Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 39a


__ADS_3

Istri Arjuna bab 39a


Rintik hujan turun, terjatuh membelai tanah. Berpadu langit gelap yang membungkus, basahnya melingkupi mengundang syahdu. Merayu para penghuni Bumi untuk segera berpasrah melepas penat kala malam kian merayap.


Sudah beberapa hari aktivitas Juna kembali normal. Berangkat ke kantor setiap hari kendati tidak sepagi biasanya dan pulang saat petang atau terkadang malam hari, seperti halnya hari ini. Keresahannya sedikit terobati setelah memasang kamera pengawas tambahan di seluruh sudut rumah juga di kamar utama. Khusus untuk kamera kamar utama, hanya bisa diakses olehnya melalui gawai. Sehingga walaupun Anggi tidak berada dalam jangkauan tangannya, setidaknya masih terpantau mata dalam pengawasannya meski dari jauh.


Tindak tanduk Anggi yang belakangan terlihat mulai lebih memprioritaskan kesehatan diri juga anak yang dikandungnya, mulai memudarkan ketakutan yang kerap menghantui Juna. Dari gerak-gerik istrinya itu, kini tak terendus lagi niatan gila tentang menggugurkan kandungan. Meskipun begitu, Juna tak mengendurkan cekalan pengawasannya, masih belum percaya sepenuhnya pada Anggi. Alih-alih saling bicara dari hati ke hati dan membangun komunikasi, mereka masih saja saling berasumsi masing-masing sehingga overthinking kadang tak terelakkan.


“Ffuh, segarnya.” Juna menggosok sebelah bahunya merasakan hawa sejuk yang menyapa kulit.


Terpaku di ruang ganti masih terbungkus selembar handuk yang melilit rendah di pinggang guna menutupi bagian krusialnya sebagai identitas mutlak pria tulen nan jantan, Juna tampak begitu segar setelah selesai bersua dengan guyuran air yang menyapu kulit menyejukkan jiwa. 

__ADS_1


Selepas beberapa saat mengamati, dia baru menyadari, hampir tiga puluh persen pakaian miliknya tak terlihat lagi eksistensinya di dalam lemari-lemari yang tertanam di dinding ruang ganti. Setelah diperiksa secara saksama, ternyata hanya pakaian berlabel VN Fashion lah yang menghilang.


Juna membuka pintu lemari ke tiga dari tujuh yang ada di sana. Mengacak-acak isinya hingga sebagian berjatuhan ke lantai. Memeriksa semua pakaian yang ada di sana dan hasilnya sama persis dengan nasib lemari lainnya. Pakaiannya yang bermerek VN Fashion nihil tak ditemukan satu potong pun. 


Membuang napas kasar, Juna memejam mencoba meredam pening yang kembali menyerang hingga berdentam di kepala. Baru menyadari penyebab raib pakaiannya setelah memutar otak pada kejadian beberapa hari ke belakang. Teringat di kala Anggi meminta ingin menyingkirkan beberapa akibat merasa mual akibat efek ngidam yang digunakan istrinya itu sebagai alasan.


“Sial. Jangan-jangan semuanya dibuang!” geramnya mulai dilanda emosi. 


Masih hanya terbalut selembar handuk, Juna menuju ke ruang peraduan hendak meminta penjelasan pada Anggi. Kakinya berderap cepat dengan rahang menegang. Tampak di sana, Anggi sedang membenahi tempat tidur seperti yang beberapa malam ini berlangsung, yakni menaruh dua buah guling tepat di tengah-tengah kasur. 


Sisi arogansinya tengah berteriak menuntut diberi asupan setelah mendapati baju-baju favoritnya tak tersisa satu pun. Juna merangsek mendekat dan refleks mencekal lengan Anggi.

__ADS_1


"Anggita!" geramnya dengan gigi gemeletuk.


“Eh, kenapa, Mas?” Anggi agak terkejut, lalu menaruh bantal yang sedang dipegangnya ke atas kasur.


Bukannya menjawab, Juna malah mematung sekarang. Meneguk ludah lantaran tiba-tiba tenggorokannya kelat akibat diserbu pemandangan menggiurkan yang membuatnya seketika terlupa akan kalimat yang hendak diucapkan, seolah tertelan begitu saja.


Anggi lagi-lagi memakai gaun tidur menerawang berenda selutut, hanya saja kali ini lebih mencengangkan. Dari jarak sedekat ini Juna dapat melihat dengan jelas, di balik lingerie ternyata istrinya itu tidak memakai bra. Sehingga dua aset yang menyembul ranum di dalamnya membias dengan puncak menggoda membayang samar. 


“Mas, ada apa?” cicit Anggi sekali lagi. 


Anggi mengibas-ngibaskan tangannya tanpa merasa berdosa. Anggi tahu ke mana arah pandang suaminya itu sekarang dan ia memang sengaja berulah. Membiarkan bagian lekuk daksa indahnya yang paling disukai Juna terekspos. Sedangkan tatapan Juna kini berubah lapar seiring pusat didihnya yang mengeras begitu saja. Sejak pertama kali berdekatan dengan Anggi, Juna merasakan tubuhnya selalu mudah memanas terbakar hasrat. 

__ADS_1


TBC 


__ADS_2