan rona gembira yang ingin merebak di wajahnya. Bisa terbebas dari bosnya yang hari ini menjadi labil barang sejenak saja sudah merupakan anugerah.
“Paham, Pak. Selamat beristirahat.” Pandu undur diri dengan tetap menjaga kesopanan. Menutupkan pintu dan melempar tatapan sebal pada si pintu yang sudah tertutup.
“Dasar bos darting! Yang sedang hamil itu istrinya, tapi malah dia yang mood swing tak karuan!” gerutu Pandu sebelum melangkahkan kaki menuju lift, hendak ke lantai dasar menuju lobi untuk memesan kamar lain.
Saat sudah masuk ke dalam lift, Pandu berjingkrak senang bisa terbebas sebentar saja dari nasibnya yang hari ini menjadi objek kekesalan Juna. Bersenandung dan bersiul senang dalam lift kemudian terkikik geli, menerka-nerka akan penyebab mood Juna yang hari ini amat buruk.
“Mungkinkah si bos iri karena yang lain menggandeng pasangan? Apalagi di sini musim dingin, pasti dia tersiksa,” gumam Pandu yang kemudian tergelak sendiri di dalam lift, membayangkan walah Arjuna yang mungkin sekarang sedang uring-uringan mirip pria jojoba kesepian.
"Kayaknya si bos memang sudah terkontaminasi virus bucin. Jadinya tak tahan berjauhan dengan istrinya! Dasar bucin keras kepala!" cicitnya lagi, disusul ocehan lain mengatai Juna sebebas-bebasnya sambil terbahak puas.
__ADS_1
TBC