
Istri Arjuna BAB 49a
Juna sampai di rumah sakit ketika Anggi masih ditangani di UGD. Juna nyaris hilang kewarasan saat mengemudikan mobil sepanjang perjalanan. Dia sudah tak peduli pada dirinya sendiri yang tampak kacau dari kepala hingga kaki ketika berlarian dari parkiran menuju area gawat darurat. Mengabaikan beberapa orang yang tertabrak olehnya dari arah berlawanan karena yang berlalu lalang di benaknya hanya Anggi dan bayinya.
Marina menghambur begitu melihat putranya muncul. Menangis tersedu di pelukan Juna. Sedangkan Maharani tampak pucat pasi di pelukan Barata. Tidak ada keangkuhan di wajah Maharani, dia juga tampak shock tak bisa diajak berbicara.
Dari keterangan Marina, Anggi mengeluh tak nyaman ketika acara makan malam dan ingin berjalan-jalan ke area luar restoran sebentar saat mencium beberapa aroma makanan yang malah merangsang mual. Begitu melintasi area makan outdoor, Anggi terjatuh entah apa penyebabnya, kepalanya ikut terantuk kursi lain hingga akhirnya pingsan.
Juna hanya bisa melihat Anggi dari luar ruang UGD. Para perawat menahannya saat Juna memaksa ingin merangsek masuk. Barata yang sudah hafal sifat keras adik iparnya itu ikut turun tangan menenangkan, berupaya supaya arogansi Juna tidak meletuskan kobaran keributan di rumah sakit.
“Tenanglah, Juna. Yang harus kita lakukan sekarang adalah memercayakan istrimu pada dokter dan timnya, serta berdo’a penuh harap kepada Yang Maha Kuasa, bersemoga istri dan anakmu semuanya baik-baik saja.” Barata meremas bahu Juna guna menenangkan.
“Tapi aku ingin melihat istriku dari dekat, Bang!” seru Juna dengan sorot mata nanar diserbu kekhawatiran hebat.
__ADS_1
“Abang paham. Tapi, kalau kita mengacau, sama sekali tidak menjadi solusi yang bisa membuat Anggi lebih baik. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menunggu dengan tenang sambil berdo’a.”
Tak berselang lama dari kedatangan Juna, akhirnya dokter menyatakan Anggi telah siuman dari pingsannya, seolah jiwa mereka terkoneksi satu sama lain saat pasangannya telah datang, meski Anggi masih lemah dan tak bisa diajak berkomunikasi.
Anggi dalam kondisi tertidur efek dari obat yang diberikan begitu dipindahkan dari UGD ke ruang perawatan. Dokter Raisa menjelaskan bahwa Anggi dan kandungannya masih dalam pemantauan ketat terlebih lagi malam ini. Sebab sempat terjadi pendarahan ringan. Beruntung tidak terjadi pendarahan lanjutan ke tahap yang lebih berbahaya. Jika itu terjadi, maka kemungkinan terburuknya dokter akan mengeluarkan janin dalam kandungan Anggi, sebab pendarahan berkepanjangan akan ikut mengancam nyawa ibu si bayi.
Di ruang perawatan intensif yang didominasi warna broken white, Arjuna duduk diam tanpa suara. Meminta tak mau diganggu dan ingin menunggui Anggi sendiri tanpa ditemani. Marina mengabulkan keinginan Juna kendati semula tak bersedia. Ia sangat cemas akan kondisi Anggi dan ingin ikut terus memantau kondisi menantu juga cucunya. Akan tetapi, sebagai seorang ibu ia dapat memahami sorot mata Juna yang disiksa kekhawatiran dan sedang ingin berdua saja dengan istrinya.
Marina memutuskan menunggu di selasar luar bersama Bik Tiyas, sedangkan Barata membawa Maharani pulang ke rumah Juna karena khawatir dengan kondisi istrinya yang belum bisa diajak bertukar kata.
Kelopak mata Anggi bergerak-gerak membuat Juna tersentak. Dia berdiri cepat, membungkuk lebih dekat dan membelai lembut pipi Anggi.
“Anggita, Sayang,” ucap Juna pelan juga parau.
__ADS_1
Anggi mengerjap. Menyesuaikan pendangannya yang masih membias samar. Kelopak matanya mengedip lagi beberapa kali hingga ruang pandangnya menangkap wajah Juna yang begitu dekat. Menatapnya dengan bola mata mengkilap penuh kecemasan.
“Mas Juna?” cicitnya bingung, karena seingat Anggi, Juna masih berada di luar negeri.
Menangkup kedua sisi pipi Anggi, Juna mengecupi pelan seluruh wajah cantik istrinya yang masih pucat itu. Tak mampu lagi berkata, Juna menjatuhkan kepala di lekukan leher Anggi dan terisak di sana.
Anggi mengerjap bingung saat cairan basah menetes di baju bagian pundaknya. Juna menangis meluapkan segala sesak yang bercokol dalam dada hingga punggungnya berguncang, memeluk Anggi erat, jelas kentara sangat takut kehilangan. Semula Anggi mengira kehadiran suaminya hanya mimpi. Namun, suara Juna yang berucap amat dekat di telinganya membuatnya yakin semua ini adalah nyata bahwa Juna sudah pulang.
“Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku. Hukum aku sesuka hati atas segala keliruku, tapi jangan dengan cara seperti ini. Jika terjadi hal buruk yang merenggutmu juga anakku dari sisiku, maka jiwaku akan mati lagi untuk yang kedua kali,” bisiknya serak tercekat, sarat akan keputusasaan.
Bersambung.
Halo para pembacaku tersayang, semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia di mana pun berada ya. Terima kasih kepada kalian yang selalu mengikuti cerita Anggita-Arjuna. Jangan lupa dukung terus dengan mengapresiasi karya melalui vote, hadiah juga like. Thank you & love you 💜.
__ADS_1
Follow juga akun instagramku untuk mengetahui seputar cerita-cerita yang aku tulis @Senjahari2412.
Happy Monday 💕.