Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 74b


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 74b


Mercy hitam milik Juna melaju membelah jalanan basah di perjalanan pulang. Pak Oman mengemudikannya dengan kecepatan sedang demi keselamatan. Hujan sudah reda, tetapi jejak-jejaknya masih tersisa, jalanan menjadi lebih licin dan yang berlubang dipenuhi genangan air.


"Anak Papa di dalam sana baik-baik saja?" Juna mengusap perut Anggi, menunduk dan mencium perut bulat itu penuh kasih sayang.


"Pasti senang kan, sudah Papa jenguk?" sambung Juna lagi yang dihadiahi cubitan dari Anggi di lengan kekarnya.


"Mas! Masa ngobrol sama baby boy begitu sih? Enggak malu apa?" protes Anggi. Memelotot dengan pipi merona malu. "Lagian di depan ada Pak Oman!" bisik Anggi geram.


"Aku hanya bicara fakta," ujar Juna terkekeh gembira, malah mencolek hidung Anggi gemas bukannya berhenti.

__ADS_1


Raut wajah Juna begitu cerah setelah beberapa saat lalu mereguk madu asmara ditambah makan malam romantis. Mengendurkan segala ketegangan, baik raga mau pun jiwanya. Sudah cukup siap mengontrol emosi untuk bertatap muka dan bicara dengan Maharani.


Kembali menegakkan punggung, Juna merangkul Anggi dalam pelukan.


"Lain kali kita harus kencan seperti ini lagi. Aku suka sekali," ucap Juna seraya mengecup pipi mulus wanita di dekapannya. Andai pipi Anggi bisa bicara, mungkin dia akan marah karena terus saja diciumi, untung saja tidak sampai lecet.


"Kencan macam apa ini? Menonton bioskop yang berakhir dengan terdampar di hotel," Anggi menoleh dan memicing.


"Ini namanya kencan pasangan halal. Memang benar apa kata orang-orang, pacaran setelah menikah itu lebih nikmat dan leluasa. Aku ingin berkencan lebih sering, seminggu tiga kali bila perlu."


Pukul delapan tiga puluh malam mobil mereka memasuki gerbang pagar yang telah digeser pintunya. Anggi membuka pintu mobil setelah kendaraan terparkir sempurna di garasi dan Juna sigap menggandeng istrinya memasuki kediaman mereka yang disambut Bik Tiyas di teras.

__ADS_1


Langkah Anggi terhenti begitu sampai di ruang tamu. Cukup terkejut saat mendapati sosok si kakak ipar yang ditemani suaminya duduk di ruang tamunya. Berbeda dengan Juna yang tampak tidak kaget lagi karena memang sudah mengetahui perihal kedatangan kakaknya. Juna sengaja tidak memberitahu Anggi sebelumnya sebab tidak mau suasana hati istrinya yang sedang hamil itu menjadi buruk jika mengetahui dari awal.


Mengeratkan genggaman di tangan Juna, Anggi mencoba mengendalikan rasa tidak nyaman yang dirasakan. Rasa tak menyenangkan yang selalu menyeruak ke permukaan setiap kali Maharani ada di dekatnya. Bukan tanpa alasan, lantaran sejak pertama ia menikah dengan Juna, kakak iparnya itu selalu menunjukkan kobar permusuhan padanya.


"Kalian pulang juga akhirnya. Bagaimana kabarmu Anggi, Juna?" tanya Barata yang berdiri menghampiri.


"Kabar kami baik, Bang." Juna menjawab cepat yang diangguki Anggi pertanda setuju tanpa memindahkan fokus matanya dari Maharani. Menatap kakak kandungnya itu dengan sorot dingin penuh antisipasi.


Maharani menyusul berdiri. Ikut mendekat sembari mengulas senyum. "Tadinya kami mau berpamitan pada Bik Tiyas dan kembali besok pagi saja, ada hal penting yang ingin kusampaikan pada kalian," ucapnya lemah lembut membuat Anggi keheranan dengan intonasi langka kakaknya itu.


"Naiklah dulu dan beristirahatlah, ibu hamil diharuskan rehat lebih awal," bisik Juna ke telinga Anggi yang masih bisa terdengar Maharani.

__ADS_1


"Tunggu," tukas Maharani cepat. "Begini, kalau kamu enggak keberatan, sebetulnya aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu,, Anggi. Bukan cuma pada Juna."


Bersambung.


__ADS_2