
Halo semua pembacaku tersayang. Jangan lupa apresiasi melalui vote kupon dan hadiahnya juga, jangan lupa juga like dan komentarnya ya. Selamat membaca 🤗.
Istri Arjuna Bab 30b
Tepat pukul tujuh malam, Juna menyudahi berkutat dengan pekerjaan. Mematikan macbook dan menumpuk berkas yang berserak di atas meja. Memiringkan kepala ke kiri juga ke kanan guna mengusir pegal di pundak, meregangkan punggung sejenak sebelum beranjak ke ruang makan hendak bersantap malam.
“Lina, apa Anggi belum turun?” Juna bertanya setelah mendaratkan bokong di salah satu kursi makan.
“Anu, Pak. Saya baru saja mau bertanya. Apakah makan malam Bu Anggi mau diantar lagi ke atas lagi seperti sarapan dan makan siang tadi? Seharian ini Bu Anggi tidak terlihat turun.” Lina yang setiap jadwal makan malam bertugas menata hidangan di meja berucap sopan.
Juna terdiam mendengar penjelasan Lina. Menghela napas dan membuangnya kasar. Merasa ada yang kurang, seolah terdapat lubang besar yang teramat hampa dalam jiwanya.
Diliriknya kursi di sisi kanan di mana Anggi biasanya duduk saat menemaninya bersantap, baik itu saat sarapan maupun makan malam. Rasa lapar yang mendera menguap begitu saja, padahal lambungnya bergemuruh ribut menagih jatah. Imbas dari tidak ada yang menemaninya duduk di meja makan beberapa waktu terakhir, meskipun hidangan yang tersaji semuanya lezat menggugah selera.
Analogi tentang yang membawa rasa lezat bersantap bukanlah melulu mengenai mahal dan mewahnya makanan yang disajikan. Akan tetapi, dengan siapa kita memakannya ternyata benar adanya. Itulah yang sedang melanda Juna sekarang, semua menu di hadapannya tidak ada yang mampu menggerakkan tangannya untuk menyendok karena Anggi tidak turun dan duduk bersantap bersamanya.
__ADS_1
“Apa Anggi minta dimasakkan sesuatu?”
“Tidak, Pak. Sejak tadi siang, Bu Anggi hanya meminta jangan diganggu saja. Ingin beristirahat sepuasnya katanya.” Lina menjawab apa adanya.
“Siapkan hidangan untuk Anggi. aku yang akan membawanya ke atas,” titah Juna.
"I-iya, Pak. Tapi maaf, Bapak sendiri kenapa tidak makan?" Lina memberanikan bertanya saat melihat tuannya menelungkupkan kembali piring kosong di hadapannya.
"Aku sedang tidak berselera. Siapkan saja nampan untuk istriku sekarang juga."
Didorongnya perlahan pintu ruang peraduan dengan nampan di tangan sebelah kanan. Tampak di dalam sana, Anggi duduk menghadap cermin meja rias, sedang menyisir rambut panjangnya yang ujungnya sedikit kusut. Sepertinya baru selesai mandi.
Juna menaruh nampan berisi makan malam Anggi di ujung tempat tidur. Menghampiri dan mengambil alih sisir dari tangan Anggi.
Anggi sedikit terperanjat saat melihat pantulan di cermin. Paras cantiknya masih muram kala matanya bersirobok dengan netra Juna. Tidak ada sedikit pun rona senyum yang terlukis.
__ADS_1
“Aku bisa sendiri,” ucap anggi kering sembari bermaksud mengambil kembali sisir yang diambil Juna barusan.
Juna berkelit, menaikkan sebelah tangannya tinggi-tinggi.
“Diamlah, biarkan aku menyisir rambutmu.”
Juna memosisikan Anggi supaya kembali menghadap cermin, mengangsurkan sisir dengan lembut di setiap helaian surai indah istrinya itu. Tidak menerima bantahan maupun penolakan.
"Sudahlah, Mas. Kembalikan sisirnya. Aku bisa sendiri," pintanya tegas juga dingin sembari menyodorkan telapak tangan.
Tak ingin berkonfrontasi, Juna menyerahkan sisir ke tangan istrinya itu. Menekan kuat-kuat egonya yang kembali mengaum di dalam sana.
"Ya sudah. Setelah ini makanlah, mumpung hidangannya masih hangat," ucap Juna tanpa nada memerintah yang biasa terlontar kemudian berlalu ke kamar mandi.
Setelah pintu kamar mandi tertutup. Anggi menoleh dan menatap pintu itu dengan pandangan nanar. Ia lebih suka Juna yang datar dan mengintimidasi padanya ketimbang yang manis seperti yang baru saja terjadi. Jika terlalu manis, ia takut hati rapuhya yang telah dilukai sedemikian rupa tergoyahkan kembali kemudian dicampakkan seperti sebelumnya.
__ADS_1
TBC