
Istri Arjuna Bab 28a
Anggi tertegun keheranan. Begitu selesai berganti pakaian di ruang ganti dan kembali ke kamar, ia melihat Juna duduk di tepian ranjang. Tersenyum tampan padanya sembari melambaikan tangan.
“Sini.” Juna mengulurkan tangan. Membuat Anggi terheran-heran. “Ayo sini,” panggilnya lagi.
Ragu-ragu Anggi mendekat menerima uluran tangan Juna. Dengan lembut Juna menariknya mendekat, hingga perut Anggi sejajar dengan wajahnya. Kedua sudut bibirnya semakin tertarik ke atas, melebarkan senyumnya.
Anggi memicingkan mata. “Ada apa? Kenapa Mas senyum-senyum?” tanyanya kebingungan.
Sebelah tangan Juna merangkul dan sebelahnya lagi mengusap perut Anggi yang masih rata. “Jadi, sekarang di dalam sini ada anakku? Anak kita?” Juna menengadah, mempertemukan pandangan berlumur sayangnya dalam satu garis lurus, memaku tatapan ke bola mata indah Anggi yang berkilauan.
Ada rasa membuncah membanjiri kalbunya dalam sekejap. Mendengar Juna menyebut kata 'anak kita’ seraya mengelusi perutnya menciptakan gelombang bahagia yang membuat dadanya seolah berombak-ombak.
Anggi menganguk. Senyum lebar Juna menular padanya. “Hmm, ada anakmu di sana. Anak kita yang sedang berjuang untuk bertumbuh,” sahutnya.
Juna menyingkap baju atasan Anggi lebih naik hingga menampakkan kulit perut yang tak berpenghalang. Kecupan-kecupan manis bertubi-tubi Juna daratkan, menyalurkan rasa sukacita akan hadirnya si buah hati.
__ADS_1
Anggi tergelak kegelian sekaligus bahagia. Ruas-ruas jemari lentiknya menyugar belantara rambut lebat Juna sementara pria itu terus saja mengecupi perutnya. Juna kembali menengadah, merangkul Anggi semakin merapat dan tanpa aba-aba-menaikkan Anggi ke pangkuannya.
“Terima kasih, sudah memberiku hadiah indah ini. Aku bahagia.” Juna berujar mesra.
Anggi tertawa kecil. Rasanya seperti mimpi. Tak menyangka suaminya begitu antusias mengetahui kehamilannya. “Aku juga,” cicit Anggi yang semakin menunduk.
Mereka saling menyelami pandangan satu sama lain. Begitu dalam, begitu intim. Entah siapa yang memulai, bibir mereka kini sudah mendarat dalam sebuah kecupan. Awalnya hanya kecupan ringan, lalu berlanjut saling memagut mesra dalam deru napas terengah indah. Larut dalam sukacita yang membungkus bersama harumnya aroma cinta yang mulai berpendar di udara.
Namun, tiba-tiba saja semua suasana indah nan syhadu itu memudar. Suasana hangat berganti embusan angin yang dinginnya menusuk tulang. Sosok Juna yang memangkunya juga ikut memudar lalu menghilang, tak berjejak seumpama asap tertiup angin. Anggi merasa kehilangan. Meraba raganya sendiri dan tiba-tiba saja sosok anak kecil nan tampan yang sangat mirip dengan Juna menarik-narik bajunya.
Juna terusik dari tidurnya disebabkan suara tangisan. Mengucek mata, Juna melirik ke sebelahnya. Ternyata Anggi tengah meraung-raung dalam tidurnya. Menangis dengan alis berkerut dalam pertanda mimpi buruk menyambangi. Dengan cepat Juna meraupnya ke dalam pelukan. Menepuk lembut pipi Anggi mencoba membangunkan.
“Anggita, Anggita. Bangun.”
Anggi masih dalam tangisannya. Meracau dengan mata terpejam rapat. Mimpi yang dialaminya memukul jiwanya yang masih dipenuhi lebam di mana-mana. Menghasilkan sakit tak terperi membelenggu sukma. Segala sakit bercampur rasa bersalah berpadu bak benang kusut. Anggi masih berada di alam mimpinya, tengah dilanda rasa bersalah yang dalam pernah berniat menggugurkan kandungan dan kalimat bocah tampan yang memohon padanya mengoyak sisi seorang ibu dalam dirinya.
“Maafkan Mama, maafkan Mama,” racaunya lirih penuh kepiluan masih terbalut tangisan.
__ADS_1
“Anggita, Anggita. Bangun. Kamu bermimpi.” Juna kembali menepuk pelan pipi istrinya itu sembari mengelusi punggung Anggi yang berguncang karena tangisan.
Seketika Anggi tersentak. Napasnya memburu. Sudut matanya basah disertai keringat dingin berembun di dahi. Ternyata yang dialaminya beberapa saat lalu adalah mimpi.
Saat netranya terbuka sempurna, ia langsung disajikan sorot mata Juna yang menatapnya dengan kening berkerut. Tajam seperti biasa. Namun, kali ini ada kecemasan berbayang di sorot mata itu.
“Tenanglah, ada aku di sini. Apakah mimpimu begitu buruk?” Juna membelai rambut Anggi. Istrinya tampak kacau dan serapuh kertas.
“Aku ibu yang kejam. Aku ibu yang kejam," racaunya masih di bawah pengaruh mimpi. Hanya itu yang terucap serak dari lisannya diiringi buliran air mata.
“Ssuutt. Mimpi hanya bunga tidur. Tidurlah lagi, hmm.”
Juna mengusap wajah basah Anggi dan memeluknya dalam lingkupan raga kokohnya. Anggi masih terisak dengan mata yang kembali memejam. Juna menarik napas dalam sembari menatap wajah istrinya yang melukiskan luka.
Hatinya tergerak, terdorong keinginan yang entah dari mana datangnya, sebuah kecupan sayang mendarat di kening Anggi untuk pertama kalinya. Begitu lama menyalurkan rasa aman. Bukan kecupan terpacu gairah yang biasa Juna desakkan kala hasrat tanpa rasa menguasai nalar.
TBC
__ADS_1