
Istri Arjuna bab 27a
“Mbakyu, apa sebaiknya kita kasih tahu nyonya besar di Bali? Aku takut Bu anggi kenapa-napa. Mana lagi hamil,” ucap Lina khawatir. Lina meremas celemeknya sendiri saat melihat sang nyonya yang menjerit-jerit dibawa paksa tuannya ke lantai dua.
“Bukan hak kita melaporkan yang terjadi di rumah ini kepada nyonya besar. Aku juga sama cemasnya denganmu. Tapi Pak Arjuna sudah pernah mengultimatum semua pekerja di rumah ini untuk tidak melanggar privasinya jika masih ingin bekerja di sini. Dilarang bercerita keluar tentang apa pun yang terjadi di dalam rumah.”
Bik Tiyas menjawab setengah berbisik pada Lina. Keluar dari persembunyian begitu mendengar pintu kamar utama di lantai dua dibanting kencang hingga rambat getarnya terasa sampai ke bawah.
“Tapi, bagaimana kalau terjadi sesuatu di atas sana. Aku tak tenang Mbakyu.” Lina mengusap-usap dadanya sembari menengadah melihat ke lantai dua.
“Dulu-dulu Pak Juna tidak separah ini walaupun sedang marah. Memiliki sisi penyayang juga terhadap anak kecil. Efek gagal bertunangan setahun yang lalu, dirinya berubah menjadi temperamental. Untuk saat ini kita hanya bisa berdo’a dan memperhatikan dengan saksama. Tuan kita menikah dengan Bu Anggi memang melalui jalan perjodohan yang mungkin tidak ada cinta di dalamnya, berbeda dengan calon tunangannya dulu yang merupakan wanita dambaannya. Tapi aku masih menaruh kepercayaan terhadap tuan kita, Lina. Pak Arjuna tidak mungkin berbuat tak berperasaan pada wanita hamil. Apalagi janin yang dikandung Bu Anggi adalah darah dagingnya. Cucu yang dinanti-nanti keluarga besar Syailendra,” jelas Bik Tiyas yang sama-sama melihat ke atas.
__ADS_1
“Semoga nyonya kita baik-baik saja ya, Mbakyu,” jawab Lina yang tak henti melirik lantai dua.
“Semoga, Lina. Jika memang situasi di rumah ini semakin genting. Aku akan menghubungi Pak Pandu terlebih dahulu. Ayo, kita lanjutkan pekerjaan kita.” Bik Tiyas mengajak Lina kembali pada tugas mereka dengan hati tak menentu. Merapalkan permohonan terbaik untuk majikan mereka terutama sang nyonya.
“Turunkan aku! Lepaskan aku brengsek!”
Sejak tadi Anggi mengumpat dan memukuli punggung Juna tanpa henti. Ini adalah pertama kalinya Anggi berani mengamuk, sepertinya si jabang bayi di dalam sana memberikan dorongan pada ibu yang mengandungnya untuk berani menyuarakan rasa sakit yang menyesaki relung jiwa.
Anggi tak berhenti mendaratkan kepalan tinjunya di mana-mana begitu Juna sudah menurunkannya. Masih dalam raung tangis yang tak terbendung. Berbagai macam emosi yang selama ini dirantainya kuat-kuat, memberontak tak terkendali. Wajahnya sudah basah seluruhnya, bahkan rambut panjangnya acak-acakan sekarang.
Juna membiarkannya. Membiarkan kepalan tangan rapuh itu memukulinya. Menatap Anggi yang tampak menyedihkan dalam diam. Wanita yang telah menjadi istrinya itu terlihat tersiksa lahir batin dan baru kali ini Anggi berani menunjukkannya tepat di hadapannya.
__ADS_1
“Kamu brengsek, bajingan! Kamu jahat, Mas. Kamu jahat! Aku memang bukanlah manusia tanpa dosa. Menerima menikah denganmu demi uang itu benar adanya! Tapi haruskah kamu menyiksa raga terlebih jiwaku? Jika kamu tidak ingin menikah denganku meskipun aku sangat membutuhkan ikatan ini. Kenapa kamu tidak menolaknya saja sejak awal!”
Anggi terus meracau, tangisnya kian melengking. Juna meraup Anggi ke dalam dekapan. Mengeratkan pelukan meski Anggi menolak, meronta ingin melepaskan diri.
“Kamu jahat, Mas! Kamu jahat!” racaunya lagi dan lagi bersama tinju yang terus dilancarkan. Tangisan pilu Anggi menggema di seluruh penjuru kamar mengisi penuh kesunyian. Juna merengkuhnya erat tanpa kata.
Lama kelamaan, tinju Anggi berhenti dan rontaannya mengendur. Menyisakan tangisan yang tumpah ruah membasahi jas hingga tembus ke dalam kemeja Juna. Lidah si pria tinggi tegap itu kaku juga gamang, kebingungan harus mengatakan apa. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar, entah itu kata maaf maupun penghiburan. Yang jelas, setelah mengetahui Anggi sedang mengandung anaknya, sejumput rasa tak biasa mengelusi lembut pintu kalbunya yang sekeras batu.
Beberapa saat berlalu. Tangis Anggi kini tersisa isakan disertai sedu sedan tanpa raungan. Juna menyelipkan lengan di belakang lutut dan di pinggang Anggi. Menggendongnya tanpa kekasaran dan merebahkannya pelan ke atas peraduan.
Juna ikut naik, lalu membawa Anggi ke dalam dekapan meski kembali terjadi penolakan. Juna tak peduli, diusapnya punggung rapuh yang berguncang itu pelan teratur. Hingga setengah jam kemudian, Anggi yang kelelahan menangis mulai memejamkan mata dan berangsur terlelap.
__ADS_1
TBC