
Istri Arjuna bab 61a
Mual muntah seperti biasa masih melanda sesekali di pagi buta. Juna yang sedang berada di balkon kamar vila tengah bertukar kata dengan Pandu melalui telepon, menyudahi percakapan saat telinganya menangkap suara Anggi dari kamar mandi. Suara mual muntah yang sudah akrab menyapa pagi harinya.
Juna membantu Anggi membasuh mulut juga mengambilkan handuk. Telaten menemani di kamar mandi sampai Anggi merasa lebih baik.
“Apa sangat menyiksa?” tanya Juna khawatir, ikut duduk di tepi tempat tidur bersebelahan dengan Anggi.
Anggi menggeleng. “Enggak kok, Mas. Semakin ke sini morning sicknessku semakin bekurang. Hanya sesekali saja terasa. Oh iya, semalam, Mami menghubungi. Mbak Rani sudah kembali ke rumah besar kalau Mas ingin bicara padanya. Tapi aku mohon, jangan terbawa emosi. Bicaralah dengan intonasi rendah dan kepala dingin. Ingat, Mbak Rani tetap kakakmu mau seperti apa pun dirinya. Pikirkan Mami dan Papi dalam hal ini, betapa sedihnya mereka menyaksikan anak-anak yang disayanginya terus berselisih.”
Juna mengusap ubun-ubun Anggi penuh sayang. “Aku tahu. Dasar ibu hamil bawel,” ujarnya gemas sambil mencubit pipi istrinya itu.
Sejak dua hari yang lalu, Anggi terus saja membahas hal yang sama hingga telinga Juna nyaris terasa panas. Pria tampan berambut hitam legam itu hanya terkekeh saat Anggi mencerocos tak henti.
Bukan tanpa alasan, Anggi amat khawatir sang suami kembali terbakar amarah saat bertemu muka lagi dengan si kakak ipar, seperti yang terjadi terkahir kali.
“Aku serius, Mas!” Anggi merengut sebal dan Juna malah sengaja mengecup bibirnya yang mengerucut.
“Ish, ini bukan lelucon,” kesalnya lagi.
__ADS_1
“Iya, iya. Akan kuusahakan. Kita ke sana setelah sarapan.”
Sejak kemarin sore, Maharani kembali ke rumah orang tuanya. Barata sudah menahan istrinya itu menggunakan berbagai cara yang malah berakhir dengan pertengkaran.
Semula dia membiarkan Maharani pergi di antar sopir saja. Akan tetapi, ternyata dia malah merasa semakin khawatir, karena istrinya itu terlihat tidak baik-baik saja saat berteriak padanya. Padahal setelah peleburan beberapa hari lalu, Maharani sedikit melunak dan lebih tenang.
Jum’at pagi ini, Barata mampir sebentar ke kediamannya untuk mengambil beberapa kelengkapan kerja terkait urusan perusahaan. Saat dia hendak kembali membuka pintu kendaraannya, sebuah mobil tak familiar memasuki halaman rumahnya.
Barata mengernyit, rumahnya kedatangan tamu tak biasa. Di pagi hari pula. Yang datang adalah Lalita, dokter kandungan yang sudah dua tahun ini banyak menangani konsultasi istrinya. Bukan hanya dokter, tapi juga teman semasa Maharani di sekolah menengah atas.
“Pak Bara, apa Rani ada di rumah?” tanyanya gugup saat mendapati yang menyambutnya bukan orang yang dicarinya.
Barata menarik napas berat. “Istri saya ada di rumah orang tuanya. Seperti biasa, Rani merengek ingin kembali tinggal di sana,” jawabnya.
“Ah, begitu rupanya. Ya sudah, saya akan menunggu saja sampai Rani mampir ke klinik. Saya pergi dulu,” ucapnya kikuk. Terburu-buru berpamitan.
Namun, Bara menahannya saat menangkap hal lain dari raut wajah Lalita.
“Tunggu Dokter Lita. Kalau boleh tahu, ada apa mencari Rani sampai repot-repot datang ke rumah? Kalau bukan hal penting, tidak mungkin Anda sampai menyambangi kediaman pasien. Kalian memang berteman, tapi setahu saya, Rani dan Anda sangat jarang bertemu di luar urusan konsultasi program kehamilan,” cecar Barata penasaran. Nada bicaranya setengah mendesak.
__ADS_1
“Oh, I .. itu, be-gini, saya hanya hendak menyampaikan tentang perubahan jadwal konsultasi. Tapi, berhubung ponsel Rani tidak bisa dihubungi, jadinya saya memutuskan mampir sebelum berangkat bekerja,” jawabnya gugup.
Barata memaku tatapannya membuat dokter Lalita menjadi rikuh. Wanita berjas putih itu menggulirkan pandangan ke sembarang arah yang penting tidak bersirobok dengan netra Barata. Resah juga gelisah mirip maling yang kepergok ketahuan mencuri.
“Dokter Lita. Apa ada hal yang Anda sembunyikan dari saya?” tanya Barata dengan sorot mata menelisik.
Dokter Lita meremas jemari. “Oh, ti-tidak,” elaknya dengan bibir sedikit gemetar.
Barata yang menangkap bahasa tubuh mencurigakan tidak percaya begitu saja.
“Saya adalah suami pasien, sebaiknya Anda berterus terang. Sebetulnya apa yang ingin Anda sampaikan pada Rani?” Barata menahan si dokter, tidak membiarkannya berkelit saat menangkap hal aneh dari air muka dokter tersebut.
“Tolong dokter. Beritahu saya, sebenarnya ada apa dengan Rani? Saya juga sebetulnya ingin berkonsultasi panjang lebar dengan Anda, tapi Rani selalu melarang. Apa suntikan hormon yang diterima Rani secara berkala memiliki efek samping berbahaya? Itu yang ingin saya tanyakan. Karena semenjak mengikuti terapi suntik hormon, emosi Rani dari hari ke hari mudah sekali meledak, tak terkendali,” cecar Barata bersikukuh ingin tahu.
Dokter Lalita tampak kebingungan. Tertunduk lebih dari dua menit lamanya dan hanya terdiam. Barata tetap menanti jawaban dokter tersebut, tak beranjak seinci pun dari tempatnya berdiri.
Dokter Lita mengangkat kepala dan kemudian kembali bersuara.
“Pak Bara, hal tentang itu juga lah yang sebenarnya ingin saya sampaikan pada Rani. Ingin membujuknya untuk berhenti melakukan suntik hormon. Emosinya akan semakin tidak stabil jika diteruskan. Lagi, ada hal yang sangat penting dan saya kira sudah saatnya Anda tahu, tentang hal yang Rani simpan selama ini. Sebagai suaminya, Anda memang berhak tahu supaya bisa ikut membujuknya. Bisa kah kita bicara di klinik saya? Saya ingin menunjukkan sesuatu. Tentang Rani.”
__ADS_1
Barata terhenyak. Tercengang sejenak bercampur terkejut sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan dengan cepat.
Bersambung.