
Istri Arjuna Bab 45a
Hari berganti hari. Juna dan Anggi saling berkirim pesan setiap hari layaknya pasangan suami istri akur pada umumnya, sedangkan untuk panggilan telepon hanya sesekali dilakukan, mengingat kegiatan Juna yang padat lumayan sulit mencari celah lengang untuk bertukar kata leluasa.
Perbedaan waktu yang cukup mencolok juga menjadi salah satu kendala. Waktu santai Juna berada di kisaran jam-jam menjelang tidur, sementara di Jakarta jam tersebut bertepatan dengan waktu dini hari. Sehingga untuk panggilan telepon jarang dilakukan. Tak ingin menganggu istirahat wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
Kegundahan Juna sedikit terlupakan dengan padatnya jadwal kunjungan. Juna selaku direktur utama Royal Textile, bersama Zayn Alvaro Rayan direktur utama Rayan Corporation, beberapa kali ditunjuk sebagai pembicara dalam memperkenalkan komoditi kain unggulan produksi Indonesia sehingga fokusnya teralihkan dengan kesibukan.
Meskipun begitu, setiap kali tiba waktunya naik peraduan di bawah naungan langit malam, rasa menggangu di dadanya selalu menjadi-jadi. Seumpama ada ruang besar nan hampa yang menuntut untuk di isi.
Seperti saat ini. Juna membolak-balikkan badannya berulang kali. Gemerisik bunyi serat kain seprai yang bergesekan dengan bajunya terdengar nyaring. Malam kian larut dan seperti biasa dia kesulitan menjemput kantuk.
__ADS_1
“Arggh. Sepertinya badanku perlu dipijat. Kenapa sejak tiba di daratan Eropa rasanya seluruh tubuhku kaku juga pegal? Apa mungkin efek dari iklim dan cuaca yang berbeda dengan tanah air?”
Juna bergumam kesal sambil mencari-cari posisi berbaring yang sekiranya nyaman. Ini sudah hari ke enam dan beginilah setiap malam dilaluinya. Gundah gulana.
Juna menggapai-gapaikan tangannya mencari ponsel yang ditaruhnya dekat bantal. Dibukanya aplikasi berkirim pesan. Dia menimbang untuk mengirimkan pesan teks, tetapi di Jakarta saat ini dini hari dan pasti Anggi sedang tidur pulas.
Beberapa kata diketik dan dihapusnya kembali berkali-kali. Juna akhirnya menghapus teks tersebut bersama niat yang diurungkan. Apalagi setelah membaca ulang satu kalimat pendek yang dirangkainya.
Demi mengusir kebosanan, Juna membuka profil Anggi di aplikasi chat tersebut. Anggi memasang foto profil ketika mengenakan baju pengantin di hari pernikahan. Auranya putih bersih memancar menyilaukan, begitu jelita dengan ukiran senyum murni tersungging membingkai wajah cantiknya.
Anggi kentara sangat berbahagia, bertolak belakang dengan kado yang dihadiahkannya kala malam pertama menjadi pengantin. Bukan hanya mengisap sari madu istrinya yang jelita dengan bukti darah kesucian yang mengalir menodai seprai, tetapi juga merenggut senyuman murni itu, digantikan dengan rona lara penuh luka yang kala itu tak dihiraukannya. Tak peduli selama hatinya senang.
__ADS_1
“HHhh, kenapa dadaku sesak begini? Apa mungkin akibat musim dingin yang sedang berlangsung membuatku tiba-tiba mengidap asma?”
Juna mendudukkan dirinya. Mengelusi dadanya sendiri yang terasa sakit mencekik. Mengilas balik ingatan atas sikapnya pada Anggi sejak awal pernikahan membuat sebah mendadak menghantam jiwa raga, menyempitkan aliran udara ke paru-parunya. Imbas dari rasa bersalah yang makin hari makin menujukkan eksistensinya. Sebelumnya tak pernah begini, nestapa kegagalan cinta pertamanya selalu merajai berada di urutan teratas, tetapi sepertinya sekarang tidak lagi. Di saat terpisah jarak, rasa ingin berdekatan kian menggila.
“Ada apa denganku?” desahnya sembari mengusap wajah.
Juna menarik dan membuang napas teratur guna meringankan nyeri di dada. Diusapnya layar ponsel yang sedang menampilkan foto istrinya.
Ya, istrinya. Bahkan sebentar lagi akan menjadi ibu dari anaknya. Juna bertanya-tanya pada kalbunya sendiri, sejak kapan ia mengakui Anggi sebagai istrinya dalam lubuk hati? Menganggap dan menjadikan Anggi sebatas pelampiasan juga objek balas budi sepertinya sudah memudar. Entah kapan rasa itu dimulai, Juna pun tak menyadarinya secara pasti.
“Apakah keresahan yang menyiksaku ini hanya karena kerinduanku ingin berdekatan dengan anakku? Atau juga karena aku merindukanmu, Anggita?” tanyanya pada udara yang mengisi kamar sembari menatap langit-langit.
__ADS_1
Bersambung.