Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 36a


__ADS_3

Istri Arjuna bab 36a


Tempat tidur luas, mewah juga empuk yang merupakan ranjang peraduan di kamar besar Juna kini berubah tatanan tidak seperti keseharian. Dua buah guling ditaruh memanjang di tengah-tengah. Menyekat antara sisi kanan dan kiri ranjang.


Juna yang asalnya hendak naik ke atas kasur, malah terdiam sambil menggaruk tak gatal ujung hidung mancungnya. Menyapu mata pada keanehan yang terjadi di ranjang. Tak sampai di situ, saat pintu kamar mandi terbuka, sosok yang keluar dari sana membuat Juna tercengang semakin keheranan. Mendadak tenggorokannya kerontang, jakunnya naik turun sebab menelan ludah.


Anggi keluar dari kamar mandi berbalut lingerie putih di bawah lutut. Selama ini Anggi sangat jarang memakai gaun tidur seksi, karena Juna justru lebih sering memintanya memakai gaun-gaun rancangan VN Fashion jika hendak naik ke peraduan.


Gaun tidur yang dipakai Anggi kali ini memang tidak masuk dalam hitungan pendek karena membungkus tubuh hingga lutut terlewati sekitar sepuluh senti panjangnya. Namun, bukan itu masalah yang membuat Juna tiba-tiba bergeming disertai saluran napas yang terasa menyempit. Gaun tidur warna putih tersebut amat tipis menerawang, sehingga dalaman warna putih berenda senada dengan gaunnya yang dipergunakan untuk melindungi aset berharga istrinya itu ikut membias.


Kaki jenjang Anggi mengayun santai menuju meja rias. Melakukan rutinitas perawatan kulit di malam hari seperti mengaplikasikan skin care dan yang lainnya. Ia juga menyisir rambut sepunggungnya yang tergerai indah dengan gerakan gemulai. Mengumpulkan semua rambutnya di sisi kiri saat menggulirkan sisir, membiarkan tengkuk putih mulusnya terekspose. Juna terus terpaku mengamati gerak-gerik istrinya yang baginya terasa aneh, bahkan Anggi sesekali terdengar bersenandung pelan.


Melalui sudut mata, Anggi juga merasa dirinya tengah diamati lekat-lekat dan memilih mengabaikannya karena memang itulah tujuannya. Ingin sedikit saja menyiksa suaminya itu, anggap saja sebagai pembalasan kecil.


Selesai dengan ritual perawatan kulitnya, si cantik berdagu terbelah indah itu melenggang santai. Naik ke kasur dan menepuk-nepuk bantal. Menarik selimut yang terlipat di ujung ranjang, lalu melirik Juna yang tengah memaku pandangan padanya dengan sorot penuh tanya.

__ADS_1


“Kenapa Mas berdiri di situ? Enggak ngantuk?” tanya Anggi yang memasang raut polos.


Juna tersentak dari keterpakuannya. Mendadak salah tingkah, seumpama maling jemuran kepergok hansip.


“Ehm, ehm. I-ini, apa?” Juna menunjuk dua guling yang berjejer memanjang di tengah tempat tidur.


“Hah? Itu guling. Masa yang begitu saja Mas tidak tahu?” imbuh Anggi kemudian.


“Aku juga tahu kalau benda ini namanya guling!” Juna sedikit berdecak kesal. “Tapi maksudku ini kenapa ditata begini?”


“Aku belum pikun, Anggita!” Juna mendengus.


“Nah, itu ingat,” sambar Anggi cepat.


“Dan juga kenapa tiba-tiba gaya berbusanamu jadi berbeda?” Juna menjatuhkan kilat matanya pada lekuk indah daksa Anggi yang mengintip dari balik gaun tipis itu. Jujur saja, pemandangan menggiurkan di hadapannya membuat darahnya berdesir, jantungnya memompa lebih cepat direcoki testosteron yang mengalir deras.

__ADS_1


Anggi menurunkan pandangan menilik dirinya sendiri, lalu kembali mengangkat wajah dan menatap Juna tanpa merasa berdosa. “Oh ini, tadi sore aku baru teringat memiliki beberapa gaun seperti ini dari kado-kado pernikahan. Lagi pula akhir-akhir ini aku sering merasa kegerahan, jadi kurasa gaun model begini bisa membuat tidurku lebih nyaman. Aku mau tidur duluan ya, Mas. Udah ngantuk, terus perutku juga agak keram.”


Anggi berpura-pura menguap disusul sedikit meringis sambil mengusap perutnya. Membaringkan dirinya memunggungi. Birai bibirnya menahan mulutnya supaya tidak terbahak. Puas telah berhasil mengerjai suaminya. Juna pasti sudah tersulut hasrat, terbukti dari gundukan titik didih suaminya itu yang tampak mulai menyembul. Akan tetapi Anggi yakin, Juna tidak akan berani menerjangnya sesuai saran dokter, terlebih lagi dengan alasan perut yang terasa keram.


Juna mengacak rambutnya frustrasi. Isi kepalanya berkecamuk, ternyata perkataan Dokter Raisa tentang meluaskan rasa sabar dalam menghadapi wanita hamil yang terkadang cenderung menjengkelkan memang benar adanya. Istrinya yang dulu lebih banyak patuh, kini malah memprovokasi. Dokter memperingatkannya untuk tidak sering meleburkan diri dulu demi kebaikan buah hatinya yang masih berada dalam fase rentan. Hanya saja punggung mulus istrinya itu seolah sedang mengolok-oloknya sekarang.


Juna naik ke atas kasur dan mencoba menenangkan pikiran. Demi si janin darah dagingnya, Juna mengikat kuat-kuat geliat arogansi yang biasanya dibiarkan berlarian bebas.


Rasa jengkel lain melingkupi saat melirik guling yang menjadi pemisah wilayah tidur. Juna mendadak benci kepada penemu yang menciptakan guling di dunia ini. Ingin rasanya mencampakkan dan menendangnya.


Dia menarik dan membuang napasnya setengah meniupnya kencang. Otaknya dipaksa berpikir rasional kendati pusat tubuhnya tak bersedia berkompromi. Malah terasa semakin penuh sesak saja. Mendidih ingin terbebas. Namun, teringat akan pesan dokter ditambah Anggi yang mengeluhkan perutnya tak nyaman, Juna tak punya pilihan lain selain mati-matian menahan gelegak yang kini menyiksa dan mendesak hingga ke ubun-ubun.


“Sial!” umpatnya kesal dalam hati .


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2